DI era globalisasi, mendalami bahasa ibu dianggap kurang penting bahkan menjurus dipandang sebelah mata. Padahal, bahasa ibu merupakan hal pertama yang dipelajari seseorang yang kemudian menjadi bagian dari jati dirinya.
Bahasa Indonesia, meskipun menjadi bahasa nasional, bukanlah bahasa ibu bagi seluruh warga Indonesia. Nusantara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan suku punya tak kurang dari 748 bahasa daerah yang jadi bahasa ibu.
Dalam perkembangan kebahasaannya, bahasa daerah sebenarnya menjadi rujukan atau sumber untuk pengayaan kosakata bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang kita kenal tak sedikit mengakomodasi kosakata bahasa daerah.
Bahasa Jawa yang punya penutur terbanyak jadi penyumbang kosakata terbanyak untuk bahasa Indonesia. Lebih dari 1.000 kosakata bahasa Jawa masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lema langka, ampuh, dan lugu merupakan contoh bahasa Jawa yang memperkaya bahasa nasional kita.
Lema lain, seperti imbau, acuh, dan gigih ternyata diserap dari bahasa Minangkabau. Sementara itu, bahasa Sunda memberikan sumbangan kosakata seperti nyeri, mending, dan meriang.
Sebagai rujukan, bahasa daerah tetap diutamakan dalam memadankan istilah asing sehingga kosakata bahasa Indonesia tetap memadai dan mengikuti perkembangan zaman. Itulah yang terjadi ketika teknologi digital mulai berkembang. Sejumlah istilah teknologi pun dipadankan dengan lema asli Indonesia yang berasal dari bahasa daerah. Kata upload dan download contohnya. Keduanya dipadankan dengan kata unggah (upload) dan unduh (download). Keduanya diambil dari kosakata bahasa Jawa.
Ada juga kata gadget yang kemudian berpadanan dengan kata gawai yang diserap dari bahasa Melayu klasik. Bahkan kata browser pun sudah dipadankan dengan kata peramban yang juga diambil dari lema bahasa Jawa yang berarti mencari-cari. Jadi lain kali jika Anda sedang browsing, Anda bisa menyebut diri tengah meramban.
Kosakata bahasa ibu nyatanya tidaklah usang.
Sosok penutur bahasa ibu bisa membuat bahasa daerah kembali 'dilirik' sebagai bahasa yang juga menarik untuk digunakan. Sebut saja Presiden Joko Widodo yang merupakan seorang penutur bahasa Jawa.
Sebagai penutur bahasa Jawa, Jokowi tak jarang beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa ibu. Istilah 'blusukan' kini jadi amat populer setelah Jokowi kerap menggunakannya sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan publik. Kosakata bahasa Jawa itu berarti masuk ke suatu tempat yang jarang dikunjungi secara berulang-ulang. Sekarang ini, siapa sih politisi yang enggak pakai istilah blusukan saat kunjungan kerja?
Pak Jokowi ialah salah satu contoh bahwa berpegang dan tetap mempertahankan bahasa ibu dalam ujaran sehari-hari bukanlah hal yang tabu. Bahkan, tetap mempertahankan bahasa ibu akan mempertebal kecintaan kita kepada Tanah Air.
Kalau Pak Jokowi saja mau berbahasa ibu, masak kita enggak?

