Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Awas! Kertas Cokelat Pembungkus Makanan Bisa Picu Masalah Seksual

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 11 Desember 2017
Awas! Kertas Cokelat Pembungkus Makanan Bisa Picu Masalah Seksual

Pakailah wadah yang memiliki label BP free agar aman untuk kesehatan Anda. (foto: Youtube)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PEMBUNGKUS makanan dari kertas cokelat amat mudah ditemukan di mana-mana. Bagi Anda pekerja kantoran tentu tak asing lagi dengan pembungkus berwarna cokelat itu.

Namun tahukah Anda, di balik kepraktisan pembungkus makanan berwarna cokelat itu, ada bahaya kesehatan yang mengintai. Pasalnya, sejumlah penelitian menemukan bahwa kertas pembungkus makanan tersebut mengandung BPA yang diyakini berbahaya bagi tubuh.

BPA atau bisphenol A adalah bahan kimia yang sering digunakan sebagai bahan pembuat wadah makan, bukan hanya plastik, tetapi juga kertas. Seperti dikutip dari Hellosehat, Kurunthachalam Kannan, PhD, seorang ilmuwan riset di New York State Department of Health, menyatakan BPA juga terkandung pada kertas pembungkus makanan dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi.

Kadar BPA tinggi pada umumnya terdapat dalam kertas pembungkus makanan yang merupakan hasil daur ulang. Bubuk BPA digunakan untuk melapisi kertas supaya lebih tahan terhadap panas. Selain pada kertas pembungkus makanan, BPA juga sering terdapat pada tisu toilet, kertas koran, kertas struk belanja, maupun tiket.

Bahaya buat kessehatan

Saat BPA masuk ke tubuh, zat tersebut dapat meniru fungsi dan struktur hormon esterogen. Karena kemampuannya tersebut, BPA dapat memengaruhi proses tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi, dan reproduksi. Selain itu, BPA memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan reseptor hormon lainnya, seperti reseptor hormon tiroid.

Sampai saat ini, banyak pakar kesehatan yang masih mempertanyakan perihal keamanan BPA. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan sudah membatasi penggunaan BPA.

Healthline melansir 92% penelitian independen menemukan dampak negatif penggunaan BPA pada kesehatan.

Sejauh ini, para pakar kesehatan menduga bahwa BPA dapat memunculkan beragam efek negatif, semisal:

  • Risiko keguguran meningkat tiga kali lipat pada perempuan hamil yang terpapar BPA. Selain itu, perempuan usia subur yang terpapar BPA dilaporkan mengalami penurunan produksi sel telur sehat dan berisiko dua kali lebih tinggi untuk sulit hamil.
  • Pada pasangan yang menjalani program bayi tabung, pria yang terpapar BPA berisiko hingga 30%-46% akan menghasilkan embrio berkualitas rendah karena jumlah sperma rendah.
  • Pria pekerja pabrik manufaktur BPA di Tiongkok dilaporkan mengalami kesulitan ereksi dan sulit orgasme hingga 4,5 kali lipat daripada pria yang tidak bekerja di pabrik BPA.
  • Anak yang lahir dari ibu dengan paparan BPA tinggi ditemukan lebih hiperaktif, agresif, serta rentan cemas dan depresi.
  • Paparan BPA pada pria meningkatkan risiko kanker prostat dan kanker payudara pada wanita, karena BPA memengaruhi perkembangan prostat dan jaringan payudara.

Namun, studi mengenai keamanan BPA dan dampaknya terhadap tubuh masih perlu dikembangkan. Bagaimanapun, tidak ada salahnya mencegah dampak negatif zat kimia bagi tubuh Anda dengan cara menghindarinya, ya kan?

Solusi terbaik, bawala selalu tempat makan dan minum yang bebas BPA dari rumah. Aman bagi kesehatan, baik bagi lingkungan.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan