Peduli Autisme

Autisme, Gangguan Pekembangan yang Kerap Disalahartikan

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 09 April 2018
Autisme, Gangguan Pekembangan yang Kerap Disalahartikan

Bukan penyakit, autisme adalah gangguan perkembangan. (foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APRIL menjadi bulan yang spesial bagi mereka yang hidup dengan autisme. Autis di seluruh dunia mendapat perhatian khusus di bulan ini karena April ditetapkan sebagai Bulan Kesadaran Autisme. Meskipun demikian, tak sedikit yang menyalahartikan autisme sebagai sebuah penyakit berbahaya.

Seperti dikutip dari laman Yayasan Autisma Indonesia, autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif itu terjadi pada aspek neurobiologis otak dan memengaruhi proses perkembangan anak.


Gangguan itu membuat sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, ia terlihat seolah-olah hidup dalam dunia sendiri.

Autisme bermanifestasi dalam sejumlah gejala yang bisa diperhatikan pada anak. Gangguan interaksi ialah salah satu gejala yang nyata tampak. Selain itu, autis juga memiliki kecenderungan gangguan komunikasi verbal yang berusaha diatasi dengan kemampuan komunikasi nonverbal. Tak hanya dalam hal komunikasi, gejala autisme juga tampak pada perilaku repetitif yang terbatas pada pola minat dan aktivitas yang berulang-ulang.

Meskipun gejalanya mudah diamati, diagnosis autisme harus dilakukan setelah dilakukan sejumlah tes khusus untuk menilai gangguang perkembangan tersebut.

autisme
April menjadi Bulan Kesadaran Autisme. (foto: pixabay)

Tak seperti penyakit yang bisa ditelusuri penyebabnya, kemunculan autisme yang merupakan gangguan perkembangan itu belum diketahui penyebabnya hingga kini. Beberapa penelitian di negara-negara maju menyiratkan bahwa autisme timbul sebagai kombinasi antara faktor genetik dan berbagai paparan negatif dari lingkungan sekitar.

Seperti dikutip dari Time, sekitar 1% dari populasi dunia ialah autis. Jumlah itu disebutkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Untuk itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi 2 April sebagai Hari Kesadaran Autisme sejak 2007. Tujuannya, membangun kesadaran umum tentang autisme. Tak hanya itu, April pun kemudian jadi bulan untuk mengampanyekan kesadaran akan gangguan perkembangan ini.

Tahun ini, PBB memfokuskan Bulan Kesadaran Autisme pada pemberian dukungan kepada perempuan dan gadis muda yang didiagnosis dengan autisme.

"Pada 2018 ini akan berfokus kepada pentingnya pemberdayaan perempuan dan gadis muda yang hidup dengan autisme. Selain itu, amat penting melibatkan mereka dan perwakilan mereka di berbagai organisasi pembuat kebijakan untuk membuat aturan yang peduli terhadap tantangan yang mereka hadapi," ujar pernyataan yang dimuat di laman PBB.

Yuk, lebih peduli lagi dengan para autis di sekitar Anda.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan