MerahPutih.com - Pemain yang menutup mulut saat berhadapan dengan lawan akan dikeluarkan dari lapangan pada Piala Dunia 2026
FIFA mengusulkan sanksi setelah penyerang Real Madrid, Vinicius Junior mengatakan, bahwa ia dilecehkan secara rasial oleh pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Prestianni menutup mulutnya saat berbicara dengan pemain Brasil itu selama pertandingan Liga Champions pada Februari 2026 lalu.
Vinicius tampak sangat kesal setelah komentar tersebut dan segera memberi tahu wasit, sehingga pertandingan dihentikan selama 10 menit sesuai peraturan UEFA.
Baca juga:
Italia Tegas Tolak Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, Sebut tak Masuk Akal
FIFA Perketat Aturan di Piala Dunia 2026
Insiden serupa di Piala Dunia 2026 akan berujung pada kartu merah, setelah aturan diperkuat dengan kesepakatan bulat dalam pertemuan para pembuat aturan sepak bola, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), di Vancouver, British Columbia, pada Selasa (28/4) waktu setempat.
Pernyataan IFAB yang menguraikan perubahan aturan tersebut berbunyi: "Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontasi dengan lawan dapat dikenai sanksi kartu merah."
UEFA mengumumkan, bahwa bahwa Prestianni telah dijatuhi hukuman larangan bermain enam pertandingan terkait insiden tersebut karena perilaku diskriminatif yang bersifat anti-gay.
Kemudian, tiga pertandingan ditangguhkan selama dua tahun dan satu pertandingan telah dijalani secara sementara. Sanksi tersebut masih dapat diajukan banding.
Baca juga:
Lamine Yamal Dipastikan Absen Bela Barcelona hingga Akhir Musim, Comeback di Piala Dunia 2026
FIFA menyampaikan gagasan untuk memberlakukan sanksi bagi pemain yang menutupi mulut mereka pada pertemuan umum tahunan IFAB di Wales pada Februari 2026, tak lama setelah insiden tersebut terjadi.
Sehari setelah pertemuan tersebut, Presiden FIFA, Gianni Infantino mengatakan, bahwa ia berpikir kartu merah harus diberikan ketika pemain berkonfrontasi dengan lawan sambil menutupi mulut mereka.
Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai protes terhadap keputusan wasit dan ofisial yang menghasut pemain untuk melakukan hal tersebut, juga akan menghadapi pengusiran langsung di final musim panas ini.
Tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan, pada prinsipnya akan dinyatakan kalah.
Baca juga:
Superkomputer Prediksi Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Ungguli Prancis dan Inggris
Piala Afrika Jadi Penyebab Aturan Baru Piala Dunia 2026 Diterapkan
Perubahan ini menyusul adegan kacau selama final Piala Afrika pada Januari 2026 lalu, ketika para pemain Senegal meninggalkan lapangan setelah Maroko mendapat penalti di menit-menit akhir waktu tambahan.
Tindakan mereka menunda pertandingan selama 17 menit, kemudian Senegal keluar sebagai pemenang setelah Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti dan pertandingan berlanjut ke waktu tambahan.
Namun, Senegal dicabut gelar juaranya oleh dewan banding Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). CAF akhirnya membatalkan hasil tersebut bulan lalu dan memberikan trofi kepada Maroko.
Senegal mengajukan banding atas keputusan tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). (sof)