Hari Kebangkitan Nasional

Asian Games 2018, Pertaruhan Buah Reformasi Kebangkitan Olahraga Nasional

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Minggu, 20 Mei 2018
Asian Games 2018, Pertaruhan Buah Reformasi Kebangkitan Olahraga Nasional

Presiden Joko Widodo mengenakan jaket Asian Games berpose dengan pengurus OSIS SMA berprestasi se-Indonesia ketika menerima kunjungan di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/5). ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Tahun 2018 menjadi momentum kebangkitan olahraga Indonesia. Indonesia mendapat kesempatan langka kembali dipercaya menggelar Asian Games, pesta olahraga terbesar se-Asia, setelah terakhir menjadi tuan rumah 56 tahun silam.

Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games pada 1962 ketika masa kepemimpinan Presiden Soekarno.Dan kini, setelah melalui beberapa kali pergantian kepemimpinan hingga memasuki era reformasi, ditandai dengan runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998, Indonesia kembali mendapat kesempatan langka untuk menggelar Asian Games.

Target Masuk 10 Besar

asian games
Pekerja melakukan perawatan rumput lapangan Stadion Pakansari, Bogor. Stadion itu merupakan salah satu venue Asian Games 2018 mendatang. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Wapres Jusuf Kalla selaku Ketua Tim Pengarah Asian Games 2018 sudah mencanangkan target sukses penyelenggaraan dan juga sukses prestasi olahraga nasional. Indonesia ditargetkan bisa masuk peringkat 10 besar dalam Asian Games di negeri sendiri.

Menjelang pelaksanaan Asian Games yang tinggal kurang dari tiga bulan lagi, selayaknya jika ada sejumlah catatan prestasi olahraga yang bisa dibanggakan pada tahun ini, untuk menegaskan bahwa olahraga Indonesia sedang bangkit dan mampu meraih target 10 besar Asia. Sayangnya, belum banyak momentum prestasi olahraga yang bisa membanggakan menjelang Asian Games 2018.

Bahkan, jika ditarik lagi ke belakang, dalam dua dekade terakhir atau 20 tahun berjalannya era reformasi sejak 1998, lebih banyak kabar mengenai kegagalan dan penurunan prestasi olahraga Indonesia di tingkat dunia.

Sejak menjadi runner up saat jadi tuan rumah 1962, peringkat terbaik Indonesia adalah urutan keenam di Asian Games Bangkok 1966 dan New Delhi 1982. Selanjutnya, Indonesia terus terlempar dari 10 besar Asia, dan terakhir di Asian Games Incheon 2014 kontingen Merah-Putih harus puas di peringkat umum ke-17.

Promosi Asian Games 2018. Foto: ANTARA

Di tingkat Asia Tenggara, pada perhelatan SEA Games, Indonesia sulit menduduki peringkat umum teratas, kecuali saat menjadi tuan rumah pada 2011. Selebihnya, Indonesia harus mengakui kemajuan olahraga yang dicapai negara tetangga. Terakhir pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Indonesia bahkan terpuruk di urutan kelima, di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Pada cabang paling populer, sepak bola, pada era reformasi ini pun tidak banyak catatan prestasi emas yang bisa dibanggakan dalam 20 tahun terakhir, kecuali keberhasilan Timnas U-19 menjuarai Piala AFF 2014. Padahal, makin banyaknya fasilitas pendukung olahraga yang dibangun pada era reformasi ini, idealnya bisa mendongkrak prestasi sepakbola Indonesia.

Diselamatkan Bulu Tangkis

Marcus
Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di babak kedua India Open 2018. (Foto: PBSI)

Cabang bulu tangkis mungkin bisa menjadi penghibur jika berbicara prestasi olahraga Indonesia pada era reformasi. Setidaknya, sejak Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996, cabang bulu tangkis dalam 20 tahun terakhir dapat mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Sydney 2000, Athena 2004, Beijing 2008, dan Rio de Janeiro 2016.

Namun, persaingan ketat dalam perbulutangkisan dunia membuat Indonesia tidak bisa lagi mendominasi cabang olahraga ini. Contohnya dalam kejuaraan Piala Thomas, yang menjadi barometer kekuatan suatu negara pada cabang bulu tangkis beregu putra dunia.

Indonesia sudah 13 kali meraih trofi Piala Thomas, terakhir 2002. Setelah itu, tim bulu Indonesia sulit untuk bisa meraih kembali lambang supremasi tersebut. Tahun ini, pada Piala Thomas yang digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei, Indonesia kembali mencoba bangkit untuk meraih juara, setelah pada dua tahun lalu hanya menjadi finalis.

asian games
Petugas PPSU membuat mural bertema Asian Games di kawasan Kebagusan, Jakarta, Rabu (16/5). Foto: Antara

PBSI sendiri sudah mencanangkan target bagi tim bulu tangkis putra Indonesia tahun ini, yakni meraih kembali trofi Piala Thomas yang sudah 16 tahun berada di negara lain. Pada Minggu, 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Kevin Sanjaya/Marcus Gideon dan kawan-kawan akan memulai pertandingan pertama Piala Thomas melawan Kanada.

Selain dari cabang bulu tangkis, masyarakat Indonesia tampaknya harus sabar menunggu buah reformasi prestasi atlet di berbagai bidang olahraga. Berbagai perubahan seiring dengan bergulirnya era reformasi telah dijalankan. Mulai dari terbitnya Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional pada 2005 hingga semangat reformasi di bidang olahraga jelang pelaksanaan Asian Games 2018.

Pangkas Birokrasi Penghambat Prestasi

Menpora Imam Nahrawi. Foto: Bagus/Kemenpora

Kemenpora pun berani memangkas birokrasi yang selama ini menjadi kendala bagi pembinaan cabang-cabang olahraga. Pengelola cabang olahraga kini bisa langsung mendapat dana bantuan dari pemerintah untuk menjalankan pelatnas Asian Games tanpa melalui birokrasi yang berbelit.

"Birokrasi harus lebih fleksibel dan terbuka, pemerintah tetap berkomitmen untuk memangkas birokrasi organisasi olahraga di Indonesia menyusul rencana penghapusan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima)," kata Menpora Imam Nahrawi, terkait penghapusan salah satu unit di kementeriannya untuk mempermudah pengurusan pendanaan bagi cabang-cabang olahraga yang disiapkan untuk Asian Games 2018.

INASGOC
Ketua INASGOC Erick Thohir. Foto: Antara

Dalam penegakan hukum, panitia penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC), seperti dilansir Antara, telah menyatakan tekad untuk menerapkan administrasi yang bersih dari korupsi. "Kami telah menggandeng pihak TP4P Kejaksaan Agung dalam pengadaan barang dan jasa di INASGOC. Hal ini tak lain demi menjaga akuntabilitas dan transparansi," kata Ketua Umum INASGOC Erick Thohir.

Pada Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus hingga 2 September mendatang, diharapkan buah kerja keras era reformasi ini dapat dipetik, berupa penyelenggaraan yang sukses, keberlanjutan manfaat ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat, dan tentunya kebanggaan jika para atlet Indonesia berhasil meraih juara. (*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me
Bagikan