Analisa: Di Balik Kemenangan Besar Liverpool
Para pemain Liverpool yang berselebrasi saat menjebol awang FC Porto. (Zimbio)
LIVERPOOL luar biasa. Tim asuhan Jurgen Klopp itu sukses membantai FC Porto lima gol tanpa balas saat bertandang ke Stadion Dragao, Kamis (15/2) Wib.
Dengan hasil laga pertama 16 besar Liga Champions ini, Liverpool bisa dikatakan mendapatkan satu tempat di perempat final. Berutang lima gol tandang, rasanya sulit bagi FC Porto membuat kejutan atau keajaiban pada laga kedua di Anfield.
Penampilan Liverpool tentu sangat memuaskan bagi sang manajer, Jurgen Klopp. Dalam pertandingan tersebut, anak asuhnya praktis memenangi pertarungan penting di lini tengah. Tak hanya itu, pasukannya juga mampu membuat lima gol dan mencatat clean sheet ketiga dalam empat laga.
Duel di markas Porto juga mengingatkan publik betapa mematikannya Liverpool. Filosofi gegenpressing yang dikombinasikan dengan etos kerja yang kuat menjadi modal bagi The Reds untuk menghancurkan lawan, termasuk Porto. Musim ini, sudah tujuh kali Liverpool menang dengan mencetak empat gol atau lebih di semua kompetisi.
Yang menarik, dalam laga kontra Porto, Liverpool sangat diuntungkan dengan terlebih dulu membuat dua gol saat laga belum genap 30 menit. Situasi yang memaksa Porto untuk keluar menyerang. Kondisi yang ideal bagi Liverpool, yang jika ditilik lebih dalam merupakan sebuah tim yang menjadikan serangan balik sebagai senjata.
Tak sedikit lawan yang memilih membiarkan Liverpool untuk menguasai bola sembari mencari kesempatan melancarkan serangan balik yang membuat barisan belakang The Reds gugup. Namun tentu saja skenario itu akan buyar jika Liverpool berhasil unggul lebih dulu. Lawan yang mau tak mau harus menyerang demi menyamakan kedudukan akan berisiko menerima counter maut dari Liverpool.
Liverpool sendiri memang beberapa kali gagal memanfaatkan keunggulan. Beberapa kali mereka gagal meraih kemenangan meski sempat unggul dua atau tiga gol. Contohnya saja saat melawan Sevilla, ketika mereka membuang keunggulan tiga gol.
Namun, ada perubahan yang terlihat, meski tak mencolok, dari Liverpool usai laga kontra Sevilla. Liverpool tak lagi kukuh menjalankan gegenpressing sepanjang laga.
"Mereka tahu tak perlu lagi bermain menekan saat unggul beberapa gol. Mereka bisa bertahan dan melakukan counter dan itu sisi lain yang sudah dilihat Klopp," ujar Stephen Warnock, mantan bek Liverpool kepada BBC Radio 5.
Melihat perjalanan musim ini, Liverpool memang lebih sering memetik kemenangan setelah unggul lebih dulu. Saat ini Liverpool ada di urutan teratas klub di Premier League yang mencetak gol di 30 menit pertama dengan 19 gol. Sedangkan di Liga Champions, Liverpool mencetak 12 gol di 30 menit pertama.
Selama ini permainan Klopp acap dibandingkan dengan Pep Guardiola. Keduanya senang melakukan tekanan dengan garis pertahanan tinggi. Namun yang membedakannya adalah; Guardiola mengagungkan penguasaan bola. (oleh: Yusuf Abdillah/BolaSkor.com)
Bagikan
Thomas Kukuh
Berita Terkait
Jeremy Jacquet Sepakat ke Liverpool, Nilai Transfer Sentuh Rp1,3 Triliun
Arsenal Ngamuk di Elland Road! The Gunners Gilas Leeds United 4 Gol Tanpa Balas, Makin Dingin di Puncak
Liverpool vs Newcastle United: Sama-sama Tertekan, Anfield Jadi Penentuan Nasib!
Hasil Drawing Play-off Liga Champions: Real Madrid vs Benfica Kembali Berulang, Inter Milan Hadapi Bodo/Glimt
Superkomputer Prediksi Arsenal Juara Liga Champions 2025/26, Kalahkan PSG di Final
Eduardo Camavinga Masuk Radar Liverpool, Real Madrid Mulai Waspada
‘Bantu’ Manchester City Lolos Langsung 16 Besar Liga Champions, Pep Guardiola Merasa Perlu Berterima Kasih ke Jose Mourinho
Jurgen Klopp Dikabarkan segera Kembali ke Liverpool, tapi Bukan Jadi Pelatih
Jadwal dan Link Streaming Drawing Playoff 16 Besar Liga Champions 2025/2026
Tebak-Tebak Buah Manggis Calon Lawan Real Madrid di Playoff 16 Besar Liga Champions