Ada Apa dengan Valentine dan Cokelat?

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 14 Februari 2018
Ada Apa dengan Valentine dan Cokelat?

Cokelat identik dengan Cupid, sang dewa cinta. (foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DI hari kasih sayang yang jatuh setiap 14 Februari, semua pasangan saling memberi hadiah. Cokelat jadi salah satu item wajib di hari Valentine.

Segala jenis cokelat, yang putih, cokelat susu, hingga cokelat pekat, jadi hadiah yang selalu hadir di saat Valentine. Tradisi memberikan cokelat kepada pasangan saat Valentine itu telah menyebar ke seluruh dunia sejak lama.

Kenapa hanya cokelat yang identik dengan Valentine? Padahal kan, ada banyak makanan manis lainnya.

Ternyata hal itu berhubungan dengan kepercayaan yang mengaitkan cokelat dengan Cupid, peri cinta yang diketahui dari sejarah zaman suku Indian Aztec kuno.

Orang-orang Aztec percaya cokelat merupakan makanan para Dewa. Bahkan penguasa Aztec, Montezuma, percaya cokelat memiliki zat perangsang nafsu berahi.

Selain itu, orang-orang Aztec percaya cokelat menjadi sumber spiritual, peningkat energi, dan peningkat seksualitas yang lebih tinggi. Oleh karena itulah, cokelat selalu disajikan saat upacara pernikahan.

Pada 1800, Cadbury Brothers membuat cokelat, mendirikan toko, dan menjual cokelat di Inggris. Lewat perusahaan itulah untuk pertama kalinya Richard Cadbury menciptakan kotak cokelat berbentuk hati khusus untuk Valentine pada 1861.

Sejak saat itu, mulailah tradisi memberikan cokelat kepada orang yang disayang, terutama pasangan, setiap hari Valentine.

Faktanya, cokelat memang memberikan banyak manfaat bagi penikmatnya, terutama yang berhubungan dengan suasana hati.

Cokelat memiliki kandungan kimia berupa phenylethylamine yang dapat meningkatkan perasaan gembira, jatuh cinta, dan kesenangan.

Bahkan, penelitian terbaru juga menunjukkan cokelat pekat bermanfaat membantu meningkatkan fungsi pembuluh darah dan meningkatkan sensitivitas insulin pada orang dengan atau tanpa diabetes.

Wah, ternyata cokelat yang banyak manfaat memang pas sebagai ungkapan kasih sayang, ya. (*)

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan