Jangan Cengeng, Aldo Sianturi Tunjukan Banyak Revenue Buat Musisi
COVID-19 tidak menjadi penghalang musisi untuk mencari nafkah. (Foto: Pexels/Stephen Niemeier)
DIBERLAKUKANNYA social distancing dan gerakan #DirumahAja membuat para musisi harus membatalkan sebagian besar gig yang telah direncanakan jauh-jauh hari.
Pemasukan mereka pun semakin menipis dan para musisi kehabisan akal untuk mendapatkan penghasilan demi menyambung hidup.
Baca juga:
Ditambah lagi penyebaran COVID-19 di Indonesia terus meningkat dan belum ada tanda-tanda pandemi berakhir. Lantas, bagaimana cara musisi bertahan hidup tanpa manggung sana-sini?
Lewat Instagram Live yang diadakan oleh Audio Station, Aldo Sianturi memberikan banyak pengetahuan tentang apa saja yang bisa dilakukan para musisi di tengah pandemi.
25 tahun berkecimpung di industri musik, Aldo Sianturi pernah menjadi Chief Operating Officer (COO) Billboard Indonesia, CEO #MusikBagus, Strategic Marketing Director dari Universal Music Indonesia, serta menjadi CEO Purapura Records dan Managing Director Aksara Records.
Aldo berpendapat bahwa revenue stream musisi bukan hanya dari rekaman. "Satu orang musisi itu bisa punya 16-20 revenue stream," ungkap Aldo. Musisi bisa menjadi artis rekaman, artis session, atau backing vocal.
Membahas tentang backing vocal, ia mengatakan bahwa menjadi penyanyi latar dianggap sebagai hal yang memalukan bagi musisi yang sudah tenar.
Baca juga:
3 Lagu Bob Marley tentang Protes Keadilan Sosial dan Kesetaraan Ras
"Di Indonesia ini seperti ada alergi kalau udah ada nama, lalu jadi backing vocal. Sebenarnya, itu (backing vocal) juga revenue stream," jelas Aldo.
Ia juga memberikan contoh, Ron Kenoly, penyanyi gospel asal Amerika Serikat dulu pernah menjadikan James Ingram dan Bryan McKnight sebagai backing vocal-nya. Bahkan, penyanyi sekelas Whitney Houston pun pernah menjadi backing vocal BeBe Winans. Padahal saat itu Houston telah tenar dan memiliki album.
Selain menjadi backing vocal, konsultan musik merupakan profesi yang tak kalah kualitasnya. Musisi juga bisa menjadi salesman dari audio station, tidak hanya menjadi ambassador-nya saja.
"engine-nya musik itu tidak dianggap berhasil karena statusnya," ungkap Aldo. Ketika seorang musisi bisa menciptakan lagu, ia merupakan seorang komposer. Jika musisi memiliki kemampuan untuk memperbaiki, musisi juga bisa menjadi service center.
Di pandemi global ini, Aldo merasa bahwa banyak musisi yang merasa bingung karena merasa 'the only revenue stream' hanya dari live session atau pertunjukan langsung.
Pada new modern market alias zaman sekarang, Aldo menganggap bahwa revenue-nya memang live performance, sehingga manggung menjadi sumber pemasukan utama. Namun ia juga memberikan alternatif jika musisi tersebut sudah memiliki lagu hits, caranya adalah dengan mendaftarkannya ke karaoke.
Ia memberikan contoh mengenai lagu Selamat Ulang Tahun yang dipopulerkan Jamrud. Setiap kita ke tempat karaoke, seringkali kita akan samar-samar mendengarkan lagu Jamrud ini dinyanyikan. "Ini bisa menjadi passive income," tambahnya.
Jika karya-karya musisi ini didistribusikan ke platform digital, keuntungan juga bisa diraih melalui iklan. (shn)
Baca juga:
Bagikan
annehs
Berita Terkait
Makna Lirik Lagu Terbaru JKT48 'Andai ’Ku Bukan Idola', Ceritakan Dilema Seorang Idola
'Perih' dari Elvy Sukaesih Kisahkan Luka dan Keputusasaan Cinta
Mitski Eksplorasi Cinta dan Kehilangan di Single 'I’ll Change for You', Simak Lirik Lagunya
Wahyu F Giri Rilis Single 'Sumandhing', Lagu Tentang Keselarasan 2 Hati
Dibawakan Dede April DA7, Lagu 'Menggapai Mimpi' Karya Miko Sukses Curi Perhatian
'DJ Got Us Fallin’ In Love' milih Usher Jadi Soundtrack 'Bridgerton'
NiMBY Hadirkan Lagu 'Ruang Untuk Pulang', tentang Kesehatan Mental dan Kesepian
Lirik dan Makna Mendalam Lagu 'Creep' dari Radiohead, Cerita soal Rasa tak Layak Dicintai
Ruzan & Vita Visualisasikan Kisah Cinta 20 Tahun Lewat Video Musik 'Rayuanmu'
BASS3 Luncurkan Single '3WARNA', Satukan 3 Karakter Bass Indonesia