MerahPutih.com - Penantian Arsenal kini telah resmi berakhir.
Setelah 22 tahun lamanya, The Gunners akhirnya bisa meraih gelar Premier League pertamanya sejak musim 2003/04.
Kekecewaan karena tiga kali berturut-turut finis di posisi kedua kini dapat dilupakan. Sebab, tim asuhan Mikel Arteta berhasil menahan tantangan Manchester City untuk dinobatkan sebagai juara.
Namun, hal itu tak terlepas dari momen-momen kunci yang membantu Arsenal memenangkan Liga Inggris 2025/26.
Baca juga:
Arsenal Resmi Juara Liga Inggris 2025/26 usai Manchester City Ditahan Bournemouth
Momen Kunci Arsenal Juara Premier League 2025/26 usai Penantian 22 Tahun
Fans Arsenal menjadi orang yang paling berbahagia musim ini. Hal itu berkat momen-momen krusial yang membawa The Gunners mengunci gelar Liga Inggris 2025/26:
1. Belanja Pemain di Awal Musim
Setelah melihat kedalaman skuad Liverpool dipuji saat mereka meraih gelar juara Liga Inggris musim lalu, Arsenal ingin menambah pemain ke dalam skuadnya.
Secara total, delapan pemain baru masuk ke dalam skuad. Namun, Thomas Partey yang kontraknya berakhir, menjadi satu-satunya pemain yang pergi.
Striker Swedia, Viktor Gyokeres, menjadi rekrutan utama. Ia didatangkan dari Sporting CP dengan harga 64 juta poundsterling (Rp 1,5 triliun).
Sementara itu, Martin Zubimendi bergabung dari Real Sociedad, lini pertahanan diperkuat dengan peminjaman Piero Hincapie dari Bayer Leverkusen. Selain itu, ada Noni Madueke dan Eberechi Eze yang pindah dari Chelsea serta Crystal Palace.
Pengeluaran lebih dari 250 juta poundsterling (Rp 5,9 triliun), dengan sedikit penjualan pemain memang besar. Namun, seiring berjalannya musim, kedatangan beberapa pemain tersebut telah terbukti.
Melihat gelar liga yang kini telah diamankan dan final Liga Champions yang masih akan datang, tampaknya uang yang dikeluarkan Arsenal telah membuahkan hasil.
2. Gabriel Martinelli Gagalkan Peluang Manchester City
Gol penyama kedudukan Gabriel Martinelli di menit ke-93 ketika melawan Manchester City pada September 2025 lalu, kini terlihat jauh lebih krusial.
Saat itu, lebih terasa lega bagi Arsenal karena mereka menggagalkan peluang pasukan Pep Guardiola dan mempersempit jarak dengan pemimpin klasemen sementara, Liverpool, menjadi lima poin.
Setelah unggul lebih dulu melalui Erling Haaland, City memilih untuk bertahan di sebagian besar babak kedua. Guardiola bahkan beralih ke formasi lima bek, karena yakin dapat menahan serangan Arsenal yang kurang kreatif.
Seandainya mereka mampu bertahan beberapa menit lebih lama, pertandingan ini akan dilihat secara berbeda. Guardiola menunjukkan kemampuannya dengan penampilan defensif yang luar biasa melawan The Gunners.
Sebaliknya, justru kekuatan Arsenal yang baru ditemukan berkat percikan kreativitas akhirnya muncul di waktu tambahan dengan pemain pengganti, Eze dan Martinelli, yang bekerja sama untuk menyamakan kedudukan.
Baca juga:
Enzo Maresca dan Manchester City Diklaim Sudah Intens Bicara soal Kursi Pelatih
3. Gol Menit Akhir Gabriel Magalhaes ke Gawang Newcastle
Seminggu kemudian, Arsenal kembali merayakan kemenangan di waktu tambahan.
Kunjungan ke St James' Park tidak berpihak pada tim Arteta dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mencatatkan tiga kekalahan dan tanpa gol dalam kunjungan sebelumnya.
Ketika Nick Woltemade membawa Newcastle unggul di babak pertama, Arsenal juga mendapat penalti yang dibatalkan oleh VAR.
Namun, Mikel Merino berhasil menyamakan kedudukan untuk Arsenal pada menit ke-84. Lalu, Gabriel menyundul bola dari sepak pojok pada menit ke-96, yang membuat pendukung bersorak.
Setelah kekalahan Liverpool di Crystal Palace sehari sebelumnya, tiba-tiba Arsenal hanya terpaut dua poin dari puncak klasemen.
4. Hattrick Eberechi Eze atas Tottenham
Dua bulan kemudian, setelah mencatatkan 10 kemenangan beruntun di semua kompetisi, termasuk delapan kemenangan tanpa kebobolan, Arsenal berada di puncak klasemen dan tampil gemilang.
Hasil imbang 2-2 di Sunderland mengakhiri rentetan kemenangan tersebut. Namun, The Gunners memasuki derby London Utara pada November 2025 lalu dengan kesempatan untuk unggul enam poin, setelah City kalah 2-1 dari Newcastle.
Harapan Tottenham untuk memberikan pukulan telak bagi Arsenal pun sirna, ketika pasukan Arteta unggul 2-0 saat babak jeda. Lalu, memperbesar keunggulan tiga detik setelah babak kedua dimulai.
Richarlison mencetak satu gol balasan untuk Tottenham, tetapi The Gunners memiliki kata terakhir, dengan momen puncak yang pantas diberikan kepada Eberechi Eze.
Gelandang Inggris itu memastikan kemenangan dengan mencetak hat-trick pertamanya, sekaligus memberikan Arsenal keunggulan terbesar setelah 12 pertandingan di Premier League.
5. Manchester City Tumbang di Old Trafford
Saat Patrick Dorgu berputar setelah menyelinap di depan Rico Lewis untuk memasukkan bola melewati Gianluigi Donnarumma, derby Manchester pun berakhir.
Manchester United unggul dua gol di Old Trafford. Lalu, City menuju titik terendahnya saat awal tahun yang suram berlanjut.
Setelah berjuang kembali ke persaingan selama periode Natal 2025, tim Guardiola gagal memenangkan satu pun dari empat pertandingan liga pertama mereka di 2026.
Hasil imbang di Sunderland yang diikuti oleh kehilangan poin di kandang melawan Chelsea dan Brighton, telah menyelamatkan Arsenal. Meskipun mereka melakukan beberapa kesalahan, tetapi masih unggul tujuh poin di puncak klasemen.
Baca juga:
6. Gabriel Magalhaes Lolos dari Kartu Merah
Pada April 2026 lalu, selisih poin antara Arsenal dan Manchester City masih terpaur enam poin. Saat Arsenal tiba untuk pertandingan puncak klasemen di Etihad, kedua tim sama-sama berebut gelar Premier League.
Pada pertandingan itu, City keluar sebagai pemenang. Erling Haaland mencetak gol kemenangan 20 menit setelah memasuki babak kedua.
Namun, mungkin momen paling krusial terjadi di akhir pertandingan, ketika terjadi pertarungan panjang antara Haaland dan Gabriel.
Keduanya saling berhadapan dan dahi mereka beradu sebelum bek tengah Arsenal itu menggerakkan kepalanya ke depan. Faktanya, Haaland tetap berdiri tegak yang menyelamatkan Gabriel dari kartu merah.
Meskipun sikap Haaland itu patut dipuji, tetapi sangat menguntungkan Arsenal. Sebab, kartu merah karena perilaku kekerasan akan membuat tim Arteta kehilangan salah satu bek bintangnya untuk tiga pertandingan berikutnya.
7. Kesalahan Fatal Marc Guehi saat Lawan Everton
Kemenangan City di Burnley menempatkan mereka di puncak klasemen berdasarkan jumlah gol yang dicetak.
Pada saat mereka memainkan pertandingan berikutnya melawan Everton, Arsenal sudah memainkan dua pertandingan lebih banyak dan unggul enam poin.
Jika mereka memenangkan pertandingan tunda, City akan menyamai poin tersebut. Namun, Arsenal sudah memiliki poin yang cukup.
Sayangnya, tekanan skor tidak terlihat di Hill Dickinson. Ketika Jeremy Doku membawa tim tamu unggul tepat sebelum babak jeda, sedikit yang akan meragukan kemenangan tandang.
Hal itu masih terjadi ketika Marc Guehi mengontrol bola di dalam kotak penalti pada menit ke-68.
Satu umpan balik yang kurang akurat ternyata mengubah segalanya. Thierno Barry mencetak gol penyeimbang untuk Everton dan permainan pun berubah.
Tim asuhan David Moyes mencetak tiga gol dalam waktu 13 menit, meskipun City berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di menit-menit akhir. Mereka pun kehilangan dua poin yang membuat Arsenal kembali unggul.
8. Penyelamatan David Raya dan Kontroversi VAR
Di atas kertas, perjalanan ke markas West Ham yang berjuang menghindari degradasi tampak sebagai pertandingan tersulit dari tiga pertandingan terakhir Arsenal.
Itu adalah pertandingan yang harus dimenangkan anak asuh Arteta untuk menghindari City, yang kembali ke jalur kemenangan. Namun, mereka kesulitan menembus pertahanan West Ham yang gigih.
Pertandingan masih tanpa gol ketika gelandang West Ham, Matheus Fernandes, datang mengambil bola lepas. Lalu, melakukan umpan satu-dua dengan Pablo, yang berada enam yard dari gawang David Raya.
Fernandes mencoba mengalahkan kiper di tiang dekatnya, tetapi Raya mengulurkan kaki kanannya untuk melakukan penyelamatan brilian dari jarak dekat dan memastikan skor tetap imbang hingga 10 menit terakhir.
Penyelamatan Raya tampak semakin penting ketika Leandro Trossard membawa Arsenal unggul di menit ke-83.
Namun, pertandingan masih jauh dari selesai. West Ham terus menyerang untuk mencari gol penyeimbang.
Gabriel melakukan penyelamatan gemilang untuk menepis tembakan Callum Wilson, tetapi striker West Ham itu mendapat kesempatan lain dari sepak pojok.
Ia melepaskan tembakan keras melewati kerumunan pemain untuk mencetak gol yang menakjubkan di waktu tambahan.
Wasit VAR pun ikut turun tangan. Setelah peninjauan yang panjang, gol tersebut dianulir karena ada pelanggaran terhadap Raya ketika Pablo meletakkan lengannya di dada kiper Spanyol itu dan memegang lengan kirinya.
Sejumlah pelanggaran lainnya, termasuk klaim penalti atas pelanggaran yang dilakukan Trossard dan Declan Rice, dipertimbangkan dan diabaikan. West Ham hingga Manchester City pun "merasa dirugikan" akibat insiden tersebut. (sof)