MerahPutih Internasional - Sepanjang tahun 2015 ini telah terjadi berbagai tragedi dan peristiwa yang menggemparkan dunia. Salah satu yang paling menjadi pusat perhatian adalah para pengungsi Suriah.
Semenjak kelompok Presiden Bashar Alssad dituntut turun dari pemerintahan di suriah oleh sekelompok pemberontak ditambah lagi keumunculan ISIS, rakyat Suriah menderita.
Mereka jadi 'musuh' di tanah air mereka sendiri, walhasil mereka berlarian menjadi tempat berlindung ke negara tetangga hingga ke Eropa.
Berikut ini 5 foto paling mengharukan sepanjang 2015 terkait pengungsi Suriah:

Hudea (4), bocah berpipi tembam dan mata yang bulat ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, semenjak foto Hudea yang mengangkat tangan di unggah oleh Nadia Abu Shaban di akun Twitternya.
Ternyata ada kisah pilu di balik foto menggangkat tangannya Hudea, ia mengangkat tangan karena mengira kamera tele yang digunakan oleh fotografer asal Turki, Osman Sagirli, adalah senjata.
"Saya menggunakan lensa tele dan dia pikir itu senjata.” ujar Osman Sagirli, seperti yang dilansir Mirror (31/3).
Hudea yang polos merasa ketakutan ditodong kamera tersebut dan pasrah hingga mengangkat tangan tanda menyerah. Foto tersebut mendapat banyak simpati dari para netizen.
“Aku benar-benar menangis, luar biasa menyedihkan,” komentar salah satu netizen.
Meski begitu, ada beberapa netizen yang menganggap foto tersebut palsu dan rekayasa.
Perlu diketahui, Hudea merupakan bocah asal Suriah yang mengungsi di kamp pengungsi Atmeh, Suriah, pada bulan Desember tahun lalu. Hudea bersama ibu serta dua saudara kandungnya telah berjalan sejauh 150 km dari rumah mereka di Hama ke perbatasan Turki.
Konflik bersenjata di Suriah belakangan semakin memanas dan telah memasuki tahun kelima. Konflik tersebut sudah menelan ratusan ribu korban yang memaksa para warganya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kekerasan pada anak banyak terjadi di beberapa negara, anak yang seharusnya dilindungi oleh orang yang lebih dewasa justru dipukuli dan dianiaya.
Salah satu contoh kekerasan terhadap anak yang sangat disayangkan terjadi di Turki. Media sosial di negeri kekaisaran Otoman itu baru saja dihebohkan dengan foto seorang anak asal Suraih yang dianiaya seorang manager restoran.
Seperti yang dilansir DailyMail, peristiwa itu terjadi Januari lalu. Terjadi di restoran cepat saji di Instambul, seorang bocah lelaki kira-kira berusia 10 tahun dipukuli seorang pria dewasa yang merupakan manager restoran.
Pria itu naik pitam hanya karena si anak jualan tisu pada para pelanggan restoran tempat ia berkerja.
Sayangnya kemarahan si manager itu terlalu berlebihan, anak itu dipukuli seperti seorang pencuri hingga hidungnya berdarah.
Para warga sempat menolong si anak, tapi manager tetap memukulinya.
Sampai akhirnya anak itu berhasil meloloskan diri dengan berlari. Ia terlihat kesakitan dan hanya bisa menangis.
Foto-foto itu pun tersebar di Internet, si manager dikabarkan dipecat dari restoran tempat ia berkerja.
Memang banyak anak-anak Suriah yang berkeliaran di Turki, sebab mereka mengungsi dari negaranya akibat perang yang tak berkesudahan.
Kebanyakan dari mereka hidup di kam pengungsian dan sebagian tinggal di gedung-gedung kosong.

Kini bocah itu sedang merasakan kebahagiaan. Seperti yang dilansir Daily Mail, bocah itu bernama Ahmed Hamdo Abeyd, Ahmed dipukuli seorang manager restoran hanya karena menawarkan tisu dagangannya kepada pengunjung restoran.
Kisah dan foto-foto kesedihan Ahmed ini pun tersebar di dunia maya hingga membuat pemetintah Turki prihatin dan mencoba menemui keluarga bocah itu. Dan mereka pun menemui keluarga Ahmed. Bocah itu datang ke Turki bersama ayah ibu dan ketiga saudaranya.
Mereka Tinggal dan menyewa apartemen kumuh di kota Izmir. Ayah Ahmed kehilangan pekerjaannya sedangkan sang ibu sedang sakit, untuk itu Ahmed dan seorang saudaranya mencari nafkah untuk bayar sewa tempat tinggal dan makan dari berjualan tisu.
Pemerintah Turki sangat menyeyangkan atas apa yang telah terjadi pada Ahmed, mereka pun memberi hadiah hiburan untuk Ahmed dan keluarganya berkibur di hotel mewah selama tiga hari. Hal ini dilakuakn juga sebagai salah satu cara agar anak-anak itu tidak terus menerus sedih akibat perang di tanah air mereka.
Foto-foto kebahagiaan Ahmed dan keluarganya pun membuat hati teduh, mereka bermain dan berenang dengan fasilitas mewah yang jauh dari apa yang pernah mereka rasakan.
Banyak orang yang meminta agar keluarga Ahmed menuntut manager restoran yang memukuli putranya, tapi mereka tidak melakukan itu.
Mereka sudah cukup berterimakasih atas kesediaan masyarakat Turki yang mau menampung mereka. Kini Ahmed dan ketiga saydaranya disekolahkan oleh pemerintah Turki, ibu Ahmed pun diberi fasilitas kesehatan gratis untuk berobat dan mereka diberi tempat tinggal yang layak untuk hidup.

Foto seorang ayah Palestina yang menjual pulpen sambil terus menggendong anaknya ini juga menarik perhatian para netizen.
Bagaimana tidak, ayah itu terus berjalan dan berjualan menjajakan pulpen dagangannya di jalan Beirut sambil menggendong putrinya yang sedang tertidur.
Seorang wartawan asal Islandia pun memotret kejadian itu dan menyebarkannya di Twitter hingga sang ayah yang diketahui sebagai seorang pengungsi asal Palestina bernama Abdul Halim Attar dan puterinya Reem menjadi terkenal di media sosial.
Alhasil sang wartawan menggalang dan auntuk Abdul dan putrinya hingga menghasilkan 190.00 USD.
Abdul menggunakannya untuk membuka usaha di Beirut seperti toko roti, warung kebab dan rumah makan, Abdul bahkan bisa memperkerjakan 16 pengungsi Suriah.

Aylan Kurdi, bocah dua tahun yang ditemukan tewas di tepi pantai Turki, lahir di negeri yang penuh konflik. Orangtuanya, Abdullah dan Rehen, bergabung bersama imigran lainnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi Aylan dan kakak laki-lakinya yang berusia empat tahun, Galip.
Abdullah Kurdi mengatakan bahwa ia menaiki kapal kecil di Turki bersama 12 pengungsi lainnya. Kapal itu juga berisi dua orang penyelundup dan para pengungsi dari Suriah dan Turki.
"Aku bertanya pada penyelundup itu, apakah kapalnya kosong? Haruskah aku turun bersama istri dan anak-anakku?" tuturnya pada CNN (4/9).
Penyelundup pun menjawab pertanyaan Abdullah dengan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Kapal ini terjamin," ujar penyelundup tersebut.
Namun tiba-tiba ombak menyerang badan kapal dan kapal pun mulai goyah. Tidak bertanggung jawab, penyelundup malah lompat dan berenang ke arah pantai.
Abdullah yang saat itu masih di atas kapal, mengambil alih setir. Namun nahas, kapal terbalik dan tenggelam.
"Aku mencoba meraih istri dan anakku. Aku berada di air selama 20 menit. Satu orang mati, yang lainnya menyusul," ujar Abdullah lagi.
Tak lama kemudian, tim penyelamat dari Turki datang. Dua pria dan seorang anak dinyatakan hilang.
Abdullah mengatakan bahwa saat itu mereka pergi dengan tujuan Swedia dari lewat Yunani.