PEMENANG Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai kembali ke kampung halamannya di Paskitan, Sabtu (31/3). Itu merupakan kali pertama Malala kembali ke sana setelah ditembak di kepala oleh rezim Taliban pada 2012 lalu.
Nama Malala menjadi kabar utama di seluruh dunia setelah ia dengan berani membela hak bersekolah untuk para perempuan. Pada 2012 lalu, Malala yang berusia 14 tahun tertembak di kepala dan leher. Kekerasan itu membuatnya jatuh ke kondisi kritis, sedangkan dua teman sekelasnya mengalami luka yang tak terlalu mengancam nyawa.
Dalam keadaan terluka parah, Malala dibawa menggunakan helikopter dari satu RS militer ke RS lainnya di Pakistan. Di rumah sakit kedua tersebut, para dokter menempatkan Malala dalam kondisi koma sehingga ambulans udara bisa memindahkannya ke Inggris untuk perawatan intensif.
Pihak Taliban menyatakan bahwa penembakan terhadap Malala terjadi karena sikap kritisnya terhadap kelompok militan, bukan karena aktivitasnya dalam membela hak pendidikan perempuan. Karena itulah, pihak Taliban tak meminta maaf atas tindakan mereka terhadap gadis tersebut.
Untungnya, Malala selamat dari penembakan brutal tersebut. Seminggu setelah dirawat di Inggris, penerima termuda Hadiah Nobel Perdamaian tersebut kembali bisa berdiri. Ia bahkan menjadi pusat perhatian dunia.
PBB kemudian meluncurkan kampanye untuk pendidikan perempuan yang diberi nama 'I am Malala'. Selain itu, tanggal 10 November dideklarasikan sebagai Hari Malala untuk mengingatkan publik akan Malala dan 32 juta gadis lain yang tak bisa bersekolah.
Malala yang kini berusia 20 tahun tersebut juga mendirikan Malala Fund yang bergerak di bidang pendidikan bagi perempuan di Pakistan, Afghanistan, Nigeria, Kenya, dan Yordania, yang berfokus pada pengungsi Suriah.
Hadiah Nobel Perdamaian ia terima pada 2014 bersama dengan Kailash Satyarthi untuk aktivitas mereka di bidang hak-hak anak.
Malala memang tak langsung kembali ke Pakistan setelah pulih dari luka yang ia derita. Ia memilih melanjutkan studinya di Universitas Oxford sejak tahun lalu. Meskipun demikian, saat wawancara dengan David Letterman, ia mengaku merindukan rumah dan sungai di kampung halamannya di Lembah Swat.
Begitulah, dengan menaiki helikopter, Malala tiba di rumah lamanya di Mingora, Lembah Swat. Foto kebahagiaan mengunjungi kampung halaman pun ia bagikan di akun Twitter-nya.
"Tempat paling indah di muka Bumi untukku," ujarnya dalam unggahan foto tersebut.
The most beautiful place on earth to me. #SwatValley #Pakistan pic.twitter.com/eC4uHPt1wt
— Malala (@Malala) March 31, 2018
Seperti dikutip dari CNN, Malala tiba di Pakistan pada Kamis (29/3) dengan dikawal penjagaan ketat.
Dalam unggahan berikutnya, ia mengatakan amat gembira bisa melihat rumah keluarganya lagi, mengunjungi teman, dan menginjak tanah Lembah Swat lagi. Tak lupa, ia juga mengunjungi sekolahnya dulu dan menuliskan pesan di buku tamu.
So much joy seeing my family home, visiting friends and putting my feet on this soil again. #Home #Pakistan pic.twitter.com/B8VN5Odd27
— Malala (@Malala) March 31, 2018
"Kunjungan pertamaku ke Lembah Swat, 5,5 tahun setelah serangan itu. Aku merasa amat bahagia. Aku bangga akan tanah kelahiranku dan budayaku. Terima kasih kepada para staf dan kepala sekolah yang telah menyambutku," ujarnya.(dwi)