MERAHPUTIH.COM - FLUKTUASI Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi sorotan menandai dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pekan ini, IHSG menunjukan kemerosotan terdalam dalam sejarahnya.
Masa awal sebelum pelantikan Prabowo dan Gibran, kondisi IHSG Indonesia bergerak stabil di angka 7.772,60, terhitung sampai di waktu pelantikan keduanya pada 20 Oktober 2024.
Setelah sepekan menduduki kursi tertinggi di Negara, IHSG menunjukan pergerakan menurun hingga ke level 6.258,18. Rencana keuangan untuk 2025, pemerintah Indonesia merencanakan realisasi investasi hingga 15,5 persen (Rp 1.905 triliun) lebih tinggi jika dibandingkan dengan 2024 yang hanya senilai Rp 1.714,2 triliun.
Hingga penutupan 16 Oktober, kondisi IHSG di 5.185. Ada penurunannya sekitar 33,29 persen, dari level saat pelantikan 7.772,60.
Baca juga:
IHSG Kembali Melemah, Langsung Turun 4,31 Persen di Pembukaan Pagi
Sepanjang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran ada enam kali kejadian IHSG menyentuh titik krisisnya, yaitu:
16 Oktober 2026
5.185
8 Juni 2026
5.317,91
9 Juni 2026
5.318,15
5 Juni 2026
5.594,11
1 Juli 2026
5.607,4
30 Juni 2026
55.638
4 Juni 2026
5.644,23
10 Juni 2026
5.677,97
2 Juli 2026
5.704,505.
11 Juni 2026
5.784,51
IHSG indonesia di titik kritis sebanyak enam kali selama masa pemerintah Prabowo dan Gibran, nilai tahun ini bahkan jadi salah satu kejatuhan terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia ketimbang era seluruh Presiden sebelumnya yang pernah menjabat. Sebagai perbandingan, masa dua tahun pertama Megawati naik IHSG 9,9 persen, masa SBY naik hingga 86,56 persen, dan Jokowi 7,32 persen.(Tka)
Baca juga:
IHSG Ditutup Terjun Bebas 11,57%, Saham BCA Paling Banyak Dilepas Investor Asing