Mengutip data RTI Business, Kamis (15/10), IHSG terkoreksi tajam 2,20 persen ke level 5.812,45 hingga pukul 11.00 WIB. Sepanjang awal perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.917,70.
Rontoknya 635 Saham Termasuk Perbankan Raksasa
Gelombang panic selling membuat mayoritas saham terperosok ke zona merah, di mana sebanyak 635 saham melemah, hanya 76 saham yang menguat, dan 77 saham lainnya stagnan dengan total nilai transaksi mencapai Rp 7,23 triliun.
Tekanan jual melanda berbagai sektor unggulan, termasuk Petrosea yang merosot 5,34 persen, Barito Renewables Energy (BREN) turun 5,17 persen, serta Dian Swastatika Sentosa (DSSA) terkoreksi 5,59 persen
Saham-saham big cap perbankan juga kompak melemah, dipimpin PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,82 persen, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 0,59 persen, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 0,32 persen, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 0,25 persen.
Baca juga:
Prediksi IHSG Rawan Sideways, Cek Sentimen Global yang Bikin Pasar Galau
Badai Sentimen Global: Inflasi The Fed dan Konflik Minyak
Anjloknya IHSG dipicu oleh rilis data inflasi AS yang berada di atas perkiraan pasar, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Kondisi tersebut memicu penguatan Dolar AS dan aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, yang diperparah oleh ancaman serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. (*)