MERAHPUTIH.COM - MERAH dan Imlek menjadi dua hal tak terpisahkan. Warna merah saat perayaan Imlek sering kali dikaitkan dengan kisah legenda Nian. Namun, lebih daripada itu, warna merah membawa filosofi perlindungan dan pengharapan keburuntungan. Sebuah optimisme di tahun yang baru.
Legenda Nian yang tercatat sejak masa Tiongkok kuno mengisahkan sosok monster yang tinggal di laut. Dalam legenda Tiongkok kuno, Nian acap digambarkan sebagai sosok monster dengan gigi dan tanduk yang tajam serta bertubuh raksasa. Sebagian legenda menyebut Nian memiliki rupa seperti seekor singa dengan tubuh menyerupai anjing, lainnya menyebutnya mirip seekor gajah.
Dikisahkan, Nian menjadi momok bagi warga sebuah desa. Monster ini kerap muncul dari laut lalu memangsa penduduk desa. Namun, petaka itu berhenti setelah seorang kakek pengembara mengusir Nian dengan taktik menerangi desa dengan cahaya lampion lalu menutupi seluruh rumah di desa itu dengan warna merah. Sang pengembara bahkan mengenakan pakaian merah sambil tertawa kencang untuk menakuti Nian. Taktik itu berhasil sehingga Nian pergi jauh. Warga desa merayakan kebebasan mereka dari teror Nian dengan suka cita. Warna merah kemudian dimunculkan sebagai bagian dari perayaan Imlek.
“Beberapa referensi memang menyebutkan warna merah saat perayaan Imlek terkait dengan legenda Nian. Namun, warna merah sendiri memang punya makna filosofi tersendiri bagi orang Tionghoa,” kata akademisi dan peneliti kebudyaan Tionghoa Agni Malagina, saat dihubungi Merahputih.com, Rabu (4/2).
Baca juga:
Imlek 2026 di Jakarta Bakal Meriah, Pemprov DKI Siapkan Festival hingga Cap Go Meh
Agni mengatakan, bagi orang Tionghoa di Indonesia, Imlek tidak hanya merayakan pergantian tahun (penanggalan bulan) yang menandakan berakhirnya musim dingin menuju musim semi, tetapi juga merayakan kebersamaan, berkumpul, rekonsiliasi, dan keberagaman. Di saat perayaan inilah, warna merah nan semarak dimunculkan sebagai lambang kebahagiaan.
“Warna merah dalam kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu budaya yang paling kaya akan simbol, dengan makna-makna yang terbentuk oleh kosmologi, ritual, politik, dan kehidupan sehari-hari selama ribuan tahun. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek, warna merah menjadi warna meriah simbol keberuntungan, kegembiraan, perlindungan,” jelasnya.
Namun, menurutnya, jika diperdalam lagi, warna merah dalam perspektif tertentu memiliki makna lainnya. Dalam kosmologi Tionghoa, warna merah bermakna api bagian dari lima elemen, energi Yang (dalam konsep Yin dan Yang), juga diasosiasikan dengan musim panas. “Dalam perspektif Keberuntungan dan perlindungan, warna merah menggambarkan perlindungan dari roh jahat, mendatangkan keberuntungan dan kesejahteraan, keberlanjutan daur hidup kelahiran, pernikahan, dan perayaan tahun baru,” imbuhnya.
Sebagai simbol perlindungan, kebahagiaan dan kesejahteraan, warna merah kerap dimunculkan dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Warna merah banyak digunakan dalam kuplet (puisi), lembar tulisan Fu terbalik, lentera atau lampion, kembang api, amplop merah (hongbao/angpao). “Item-item ini wajib ada saat perayaan Imlek,” imbuhnya.
Agni mengingatkan ada warna yang pantang dipakai saat merayakan Imlek, yakni warna putih. "Warna putih ini merupakan warna yang identik dengan berkabung. Untuk yang berduka," tutupnya.(dwi)
Baca juga:
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Hennessy Hadirkan Koleksi Tahun Kuda nan Berani