INDONESIA merupakan salah satu negara potensial bagi pasar bebas. Dalam memasuki pasar bebas, ada dua hal yang menjadi kunci sukses dalam berbisnis. Yang pertama ialah inovasi dan kedua ialah cost.
"Sebuah perusahaan akan sukses apabila perusahaan pintar berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang menarik dan memiliki value untuk customer dengan cost seefisien mungkin sehingga bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain," ujar Patrick Walujo saat ditemui di acara Diklatda 2018 HIPMI Jaya, Kamis (12/4).
"Mau dimodifikasi seperti apa pun modal dasarnya kembali ke dua kunci tersebut," lanjutnya.
Di era digital seperti saat ini, teknologi tak hanya memengaruhi lifestyle masyarakat, tetapi juga memengaruhi roda perekonomian.
Konsumen dihadapkan pada dua pilihan, yakni offline company dan digital company.
Offline company menghadapi sejumlah tantangan saat ingin bersaing dengan digital company.
"Yang menjadi permasalahan bagi offline company ialah apabila digital company sudah mencapai titik skill yang besar, cost dan infrastrukturnya akan jauh lebih rendah," tutur Patrick.
Patrick menilai offline company akan kesulitan mengungguli digital company dari segi cost. Hal tersebut disebabkan digital company tidak perlu membuka toko dan memiliki karyawan lebih sedikit, sementara skill mereka jauh lebih besar. Untuk melayani jumlah customer yang sama, cost yang dikeluarkan digital company pun akan jauh lebih rendah.
"Kesempatan yang dimiliki online company saat ini lebih banyak dan yang mereka pikirkan hanya inovasi apa yang bisa dikembangkan dan bagaimana konstruksinya secara jangka panjang," jelasnya.
Digital company tak perlu memikirkan biaya ekstra untuk membayar karyawan dan sewa tempat sehingga mereka berani mengeluarkan bujet besar-besaran untuk promosi atau subsidi.
"Mereka menunggu titik minimum skill. Ketika mereka telah mencapai titik tersebut dan uni cost masuk, bisnis mereka tumbuh dari situ," tukasnya.(Avi)