Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Pemerintah Prancis Akui Gagal Tangani Kerusuhan, akan Kerahkan Pasukan Militer untuk Pengamanan

Dwi Astarini - 1 jam, 35 menit lalu

MERAHPUTIH.COM — PRANCIS menjalankan penguatan kepolisian dengan mengerahkan pasukan militer serta menggelar operasi keamanan berskala besar untuk mengantisipasi protes susulan yang direncanakan pada Sabtu mendatang. Demikian disampaikan pemerintah pada Selasa (20/10. Pemerintah Prancis mengakui mengakui gagal dalam merespons aksi kekerasan pada akhir pekan lalu.

"Pengerahan pasukan pada Sabtu mendatang akan dilakukan secara masif," kata Perdana Menteri Sebastien Lecornu.

Ia sembari menambahkan prioritas utama saat ini ialah memulihkan ketertiban setelah kerusuhan dan penjarahan melanda Paris, Marseille, Lyon, serta kota-kota lainnya pada 17 Oktober.

Dalam perdebatan yang berlangsung memanas, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyampaikan pihak militer akan diterjunkan mendampingi aparat kepolisian. Di saat yang sama, pemerintah berjanji akan merombak total taktik pengamanan setelah menuai kritik luas bahwa pusat-pusat kota telah dibiarkan rawan dan tanpa perlindungan.

Lecornu mengakui adanya kekurangan dalam respons pemerintah pada akhir pekan lalu dengan menyebutkan adanya kegagalan intelijen, pengerahan posisi polisi yang terlalu statis, serta keputusan otoritas yang tidak membatalkan cuti anggota polisi yang telah direncanakan sebelumnya.

Nunez menyampaikan permohonan maaf atas kegagalan tersebut.

"Saya sangat menyesali apa yang telah terjadi. Saya menerima bagian dari tanggung jawab ini," ujarnya.

Baca juga:

Prancis Rusuh! Presiden Macron Merasa Marah dan Malu



Jam Malam Diperpanjang untuk Pulihkan Situasi




Suasana relatif tenang pada malam hari di Prancis tercipta setelah berlakunya jam malam terlokalisasi di beberapa wilayah yang terdampak kekacauan, yang menurut pemerintah telah membantu menegakkan kembali kendali keamanan.

Di pusat kota Paris, polisi mengosongkan dan menjaga ketat kawasan Place de la Republique sepanjang malam dengan pengawasan helikopter di udara. Di Lille, wilayah utara, di mana jam malam hanya berlaku bagi anak di bawah umur, petugas berpatroli di pusat kota dan memeriksa identitas warga yang melintas.

Wali Kota Marseille, Benoît Payan, menyatakan bahwa jam malam bagi anak di bawah umur di sekitar kawasan komersial yang terdampak paling parah oleh kerusuhan akhir pekan akan mulai diberlakukan pada Selasa malam.

Kerusuhan mengejutkan Prancis, baik karena skalanya yang besar maupun ketidakmampuan polisi dalam meredamnya. Hal ini semakin memperkeruh tensi politik menjelang pemilihan presiden tahun depan. Para kandidat dari sayap kanan radikal dan kiri keras mencatatkan elektabilitas tinggi dalam jajak pendapat.

Dalam sebuah pernyataan, Lecornu menyalahkan kelompok sayap kiri radikal atas kerusuhan tersebut. Sebaliknya, kelompok sayap kiri menuduh pemerintah meremehkan kemarahan publik atas tingginya biaya hidup dan merosotnya kualitas layanan publik.

Aksi protes di negara-negara Eropa lainnya, termasuk Italia dan Albania, semakin menambah kekhawatiran bahwa kemarahan atas standar hidup berisiko meluas ke seluruh benua pada saat banyak negara, termasuk Prancis, sedang berjuang menghadapi masalah anggaran.(dwi)


Baca juga:

Cegah Kerusuhan Lanjutan, Polisi Paris Terapkan Jam Malam di 2 Wilayah

Baca Artikel Asli