Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Tertekan Hebat, Imbas Ngerinya Kenaikan Inflasi AS di Luar Prediksi

Angga Yudha Pratama - 1 jam, 10 menit lalu

Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10) kembali tergelincir loyo ke level Rp17.948.

Tersungkurnya kurs rupiah hari ini yang merosot hingga 45 poin (0,25 persen) dari penutupan kemarin langsung dipicu oleh memanasnya rapor inflasi AS terbaru.

Kondisi pasar global yang tengah bergejolak ini tentu membuat prediksi kurs rupiah kian tertekan dan memaksa para investor untuk buru-buru mengatur ulang strategi portofolio mereka.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Loyo Terseret Efek Kejut Data Inflasi AS dan Merahnya Bursa Asia

Fenomena rupiah melemah pagi ini memang tidak bisa dilepaskan dari imbas kejutan data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang merangsek naik tajam.

Lonjakan biaya energi di negeri paman sam seketika membuat posisi dolar AS makin di atas angin, sehingga menggilas mata uang emerging market termasuk garuda.

Pelaku pasar kini makin waswas menghadapi potensi sikap agresif bank sentral Amerika, The Fed, yang diproyeksikan akan kembali mengerek suku bunga pada akhir tahun.


Biang Kerok Anjloknya Rupiah: Inflasi Amerika yang Bandel

Pecahan

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, membedah lebih dalam alasan di balik keperkasaan dolar AS yang menekan rupiah. Lonjakan inflasi yang terus terjadi di Amerika Serikat menjadi aktor utamanya, di mana angka-angka terbaru menunjukkan tren yang melampaui ramalan pasar.

Berdasarkan analisis data makroekonomi terkini, berikut adalah rincian pemicu gejolak pasar saat ini:

  • Inflasi Headline Meroket: Secara tahunan, inflasi umum di AS melesat menyentuh angka 3,7 persen year on year (YoY), jauh melampaui konsensus pasar yang hanya menebak di angka 3,6 persen YoY. Angka ini mencetak rekor tertinggi sejak Mei 2026 akibat mahalnya biaya energi.

  • Inflasi Inti Ikut Panas: Bukan cuma energi, inflasi inti juga ikut-ikutan naik tajam menjadi 2,6 persen YoY (ekspektasi awal hanya 2,5 persen YoY) yang didorong oleh mahalnya biaya tempat tinggal (shelter) dan kendaraan.

Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar,

jelas Josua.


Ancaman Sikap Hawkish The Fed di Depan Mata

Kombinasi data ekonomi yang serba mahal di Amerika ini otomatis mengubah arah angin kebijakan moneter global.

Investor kini membaca situasi ini sebagai sinyal kuat bahwa The Fed tidak akan ragu untuk terus bersikap keras (hawkish) demi menjinakkan inflasi negaranya.

Baca juga:

Rupiah Hari Ini Tancap Gas Libas Dolar AS, Suku Bunga The Fed Batal Naik?

"Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tersebut memperkuat ekspektasi terhadap sikap The Fed yang hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar AS," ungkap Josua dinukil Antara.

Sampai dengan pagi ini, mayoritas pelaku pasar dan investor masih meyakini bahwa langkah pengetatan lanjutan berupa kenaikan suku bunga acuan The Fed akan benar-benar dieksekusi pada bulan Desember 2026 mendatang.

Sentimen inilah yang diperkirakan bakal terus membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Artikel Asli