Merawat Kebhinekaan dan Kearifan Lokal Benteng Terakhir NKRI
Senin, 18 September 2017 -
MerahPutih.com - Kebhinekaan dan kearifan lokal sejatinya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat agar terhindar dari politik adu domba. Selain itu, kebhinekaan dan kearifan lokal menjadi benteng terakhir dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Untuk menjaga kebhinekaan dan kearifan lokal yang ada tentu juga harus dengan kewaspadaan. Kewaspadaan ini agar supaya berbagai macam perbedaan yang dimiliki bangsa ini tidak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memecah belah bangsa ini,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag di Jakarta, Senin (18/9).
Menurut dosen pasca sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini usaha-usaha kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan bangsa ini dengan cara-cara adu domba sudah ada sejak dulu.
“Cuma sekarang cara yang dilakukan untuk mengadu domba sudah lebih banyak. Di antaranya melalui media, baik yang dilakukan media mainstream dan juga media sosial,” ujarnya.
"Ancaman lewat media mainstream itu lebih dari kepentingan pemilik modal. Sehingga perlu upaya agar pemilik media mainstream ini tetap menjaga obyektivitas dari medianya agar media sebagai pilar demokrasi yang keempat yaitu NKRI bisa tetap terjaga,” ujar pria kelahiran Klaten, 1 April 1961 ini.
Dikatakan Hamim, persatuan bangsa ini dalam bahaya jika media mainstream itu tidak dipercaya lagi oleh masyarakat. Karena masyarakat percayanya pada berita hoax.
Selain itu, Hamim menekankan pentingnya literasi dalam bermedia sosial. Apalagi saat ini sudah ada komunitas-komunitas penangkal hoax.
“Di dalam Islam sendiri sudah ada tradisi ajaran untuk melakukan tabayyun. Yakni, mencari penjelasan yang benar dari berita yang beredar di media sosial sehingga tidak menelan mentah-mentah,” ujarnya.
Untuk itu, menurutnya diperlukan penegakan hukum yang kua. Sehingga selain melalui kecerdasan bermedia melalui pendidikan maka penegakan hukum itu menjadi penting. (*)