Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Olahraga

Skandal Keuangan Manchester City: Dinyatakan Bersalah, Sanksi Belum Dijatuhkan

Soffi Amira - Rabu, 30 September 2026

MerahPutih.com - Dunia sepak bola kini telah menanti selama delapan tahun untuk mengetahui skala sebenarnya dari apa yang terjadi di Manchester City.

Namun, satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah seberapa besar dampak hukuman tersebut bagi mereka?

Baca juga:

Manchester City Ketahuan Gelembungkan Pendapatan Rp 19,6 Triliun, ini Rinciannya

Manchester City Terlibat Dana Fiktif Rp 19,6 Triliun

Manchester City gelembungkan dana Rp 19,6 triliun
Manchester City gelembungkan dana Rp 19,6 triliun. Foto: Dok. Manchester City
>Berdasarkan temuan dalam laporan Komisi Independen Premier League mengenai transaksi City selama sembilan tahun sejak musim 2009/10 sudah menunjukkan, betapa parahnya situasi tersebut.

Sky Blues terlibat dalam skema kontrak fiktif senilai 830 juta poundsterling (Rp 19,6 triliun), ditambah dana lebih dari 70 juta poundsterling (Rp 1,6 triliun) yang sumber aslinya sengaja disembunyikan.

Komisi menyatakan, bahwa penjelasan yang mengklaim dana tersebut sebagai bantuan pemerintah yang sah, merupakan tidak benar.

Pihak City bersikap tidak jujur dan memberikan keterangan palsu. Mereka melakukan pembayaran di luar pembukuan sebesar 9 juta poundsterling (Rp 212 miliar) kepada Roberto Mancini dan 7,4 juta poundsterling (Rp 174 miliar) kepada para pemain melalui pembayaran hak citra (image rights).

Selain itu, mereka juga menyembunyikan dana sebesar 24 juta poundsterling (Rp 567 miliar) yang berasal dari Abu Dhabi dan mencatatkan dana hak citra senilai 50 juta poundsterling (Rp 1,1 triliun) lainnya secara keliru dalam pembukuan.

Baca juga:

Manchester City Terancam Degradasi, Barcelona dan Real Madrid Pantau Situasi Erling Haaland

Namun, ini bukan sekadar hukuman berat, bukan pula sekadar kisah tentang pelanggaran dalam dunia sepak bola.

Hal tersebut menjadi kecaman keras atas perilaku tercela yang dilakukan secara sistematis dan masif, yakni jenis perilaku yang nyaris sulit dipercaya akal sehat.

City semestinya dinyatakan melanggar aturan Financial Fair Play UEFA serta aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan Premier League. Mereka akan dinyatakan gagal memenuhi semua ketentuan tersebut.

Begitu penyelidikan dimulai, pihak klub melakukan upaya terencana untuk menghambat dan menggagalkan proses investigasi Premier League.

Tidak mengherankan jika klub-klub lain menuntut tindakan tegas, kemudian memang wajar jika mereka bersikap seperti itu. Mulai dari klub-klub yang gagal meraih trofi, kehilangan kesempatan tampil di kompetisi Eropa, serta dirugikan.

Hukuman Berat Menanti Manchester City

Manchester City terancam hukuman berat hingga sanksi
Manchester City terancam hukuman berat hingga sanksi. Foto: Dok. Manchester City
>Lantas, hukuman seperti apa yang pantas dijatuhkan? Hukuman minimalnya, tentu saja, haruslah sesuatu yang membuat klub mana pun berpikir dua kali sebelum melakukan pelanggaran serupa.

Denda semata bukanlah solusinya. Ini adalah klub yang memiliki kekayaan luar biasa. Hukuman degradasi dalam bentuk apa pun dianggap tidak cukup.

Banyak pihak mungkin berpendapat, bahwa City seharusnya dikeluarkan dari Premier League. Namun, langkah tersebut kemungkinan masih belum cukup.

Mengutip dari The Sun, tidak ada gunanya mencabut trofi, membatalkan gelar, atau memberikan tanda khusus pada catatan prestasi tersebut. Gelar-gelar itu telah dimenangkan dan kenangan tidak bisa dihapuskan.

Namun, hukumannya harus seberat vonis yang dijatuhkan. Kecuali, City berhasil memenangkan banding, yang tampaknya sulit dilakukan mengingat temuan-temuan yang memberatkan tersebut.

Baca juga:

Manchester City Terancam Sanksi, Manchester United dan Liverpool Bisa Raih Gelar Premier League

Mereka seharusnya dijatuhi denda minimal 100 juta poundsterling (Rp 2,3 triliun) dan pengurangan minimal 80 poin, yang berarti degradasi otomatis.

City mungkin juga akan dilarang tampil mewakili sepak bola Inggris di kompetisi Eropa selama lima tahun.

Situasi ini akan terasa berat bagi para pemain yang ada saat ini, para penggemar, dan mereka yang kenangannya telah tercoreng.

Namun, noda itu tidak bisa dihapuskan. Ini adalah hari yang kelam bagi City sekaligus dunia sepak bola.

Kemudian, momen ini menjadi pembuktian bagi Premier League, khususnya bagi kepala eksekutif Richard Masters yang selama ini banyak menuai kritik. (*)

Baca Artikel Asli