Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Olahraga Indonesia

Indonesia Raih 5 Emas Asian Games 2026, Ketum NOC Soroti Sistem Pembinaan Olahraga

Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM – RAIHAN lima medali emas Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 memang melampaui target pemerintah. Namun, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari meminta capaian tersebut tidak membuat Indonesia cepat berpuas diri. Menurut Okto, persoalan olahraga Indonesia bukan semata-mata soal mampu atau tidaknya mencapai target medali.


Tantangan yang lebih besar yakni bagaimana prestasi tersebut diperluas ke lebih banyak cabang olahraga dan bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

“Lima emas tentu harus kita apresiasi. Namun, jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting yakni bagaimana lima emas ini bisa menjadi 10 dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite,” ujar Okto di Jakarta, Kamis (8/10).

Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia mengakhiri kompetisi dengan 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Namun, lima emas tersebut hanya berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.

Baca juga:

NOC Indonesia Buka Skema Cabor Berangkat Mandiri ke Asian Games 2026, Ada Syarat Ketat


Kondisi itu, kata Okto, seharusnya menjadi bahan evaluasi. Bukan hanya untuk melihat cabang olahraga yang gagal meraih medali, melainkan juga membedah mengapa empat cabang tersebut mampu menghasilkan prestasi.

Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya.

Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia)

Okto menilai Indonesia sebenarnya tidak kekurangan calon atlet. Dengan jumlah penduduk yang besar serta keberadaan sekolah dan klub olahraga di berbagai daerah, potensi atlet dinilai sangat melimpah. Masalahnya, potensi tersebut belum selalu ditemukan dan dikembangkan pada cabang olahraga yang tepat.


“Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science, seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya?” ujar Okto.


Oleh karena itu, ia mendorong sistem pencarian bakat yang lebih berbasis data, termasuk pengembangan konsep cross-sport talent. Menurutnya, atlet tidak seharusnya terjebak sejak awal hanya pada satu cabang olahraga apabila hasil pemetaan menunjukkan potensi yang lebih besar di cabang lain. “Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah,” tegasnya.

Okto juga menilai pembinaan atlet elite tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan kesinambungan mulai dari pelatih, kompetisi, sport science, nutrisi, fasilitas hingga kedokteran olahraga. Karena sumber daya terbatas, ia juga meminta Indonesia lebih berani menentukan cabang olahraga yang menjadi prioritas.

Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangi.

Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia)


Ia mengingatkan agar evaluasi terhadap prestasi olahraga tidak berhenti pada perdebatan mengenai pencapaian target. Kritik terhadap sistem pembinaan, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi bahan untuk memperbaiki kebijakan.

“Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data,” ujar Okto.

Dengan demikian, bagi Okto, angka lima emas pada Aichi-Nagoya 2026 bukanlah garis akhir.

“Indonesia tidak kekurangan potensi. Hal yang kita butuhkan yakni keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama,” pungkasnya.(knu)

Baca juga:

NOC Indonesia Perkuat Safe Sport dan Kesetaraan Gender bagi Atlet

Baca Artikel Asli