Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Fontaines D.C. Gandeng ROSALÍA di 'Where Is Gone?', Single Album Terbaru 'Dopamine Chamber'

Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026

MerahPutih.com - Fontaines D.C. resmi merilis Where Is Gone?, lagu kolaborasi bersama ROSALÍA yang menjadi single ketiga dari album terbaru mereka, Dopamine Chamber. Lewat lagu ini, band asal Irlandia tersebut menghadirkan pendekatan musikal yang berbeda melalui duet megah dengan balutan aransemen orkestra.

Fontaines D.C. terdiri dari Grian Chatten, Carlos O’Connell, Conor Curley, Conor Deegan, dan Tom Coll. Dalam Where Is Gone?, vokal Chatten berpadu dengan karakter vokal ROSALÍA, menciptakan warna baru dalam musik mereka melalui perpaduan melodi dan aransemen yang kaya.

Diproduseri oleh James Ford, lagu ini juga mencatatkan kolaborasi pertama dengan musisi lain dalam sebuah album Fontaines D.C.

Kolaborasi dengan ROSALÍA Punya Makna Personal

Bagi Carlos O’Connell, keterlibatan ROSALÍA dalam Where Is Gone? memiliki makna personal. Dalam beberapa waktu terakhir, ia kembali mempererat hubungannya dengan akar budaya Spanyol. Ia juga mengaku telah mengagumi ROSALÍA sejak penyanyi tersebut merilis album debutnya.

“Saya sudah menjadi penggemar ROSALÍA sejak album debutnya, yang benar-benar indah,” ujarnya.

Menurut Carlos, salah satu hal yang membuatnya tertarik terhadap ROSALÍA adalah kemampuannya mempertahankan tradisi musik Spanyol melalui karya-karyanya. Ia melihat semangat tersebut memiliki kesamaan dengan upaya Fontaines D.C. dalam menjaga warisan musik Irlandia.

Secara spiritual, hal itu terasa sejalan dengan apa yang kami usahakan lewat musik Irlandia. Bagi seseorang yang memiliki akar di kedua negara, menyaksikan hal itu terasa istimewa. Sejak awal, ia selalu menjadi artis yang membuat saya takjub di setiap tahap perjalanan kariernya,

Carlos O’Connell.

Dopamine Chamber Hadirkan Eksplorasi Musik yang Lebih Luas

Album Dopamine Chamber dijadwalkan meluncur pada Jumat, 16 Oktober, melalui XL Recordings.

Setelah Romance (2024), album yang telah meraih sertifikasi platinum di Inggris, Fontaines D.C. melanjutkan perjalanan musikal mereka dengan menjauh dari karakter gitar yang mendominasi karya-karya awal. Kali ini, mereka menghadirkan materi yang memadukan melodi kuat, nuansa gelap, dan aransemen yang lebih luas.

Sebelum merilis Where Is Gone?, band ini telah memperkenalkan Marianne dan Tongue. Ketiga lagu tersebut memberikan gambaran mengenai arah musikal album kelima mereka.

Dopamine Chamber digambarkan seperti kumpulan bintang yang muncul di balik kabut asap. Di dalamnya, balada-balada kuat dan melodi antemik hadir sebagai titik terang di tengah suasana yang muram.

Baca juga:

Rol3ert Rilis Single 'With you' Bareng Johnson, Siap Gelar Showcase Perdana di Jakarta

Mengulik Hubungan Kenikmatan dan Ketidakpastian Dunia

Di balik eksplorasi musikalnya, Dopamine Chamber mengangkat pertanyaan mengenai hubungan manusia dengan kenikmatan di tengah situasi dunia yang semakin tidak menentu.

Fontaines D.C. menelusuri bagaimana keinginan untuk memperoleh kesenangan berubah ketika manusia menghadapi berbagai ancaman. Album ini juga menggali hal-hal yang dapat diungkap oleh pengejaran kenikmatan tentang diri manusia.

Album ini sendiri adalah sebuah ruang dopamin. Kalian masuk ke dalamnya, lalu kami menguji berbagai karya musik yang dapat mengubah pikiran atau suasana hati kalian,

Grian Chatten.

Pernyataan tersebut menggambarkan gagasan di balik album ini: musik menjadi ruang untuk mengeksplorasi perubahan pikiran, emosi, dan suasana hati pendengarnya.

Dari Dogrel hingga Dopamine Chamber, Fontaines D.C. Terus Berubah

Sejak debut melalui Dogrel (2019), Fontaines D.C. dikenal terus menghindari pengulangan formula musikal. Mereka melewati sejumlah fase melalui A Hero’s Death (2020), Skinty Fia (2022), hingga Romance (2024).

Skinty Fia menduduki posisi puncak tangga album di Inggris dan Irlandia, sedangkan Romance menampilkan eksplorasi suara yang lebih berani dan beragam.

Kini, Dopamine Chamber disebut sebagai perubahan paling radikal yang pernah dilakukan band tersebut. Bersama produser James Ford, proses pengerjaan album berlangsung di London, kawasan pedesaan Inggris, serta Palermo, Italia.

Di Palermo, Chatten bahkan merekam vokalnya di sebuah bilik darurat yang dibuat menggunakan kasur dan bantal.

Baca juga:

Vacations Rilis Album 'Pursuit of Anything', Cerita Pergulatan Cinta, Ambisi, dan Pencarian Kebahagiaan

Grian Chatten Soroti Kegelisahan tentang Masa Depan Manusia

Bagi Chatten, album ini juga mencerminkan kegelisahan terhadap perubahan besar yang tengah dihadapi umat manusia.

Ia melihat adanya perasaan getir sekaligus menyentuh ketika manusia berada di ambang perubahan menuju bentuk kehidupan yang berbeda, bahkan kemungkinan kehilangan sisi kemanusiaannya.

“Ada perasaan yang menyentuh sekaligus getir bahwa kita berada di ambang bentuk kemanusiaan lain—atau bahkan non-kemanusiaan,” ujar Chatten.

Melalui album kelimanya, Fontaines D.C. membangun ruang untuk menguji bagaimana musik dapat memengaruhi pikiran, emosi, dan pengalaman pendengar. Dopamine Chamber menjadi wadah eksplorasi tersebut, sementara respons setiap pendengar menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dihadirkan band ini. (Far)

Baca Artikel Asli