Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Film 'Peluru Senja' Syuting 26 Hari di Hutan demi Cerita Perang Malaya 1948

Dwi Astarini - Senin, 26 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM - FILM Peluru Senja resmi tayang di bisokop seluruh Indonesia pada 23 Oktober 2026. Film ini diungkap melalui proses syuting yang menantang karena hampir sebulan berada hutan demi hadirkan latar belakang cerita secara realistis.

Asisten Sutradara Film Peluru Senja Richo Dharma mengatakan pihaknya melakukan syuting di tempat yang tidak biasa. Tim produksi berada di hutan selama 26 hari untuk menyelesaikan proses pengambilan gambar di hutan.

"Kalau untuk pembuatannya, itu kami lebih kurang untuk syuting day-nya itu 26 hari. Sebanyak 70 persen syuting dilakukan di hutan," kata dia saat ditemui dalam konferensi pers Peluru Senja di CGV Pacific Place, Jakarta Selatan, Jumat (23/10).

Film sejarah yang berlatar era Perang Malaya pada 1948 ini mengeksplorasi konflik setelah Perang Dunia II melalui sudut pandang penderitaan rakyat dan mantan prajurit.

Richo mengatakan selama proses produksi film ini menghadapi tantangan cuaca yang cukup berat karena sebagian besar lokasi pengambilan gambar berada di area terbuka. "Jadi cukup menantang. Waktu itu juga lagi musim hujan, sedangkan di cerita, tidak ada scene hujan. Jadi, mau enggak mau, kita ada beberapa yang kita ubah," ujar dia.

Baca juga:

Vino G. Bastian Berjuang Selamatkan Anak dalam Film Drama Terbaru 'Gasigogi'


Mengangkat Sisi Lain Perang Malaya 1948

Pemilihan latar sejarah Malaya pada 1948 menjadi pijakan utama alur cerita. Film ini berfokus pada dinamika konflik saat kekuasaan Kekaisaran Britania mulai runtuh di Asia Tenggara dan memicu berbagai pergerakan pemberontakan lokal. Richo menjelaskan ide awal cerita berakar dari keinginan sang penulis Peluru Senja Abhi Kumar untuk melihat perspektif perang di luar narasi kolonialisme Inggris.

"Kalau untuk mengangkat ceritanya ini sendiri, emang dari awal ide dari penulisnya, dia ingin tahu bagaimana perspektif perang di Malaysia bukan saat dijajah Inggris, melainkan saat perang itu sudah mau selesai. Inggris sendiri juga tidak mampu untuk lama-lama untuk berkoloni di Malaysia. Ada juga pemberontakan yang terjadi," kata Richo.


Ia menambahkan fokus narasi tidak menampilkan pertempuran berskala masif, tapi pergulatan personal antarkarakter. "Mungkin sama kayak Indonesia, mereka ingin berdekat juga. Ada perang-perang yang seperti itu. Nah, itu yang ingin diangkat. Di sini tidak akan ada perang yang luas seperti apa sebenarnya. Tapi memang lebih ke bagaimana konflik itu. Konflik untuk menyudahi perang ini. Juga ada konflik salah satu pemberontak yang juga sebenarnya ingin berdekat," lanjutnya.


Perjuangan Eks Prajurit dan Trauma Kolonialisme

Terinspirasi dari kisah nyata, Peluru Senja menyoroti perjalanan dua mantan prajurit pasukan khusus, Ishraq Wan dan Abraham Bennett, yang dikenal dengan julukan 'The Ghost and The Gun'. Keduanya berjuang mengatasi trauma perang di tengah kekacauan politik Malaya.
Konflik memuncak ketika mantan rekan seperjuangan mereka, Chin Liu, muncul kembali sebagai pengkhianat yang memimpin pemberontakan untuk merebut kekuasaan.

Dengan dibayangi kenangan pahit penyiksaan oleh Mayor Suneya, film ini mengupas dampak psikologis perang dan kolonialisme terhadap masyarakat kelas bawah.

Film ini dibintangi aktor papan atas Malaysia ada Hazman Al-Idrus, Fabian Loo, Brett Tutor, dan Asmara Abigail.(Tka)

Baca juga:

Sha Ine Febriyanti dan Abimana Aryasatya Bertemu di 'Secrets', Film Thriller Terbaru Netflix





Baca Artikel Asli