MerahPutih.com - Kelompok suporter Persib Bandung, Viking Persib Club (VPC) mendukung penghapusan aturan larangan suporter away di Super League. Penghapusan berpotensi dilakukan, sesuai yang disampaikan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir sebelumnya.
Dukungan VPC sejalan dengan kampanye yang digaungkan musim 2026/2027, yaitu ‘no denda’.
Di musim ini kita akan mau gaungkan ‘no denda atau zero’. Nah cuma kan kalau ada larangan away bagaimanapun pasti ada denda aja, karena Bobotoh itu nggak akan bisa dilarang untuk menonton Persib,
kata Ketua Umum VPC, Tobias Ginanjar Sayidina, Rabu (8/7).
Tobias menjelaskan bahwa laga away biasanya dijadikan suporter untuk silaturahmi. Terkait kekhawatiran, ia yakin bisa ditangkal.
Baca juga:
Bantah Gabung Persib Bandung, Striker Polandia Patryk Klimala Merasa Belum Tuntas dengan FC Seoul
“Kalaupun ada risiko-risiko bentrok dan lain sebagainya kan sebenarnya itu bisa dimitigasi. Karena ada aparat keamanan, ada koordinasi awal sebelum pertandingan dan lain sebagainya, kan pasti aparat keamanan punya pertimbangan lah apakah suporter tersebut boleh datang atau tidak,” ujar Tobias.
“Jadi sebenarnya sangat baik kalau dihapus, jadi tidak dipukul rata semua tidak boleh gitu. Tapi dikembalikan kepada hubungan antar kedua suporter dan dikembalikan kepada pertimbangan dari kepolisian,” sambungnya.
Berlaku Setelah Tragedi Kanjuruhan
Larangan terhadap suporter untuk menemani tim bertandang diterapkan setelah Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang merenggut sekitar 135 korban jiwa.
Erick mengatakan, dalam kasus ini FIFA memberikan catatan cukup kompleks kepada sepak bola Indonesia. Apabila ada pelanggaran soal suporter lagi, kata Erick, izin ini bisa dicabut kembali.
Artinya, saya sudah ingatkan liga, PSSI sudah berupaya, FIFA terbuka, dan saya minta liga dan klub bertanggung jawab dengan tadi keputusannya kalau ini ada away dan sewaktu-waktu itu bisa dicabut kembali,
ucap Erick.
"Kita harus pastikan semua suporter bisa pulang ke rumah dengan selamat. Dan sangat sedih kalau kita lihat kasus kekerasan itu di Indonesia makin tinggi hari ini," kata dia. (*)