Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

DPRD DKI Minta Tarif LRT Jakarta Terjangkau dan Terintegrasi Transum Lainnya

Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026

MERAHPUTIH.COM - PRESIDEN RI Prabowo Subianto bersama Gubernur Pramono Anung telah meresmikan LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai pada Rabu (16/9). Rute tersebut memiliki panjang 12,2 kilometer dengan 11 stasiun dan memakan waktu sekitar 28 menit. Pada awal operasional, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan tarif khusus Rp 8 hingga 23 September 2026. Setelah masa tersebut, tarif sementara ditetapkan flat Rp 5.000.

Adapun tarif resmi LRT Kelapa Gading-Manggarai akan diputuskan pada Oktober 2026. Anggota Komisi B Wa Ode Herlina meminta tarif LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai ramah di kantong masyarakat.

"Kalau tarifnya terjangkau dan terintegrasi, ini bisa menjadi insentif meninggalkan kendaraan pribadi," kata Wa Ode dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9).

Wa Ode juga menekankan penetapan tarif harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat. Namun, pemerintah tetap perlu menghitung kebutuhan subsidi melalui skema public service obligation (PSO). Dengan begitu, kualitas dan keberlanjutan layanan tetap terjaga.

"LRT, Transjakarta, Mikrotrans, KRL harus terasa sebagai satu sistem," tegas dia.

Baca juga:

Mulai Hari ini Naik LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai Dikenai Tarif Rp 5.000



Di sisi lain, Wa Ode mendukung rencana keterlibatan Danantara dalam pembiayaan pembangunan LRT Jakarta. Menurutnya, skema pembiayaan tersebut perlu dikaji secara matang. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur transportasi tidak sepenuhnya membebani APBD. "Skema pembiayaannya bisa dikaji agar tidak terlalu membebani APBD," tuturnya.

Ia juga meminta pengoperasian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai tidak berhenti pada penyelesaian infrastruktur. LRT harus terhubung secara efektif dengan Transjakarta, Mikrotrans, KRL, serta moda transportasi lainnya. Menurut dia, keberadaan LRT tidak akan optimal jika masyarakat masih kesulitan berpindah dari satu moda ke moda lainnya.

"Hal yang penting bukan hanya LRT selesai, melainkan terhubung dengan moda lain," ujarnya.

Ia menilai Mikrotrans perlu diperkuat sebagai angkutan pengumpan atau feeder menuju stasiun-stasiun LRT. Penguatan konektivitas dari kawasan permukiman menuju stasiun dinilai penting untuk memperluas jangkauan layanan. Selain konektivitas antarmoda, Wa Ode juga mendorong penambahan fasilitas park and ride di kawasan Manggarai. Fasilitas tersebut dapat menjadi pilihan bagi warga yang masih menggunakan kendaraan pribadi. Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi publik.

"Kalau tarifnya terjangkau dan terintegrasi, ini bisa menjadi insentif meninggalkan kendaraan pribadi," kata dia.

Wa Ode juga menekankan, penetapan tarif harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat. Namun, pemerintah tetap perlu menghitung kebutuhan subsidi melalui skema public service obligation (PSO). Dengan begitu, kualitas dan keberlanjutan layanan tetap terjaga.

"LRT, Transjakarta, Mikrotrans, KRL harus terasa sebagai satu sistem," tegasnya.(Asp)




Baca juga:

Pengguna LRT Jabodebek Meningkat, Pertumbuhan Penumpang Capai 23 Persen

Baca Artikel Asli