Merahputih.com - Roberto De Zerbi resmi melatih Tottenham Hotspur guna menyelamatkan klub dari ancaman degradasi Liga Inggris musim ini. Tottenham Hotspur mengambil langkah berani dengan menunjuk pelatih asal Italia tersebut di tengah performa tim yang terjun bebas.
Sejak Desember, klub asal London Utara gagal meraih satu pun kemenangan di Premier League, sehingga posisi tim kini hanya terpaut satu poin dari zona merah. Manajemen Spurs akhirnya menyetujui tuntutan kontrak jangka panjang berdurasi lima tahun demi meyakinkan mantan pelatih Brighton tersebut untuk segera memimpin skuad.
Baca juga:
Perubahan Gaya Main dari Bola Panjang ke Ball Possession
Tantangan besar menanti De Zerbi karena ia harus mengubah filosofi permainan tim secara instan. Statistik menunjukkan Tottenham musim ini lebih sering mengandalkan bola-bola panjang dan menempati peringkat ke-11 dalam penguasaan bola dengan 49,6%.
Gaya tersebut sangat kontras dengan taktik press-baiting dan umpan pendek yang menjadi ciri khas De Zerbi. Skuad Spurs harus belajar dengan cepat tanpa waktu adaptasi demi meraih poin penuh dalam sisa laga krusial musim ini.
Gaya Berisiko Tinggi ala De Zerbi-ball
Roberto De Zerbi membawa filosofi sepak bola yang sangat kontras dengan taktik pragmatis. Pelatih asal Italia ini menuntut keberanian pemain untuk menguasai bola bahkan di area penalti sendiri guna memancing lawan keluar.
Selama menukangi Brighton, ia mencatatkan rata-rata 159,8 operan per pertandingan di sepertiga pertahanan sendiri, angka tertinggi di liga.
Strategi ini memang menghasilkan peluang besar, namun juga memicu risiko blunder yang fatal.
"De Zerbi bersikeras agar para pemain tetap berpegang teguh pada senjatanya, memainkan bola dengan cara yang dia inginkan meskipun di bawah tekanan tinggi," ujar Ithiel Piñero, seorang analis data sepak bola dikutip Opta Analis.
Baca juga:
Roberto De Zerbi Jadi Kandidat Utama Pelatih Baru Tottenham Hotspur Setelah Igor Tudor
Persamaan Nasib dengan Era Postecoglou
Karakter permainan De Zerbi menunjukkan kemiripan mencolok dengan gaya Ange Postecoglou: komitmen total pada penguasaan bola, garis pertahanan tinggi, dan intensitas pressing yang agresif.
Meskipun Brighton pernah mencetak rekor mencetak gol dalam 32 pertandingan berturut-turut, mereka juga rentan kebobolan lewat serangan balik.
Kini, tantangan besar menanti skuad Tottenham untuk beradaptasi cepat dengan transisi gaya main ini di tengah badai cedera dan tuntutan hasil instan.