Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Awas Tergelincir! Prediksi IHSG Hari Ini Uji Level Psikologis 6.000, Sentimen Inflasi Jadi Penentu

Angga Yudha Pratama - Jumat, 02 Oktober 2026

Merahputih.com - Pergerakan IHSG hari ini diprediksi kembali menguji level psikologis krusial di posisi 6.000, memaksa para investor untuk meracik ulang strategi portofolio mereka.

Dinamika prediksi IHSG 2026 ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik, seperti kenaikan inflasi, serta ketegangan pasar global yang belum sepenuhnya stabil.

Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebenarnya sempat mencicipi udara segar dengan penguatan 0,14 persen ke posisi 6.018,08, sejalan dengan laju indeks LQ45 yang juga merangkak naik tipis.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Dibuka Loyo, Tarik-Ulur Subsidi APBN 2027 dan Suku Bunga Global Bikin Market 'Wait and See'

Sayangnya, pergerakan bursa saham global dan fluktuasi harga minyak dunia terus memberikan tekanan beruntun yang berpotensi membalikkan arah angin kapan saja.

Tekanan ini membuat target mempertahankan level psikologis IHSG 6.000 menjadi tantangan berat bagi para pelaku pasar menjelang akhir pekan.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memberikan penekanan khusus terkait skenario terburuk yang bisa terjadi jika indeks kehabisan tenaga.

Apabila IHSG ditutup di bawah level 6.000, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di posisi 5.800 hingga 5.900,

papar Ratna.

Guncangan Global: Anomali Obligasi AS dan Memanasnya Timur Tengah

Pengunjung

Beralih ke radar internasional, obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menjadi primadona yang menyedot perhatian trader.

Terjadi pergeseran tren di mana pelaku pasar mulai memborong surat utang setelah sebelumnya ramai-ramai melakukan aksi jual.

Menariknya, instrumen bertenor pendek justru lebih laku keras karena meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Sebaliknya, obligasi bertenor panjang malah tertekan oleh bayang-bayang inflasi jangka panjang.

Di sektor komoditas, harga minyak dunia makin mendidih. Minyak mentah berjangka Brent melonjak 4,4 persen hingga menembus 102 dolar AS per barel pada penutupan Kamis (1/10).

Kenaikan tajam ini dipicu oleh kabar merapatnya kapal induk USS Theodore Roosevelt ke kawasan Timur Tengah akhir November nanti, yang langsung memantik kekhawatiran eskalasi konflik pasca-pemilu AS.

Data Domestik: Inflasi Merangkak Naik, Surplus Dagang Mengesankan

Dari dalam negeri, catatan inflasi Indonesia pada September 2026 menyentuh angka 3,28 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih panas dibandingkan bulan Agustus. Kabar baiknya, inflasi inti masih sangat terkendali di level 2,84 persen.

Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan permintaan domestik belum terlalu agresif, sehingga Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar belum akan buru-buru menarik rem kebijakan moneter.

Meski begitu, lonjakan harga pangan tetap harus dikawal ketat agar tidak menggerus daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Indonesia sukses mencetak surplus neraca perdagangan yang fantastis senilai 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026.

Ekspor kita melesat tumbuh 6,72 persen (yoy). Namun, jangan keburu puas dulu. Laju impor yang meroket tajam hingga 19,09 persen (yoy) tetap menjadi alarm kewaspadaan karena berpotensi menggerus pundi-pundi surplus di masa depan, apalagi jika permintaan global mendadak lesu.

Rapor Beragam Bursa Asia dan Wall Street

Melirik ke negara tetangga, pergerakan bursa saham Asia Jumat pagi ini terpantau campur aduk. Indeks Nikkei, KOSPI, dan Hang Seng kompak masuk zona merah dan terkoreksi. Namun, bursa Shanghai dan Straits Times masih sanggup menahan gempuran dengan mencetak penguatan tipis.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Merah Padam Meski Rupiah Menguat, Ada Apa Sebenarnya?

Kondisi serupa juga terjadi di Eropa, di mana indeks utama seperti Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC 40 Prancis semuanya kompak ditutup loyo pada Kamis. Beruntungnya, bursa Wall Street justru memberikan secercah optimisme.

Indeks S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average asyik berpesta di zona hijau, memberikan sedikit sentimen positif untuk menutup perdagangan pekan ini.

Baca Artikel Asli