Tantangan Pemilu 2019

Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin saat mendaftar sebagai bakal calon presiden dan wakil presiden di KPU. Foto: @KPU_ID

Lebih jauh, Sinatra memperkirakan bahwa partai peserta Pemilu 2019 akan menghadapi tantangan dalam membagi usaha dan sumber daya partai untuk memenangkan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 dan Pilpres 2019.

Meski partai-partai bisa diuntungkan oleh coattail effect melalui aliansi dengan salah satu kandidat, situasi ini juga dapat menimbulkan beberapa masalah. Sebagai contoh, kader Partai Demokrat dan PAN dilaporkan ragu-ragu untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi di beberapa daerah pendukung kuat pasangan Jokowi-Ma’ruf, seperti di Manado dan Jawa Timur.

“Koalisi partai juga tidak absolut. Seperti misalnya, beberapa kader Partai Demokrat diberi kebebasan untuk mengkampanyekan pasangan Prabowo-Sandi. Alasan yang diberikan adalah untuk memaksimalkan kesempatan Partai Demokrat memenangkan Pileg 2019,” kata Sinatra yang meraih gelar Master dari Nanyang Technological University, Singapore itu menambahkan.

Penentu Besar

Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin. ANTARA FOTO

Sementara itu, analis Economics, Trade and Regional Integration Institute of Strategic and International Studies Malaysia, Dwintha Maya Kartika menuturkan, pihaknya menemukan faktor kepribadian calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) menjadi penentu besar untuk memenangkan hati lebih dari 180 juta pemilih di Indonesia.

Berdasarkan temuan beberapa lembaga survei, kata dia, secara konsisten elektabilitas Jokowi lebih tinggi daripada Prabowo dalam satu tahun terakhir, bahkan setelah pengumuman cawapres di bulan Agustus 2018 lalu.

“Beberapa pengamat politik berpendapat bahwa Prabowo akan menjadi pemimpin otoriter jika terpilih menjadi presiden disebabkan oleh citra “strongman” yang lekat dengan Prabowo. Akan tetapi, Presiden Jokowi-lah yang telah memperlihatkan kecenderungan dalam menunjukkan karakter otoriter selama masa jabatannya,” papar Maya yang merupakan jebolan dari London School of Economics and Political Science (LSE) itu.

Maya menambahkan, pencalonan cawapres Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno juga telah mengubah dinamika Pilpres 2019. Pada awalnya, lanjut dia, isu-isu primordial diprediksi akan digunakan oleh kubu Prabowo. Namun Jokowi mematahkan peluang tersebut dengan mengusung Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya.

Pasangan Prabowo-Sandi saat Deklarasi Kampanye Damai di Monas, Jakarta, Minggu (23/9) (Foto: Twitter @fadlizon)

“Sayangnya taktik ini juga menunjukkan bahwa Jokowi telah mengesahkan keberadaan politik identitas dalam pertarungan Pilpres 2019. Pencalonan Sandi juga memperlihatkan bahwa kubu Prabowo telah memprioritaskan isu-isu ekonomi sebagai sebuah taktik untuk menyerang kubu Jokowi,” terang Maya. (*)