Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

WHO: Indonesia Berada di Urutan 20 Besar Gizi Buruk

Dwi Astarini - Sabtu, 31 Agustus 2019

STUNTING masih menjadi salah satu isu yang berkaitan dengan gizi buruk di Indonesia. Berdasarkan data yang dipublikasikan World Health Organization (WHO), Indonesia berada di urutan 17 dari 117 negara yang memiliki masalah stunting, wasting, dan overweight.

Apa itu stunting?

Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan adanya malanutrisi kronis akibat asupan zat gizi kronis atau penyakit kronis atau infeksi berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan per usia di bawah 2 kurva WHO. Tak hanya memengaruhi pertumbuhan, stunting juga mengakibatkan gangguan kognitif dan kesehatan sehingga anak mudah sakit.

BACA JUGA: Ingin Punya Senyum Sehat? 4 Hal Ini Perlu Diperhatikan saat Menyikat Gigi

Representatif Divisi Tumbuh Kembang, Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Indonesia, Bernie Endyarsie Medise mengatakan ada tiga faktor yang dapat menyebabkan stunting pada anak. "Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, ada tiga faktor yang memengaruhi stunting yakni genetik, nutrisi, dan lingkungan," ujarnya.

Dr Bernie
Representatif Divisi Tumbuh Kembang, Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Indonesia, Bernie Endyarsie Medise. (foto: MP/iftinavia pradinantia)

Faktor nutrisi biasanya meliputi ASI eksklusif rendah, ketidakmampuan membeli susu formula dengan harga mahal, rendahnya pengetahuan ibu akan jenis makanan yang mengandung gizi tinggi, dan defisiensi mikro dan makronutrien. Para ibu yang tidak memiliki pengetahuan akan makanan bergizi lebih memilih untuk memberikan jajanan rendah nutrisi untuk anak mereka selama anak mau makan. Bagi mereka, asalkan anak mau makan dan kenyang, semuanya beres. Tak peduli kandungan apa yang ada di dalam makanan yang dikonsumsi. Beberapa jajanan favorit anak pun mengandung racun yang membahayakan kesehatan si kecil.

"Kalau untuk faktor lingkungan, biasanya meliputi shifting konsumsi, pernikahan dini, dan kebiasaan merokok pada orangtua," tuturnya. Kebiasaan merokok tak hanya dapat memengaruhi kualitas udara yang dihirup anak, tetapi juga memengaruhi kualitas makanan yang dikonsumsi si anak. Senada dengan hipotesis milik Bernie, kelompok peneliti dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia juga menemukan hasil serupa.

Dalam melakukan penelitian tersebut, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia menggunakan metode wawancara mendalam dengan sejumlah narasumber dan literature review. "Dari temuan yang diperoleh dari beberapa informan, merokok sudah menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama pria," ujar salah seorang peneliti, Teguh Dartanto.

teguh darnanto
Teguh Darnanto (kanan). (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

"Jika dilihat dari segi besaran uang yang dikeluarkan, proporsi uang untuk membeli rokok relatif besar terutama jika dibandingkan dengan rata-rata pendapatan warga di desa. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa pengeluaran untuk rokok sering kali menjadi prioritas utama bahkan di atas belanja makanan dan kebutuhan sehari-hari," lanjutnya lagi. Akibatnya, pengeluaran untuk belanja pokok harus dikurangi demi memenuhi kebutuhan rokok.

Dari penelitian tersebut, para peneliti Universitas Indonesia yang berkumpul di
merekomendasikan beberapa hal seperti pengendalian konsumsi rokok dan pemberian edukasi untuk orangtua agar anak makan dengan teratur dan mengontrol jajan.

Dengan demikian, dapat tercipta generasi muda yang cerdas, sehat, dan bebas stunting.(avia)

BACA JUGA: Tiga Hal Penting untuk Dihindari Agar Gigi Sehat

Baca Artikel Asli