Merahputih.com - Kisruh terkait jadwal Liga Bangladesh belakangan ini sukses memicu protes klub Liga Bangladesh yang merasa sangat dirugikan akibat kalender kompetisi yang sering terpotong agenda timnas.
Sebanyak 10 klub secara resmi menuntut Bangladesh Football Federation (BFF) agar menggelar kompetisi liga dan Federation Cup tanpa jeda demi menyelamatkan stabilitas finansial dan performa para pemain.
Baca juga:
Polemik seputar jadwal Liga Bangladesh ini memanas ketika 10 klub tersebut menyerahkan proposal yang berisi enam poin pengamatan langsung kepada Presiden BFF, Tabith Awal, awal pekan lalu.
Mereka secara tegas menolak rencana kick-off musim baru pada 18 September mendatang, mengingat ada sekitar 28 pemain pilar yang masih tertahan di pemusatan latihan timnas.
Absennya puluhan pemain yang sedang digenjot oleh pelatih asal Jerman-Amerika, Thomas Dooley, untuk persiapan FIFA ASEAN Cup di Indonesia (21 September - 6 Oktober) ini jelas bikin klub pusing tujuh keliling meracik formasi.
Alasan di Balik Gelombang Protes Klub

Bukan tanpa alasan klub-klub ini merasa gerah. Terlalu seringnya kompetisi domestik diliburkan demi mengakomodasi kalender timnas nyatanya membawa efek domino yang merusak.
Para pengurus klub mengeluhkan bahwa jeda yang berulang-ulang tidak hanya bikin kas tim boncos, tapi juga menghancurkan ritme pertandingan, kebugaran fisik, hingga kesiapan mental para pemain di lapangan.
Kekhawatiran ini makin beralasan karena setelah ASEAN Cup selesai, kalender domestik bakal kembali dihantam jeda panjang akibat turnamen SAFF Championship yang dijadwalkan berlangsung di Dhaka pada 4 hingga 17 November mendatang.
Terkait kerugian ini, perwakilan klub melontarkan pertanyaan tajam dan menuntut tanggung jawab penuh dari federasi:
Jika liga dan Federation Cup terus-menerus dihentikan demi kepentingan tim nasional, langkah apa yang akan diambil BFF untuk memberikan kompensasi kepada klub?,
tegas pernyataan bersama klub-klub tersebut.
6 Poin Tuntutan Krusial kepada BFF
Meski tiga klub besar seperti juara bertahan Bashundhara Kings, Fortis FC, dan Bangladesh Police FC memilih untuk tidak ikut menandatangani petisi ini, 10 klub lainnya tetap solid menyuarakan hak mereka.
Baca juga:
Berikut adalah beberapa poin krusial yang mereka tuntut dari federasi:
-
Kompensasi Finansial: Bantuan dana dari BFF untuk menutup biaya operasional pemusatan latihan dan gaji pemain selama liga ditangguhkan.
-
Uang Partisipasi: Adanya alokasi dana partisipasi (participation money) yang jelas bagi klub yang berlaga.
-
Hak Suara Komite: Perwakilan klub wajib dilibatkan secara langsung dalam Komite Liga Sepak Bola Profesional (PFLC).
-
Venue Pertandingan: Meminta agar pertandingan dapat diselenggarakan di Stadion Nasional.
-
Kalender Seimbang: Penyusunan jadwal liga yang lebih masuk akal dan tidak mengorbankan kepentingan klub di tengah agenda tim nasional.
Dengan adanya tuntutan ini, bola panas kini berada di tangan BFF. Publik sepak bola tentu menanti langkah apa yang akan diambil Tabith Awal cs agar kompetisi domestik tetap bergengsi tanpa harus mengorbankan performa tim nasional di kancah internasional.