Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

The Brandals Kembali dengan Album 'Oposisi', dari Musik Elektronik hingga Cerita Pekerja Urban

Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 03 Oktober 2026

MerahPutih.com - Setelah memperkenalkan sejumlah single seperti Jari Kasar, Di Pinggir Marjin, Langit Biru, dan Ke Timur sejak September 2025, The Brandals membuka babak baru melalui album studio keenam mereka, Oposisi.

Sebelum dirilis pada 30 September 2026, The Brandals lebih dulu memperkenalkan single 1948 pada 15 September. Lagu ini mengangkat tema Nakba, istilah dalam bahasa Arab yang merujuk pada malapetaka atau bencana, khususnya peristiwa pengusiran massal warga Palestina dari tanah mereka pada 1948.

Melalui 1948, The Brandals menyoroti sejarah konflik dan penderitaan rakyat Palestina yang terus berlanjut hingga hari ini, sekaligus menyuarakan semangat pembebasan Palestina.

'1948' Jadi Pengantar Menuju 'Oposisi'

1948 hadir dengan balutan aransemen post-punk dan kembali mempertemukan The Brandals dengan duo produser Jonathan Mono dan Jonathan Pardede.

Keduanya juga terlibat dalam pengerjaan keseluruhan materi Oposisi, yang prosesnya telah dimulai sejak September 2024.

Sebanyak 10 lagu menjadi bagian dari album tersebut. Proses kreatifnya memperlihatkan keinginan The Brandals untuk terus bergerak keluar dari zona nyaman.

Secara musikal, Oposisi menunjukkan kecenderungan The Brandals untuk terus mencari kemungkinan baru. Eksperimen, eksplorasi, dan keberanian mengambil risiko menjadi bagian penting dalam proses penggarapan album.

Meski menjelajahi berbagai wilayah bunyi yang belum pernah mereka datangi sebelumnya, The Brandals tetap berupaya mempertahankan karakter sebagai salah satu unit rock independen yang telah bertahan selama seperempat abad.

Sentuhan Musik Elektronik Perkaya Warna Album

Kehadiran Jonathan Mono dan Jonathan Pardede turut memberikan warna baru dalam proses kreatif Oposisi.

Latar belakang keduanya yang kuat di ranah produksi musik elektronik membawa sejumlah elemen dan palet suara baru ke dalam musik The Brandals.

Proses rekaman berlangsung secara produktif melalui hubungan kreatif yang dinamis antara band dan produser. Perbedaan gagasan dan proses saling menantang justru membuka ruang untuk menghasilkan berbagai terobosan baru.

Eksplorasi tersebut membuat sejumlah materi dalam Oposisi bergerak menjauh dari ekspektasi mengenai seperti apa musik The Brandals seharusnya terdengar.

Salah satu pijakan mereka datang dari musik dekade 1980-an hingga 1990-an, ketika rock, hip-hop, dan elektronik mulai saling beririsan dan melahirkan berbagai bentuk baru.

Sejumlah nama seperti Chic dan Nile Rodgers, INXS, Tears for Fears, Suicide, Blondie, The Clash, Bauhaus, Eric B. & Rakim, De La Soul, Paul Weller, The Style Council, The Stone Roses, hingga Happy Mondays menjadi beberapa referensi yang turut memengaruhi proses penggarapan album.

Baca juga:

The Brandals Rilis 'Di Pinggir Marjin', Suara Kelas Pekerja Urban

Formasi Baru The Brandals

Oposisi juga menandai fase baru dari sisi formasi The Brandals.

Setelah gitaris Tony Dwi Setiaji meninggalkan band pada awal 2021 dan drummer Firman Zaenudin pada pertengahan 2023, The Brandals kembali menjadi kuartet di tengah proses pengerjaan album.

Posisi drummer kemudian diisi Ghani Noorputrawan yang bergabung pada awal 2025. Kehadiran drummer muda tersebut membawa energi baru sekaligus suntikan tenaga dalam proses kreatif album.

'Oposisi' dan Sikap The Brandals

Jika musik menjadi salah satu wilayah eksplorasi utama, tema menjadi fondasi lain yang membuat “Oposisi” terasa personal bagi The Brandals.

Pemilihan judul album membawa pesan mengenai keberpihakan dan sikap yang ingin mereka tunjukkan di tengah kondisi sosial-politik Indonesia.

The Brandals melihat situasi politik nasional beberapa tahun terakhir sebagai latar penting bagi lahirnya album ini.

Melalui Oposisi, mereka ingin menghadirkan ruang bagi suara masyarakat sipil yang menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan dan manuver negara, terutama yang dinilai berdampak terhadap kelompok pekerja.

Baca juga:

The Brandals Rilis 'Ke Timur', Padukan Hip-Hop Klasik dengan Kritik Sosial

Kisah Pekerja Urban hingga Persoalan Lingkungan

Semangat tersebut hadir melalui sejumlah lagu di dalam album.

Di Pinggir Marjin misalnya, membawa kisah tentang kehidupan pekerja urban. Sementara itu, Jari Kasar menghadirkan kolaborasi dengan duo punk elektronik asal Purbalingga, Sukatani.

Ke Timur memperlihatkan rap Eka Annash yang merangkum gambaran tentang situasi dalam negeri melalui rangkaian lirik dengan nada yang tajam.

Keresahan terhadap persoalan lingkungan juga mendapat tempat melalui Langit Biru, yang membawa narasi reflektif mengenai kerusakan alam.

Di sisi lain, lagu Midnight, Dharmawangsa Parking Lot memberikan ruang yang lebih introspektif di tengah keseluruhan materi album.

Merekam Perjalanan sebagai Kelas Pekerja

Di balik berbagai isu sosial dan politik yang diangkat, Oposisi juga berangkat dari pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan para personelnya.

Album ini turut merekam perjalanan mereka sebagai kepala keluarga dari kelas pekerja yang harus terus berjuang menghadapi tuntutan hidup sekaligus kerasnya kehidupan kota urban.

Dengan berbagai lapisan cerita tersebut, Oposisi menjadi bagian terbaru dari perjalanan The Brandals yang telah berlangsung selama 25 tahun.

Album ini tidak hanya memperlihatkan upaya The Brandals memperluas batas musikal, tetapi juga menjadi dokumentasi atas kegelisahan, pengalaman, dan sikap yang tumbuh dari perjalanan panjang mereka di skena musik independen. (Far)

Baca Artikel Asli