Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Ternyata Perempuan Tak Tertarik Pria Baik-Baik

P Suryo R - Senin, 27 November 2017

GENDER, pria dan perempuan, memiliki anggapan-anggapannya sendiri. Seperti perempuan dianggap bisa mendapatkan orgasme berulang-ulang, atau pria tidak bisa berada dalam zona pertemanan dengan seorang wanita.

Anggapan-anggapan itu menjadi stereotype pada masing-masing gender. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah kebenaran dari anggapan-anggapan itu. Penelitian-penelitian yang dilakukan justru menunjukan hal yang sebaliknya.


Zona Pertemanan

Seperti yang dituliskan dalam laman lifehack, kalau pertemanan lawan jenis hanya sebatas pertemanan semata saja. Namun peneliti menemukan hal yang sebaliknya. Seperti eksperimen yang dilakukan oleh University of Wisconsin-Eau Claire, pada 88 pasangan pertemanan lain jenis.

Para peneliti melihat bahwa pria lebih tertarik pada temannya sendiri ketimbang pertemanannya. Para teman pria lebih ingin melakukan kencan dengan temannya sendiri ketimbang dengan perempuan lainnya. Sebaliknya pada perempuan tidak tertarik pada pria yang sudah memiliki hubungan dengan perempuan lain.

Seperti tulisan dengan penelitian yang sama dalam Scientific American, menyebutkan bahwa pria yang menjalin hubungan pertemanan dengan perempuan, sebenarnya sangat sulit menyebut dirinya 'hanya teman'.

Sulit bagi seorang pria menjalin hubungan platonik dengan perempuan. Sebaliknya perempuan menghargai hubungan platonik itu.


Pria Baik-Baik

Menurut artikel di Newsweek hasil dari penelitian University of Rochester, University of Illinois di Urbana-Champaign dan Interdisciplinary Center (IDC) Herzliya di Israel, menyimpulkan pria selalu mencari perempuan baik-baik, sedangkan perempuan justru sebaliknya pria baik-baik tidak menarik.

Dalam penelitian itu, responden dipasangkan dengan lawan jenisnya yang belum pernah bertemu sebelumnya. Mereka mengukur penerimaan dan ketertarikan masing-masing. Pria lebih menunjukan tanda penerimaan pada perjumpaan pertama. Pria menyebutkan penerimaan itu lebih pada sisi feminin dan daya tarik.

Sebaliknya perempuan sama sekali tidak melihat penerimaan sebagai bentuk ketertarikan. Mereka menganggap pria yang mudah menerima adalah karakter rapuh dan tidak dominan. Mereka tidak tertarik pada pria yang berusaha untuk memuaskan lawan jenisnya, menunjukan kebaikan dan keperkasaan.


Orgasme

Menjadi stereotype bahwa perempuan dapat memperoleh multi orgasme. Padahal menurut tulisan di laman lifehack hasil penelitian The Kinsey Institute, menunjukan bahwa hanya 64% responden perempuan mendapatkan orgasme. Sedangkan 85% responden pria menjawab bahwa pasangannya mendapatkan orgasme. Para penliti menganggap adanya kesalahan pemahaman dari pada pria.

Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa 62% responden perempuan mengaku mendapatkan orgasme memuaskan kala sendiri ketimbang dengan pasangannya. Mereka merasa puas dengan orgasmenya bila terhubung dengan seseorang.

Penelitian orgasme yang dilakukan oleh Brown University menunjukan perempuan membutuhkan waktu mencapai orgasme kurang dari empat menit kala masturbasi, sedangkan pria dua atau tiga menit. Dalam foreplay atau intercourse, pria membutuhkan waktu mencapai orgasme sekitar 7-14 menit setelah 2-3 menit melakukan intercourse. Sedangkan perempuan butuh waktu sekitar 10-20 menit mencapai orgasme.

Membantu perrmpuan mendapatkan orgasme dengan cepat adalah melakukan foreplay ciuman yang lama. Dengan demikian mereka lebih santai. Perbaiki pula masalah komunikasi untuk melakukan kegiatan bercinta. Bila perempaun sudah merasa santai, masalah pergumulan emosi di dalam dirinya akan lebih mudah diatasi.


Seks

Seks bagi pria semacam rasa percaya diri yang amat dalam. Mereka menganggap bahwa dengan seks dirinya dibutuhkan oleh pasangannya. Ini terjadi pada pasutri yang meskipun tidak melakukan aktivitas seks setiap hari, namun ia menginginkan bahwa hanya dirinyalah yang diinginkan oleh istrinya.

Peneliti Anne Campbell, psikolog dari Durham University di England menyebutkan dari 3300 respondennya berumur 17-40 tahun dari berbagai gender. Menemukan bahwa 54% perempuan merasakan energi positif di pagi hari, begitu juga dengan 80% pria. Bukan hanya masalah percaya diri saja di dalam hubungan seks, juga berhubungan juga dengan relasi yang intim dan terkoneksi.


Koneksi Seks

Karena hormon oksitosin, perempuan merasa lebih dekat dengan pasangannya. Menurut Dr. Arun Ghosh of Spire Liverpool Hospital pada laman lifehack, hormon itu membuat pertahanan diri menurun dan menaikan empati dan kepercayaan. Hormon ini agaknya didesain untuk membuat ikatan antara pria dan perempuan. (psr)

Baca Artikel Asli

BERITA TERKAIT