MerahPutih.com - Cuaca di Pulau Jawa, termasuk DKI Jakarta, Bandung, dan sekitarnya terasa semakin panas menyengat, sumuk, dan gerah pada siang hari sepanjang beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi terik ekstrem tersebut dipicu kombinasi empat faktor atmosferik utama yang saling memperkuat.
Baca juga:
Cuaca Jakarta Hari Ini: BMKG Prediksi Langit Cerah Sepanjang Hari, Bersiap Hadapi Suhu Panas
Kombinasi Empat Faktor Penyebab Suhu Panas
Dikutip dari keterangan BMKG, Senin (19/10), posisi gerak semu Matahari yang berada di atas atau dekat wilayah Jawa pada periode September hingga Oktober membuat intensitas radiasi Matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih optimal.
Akibatnya, sinar Matahari terasa lebih menyengat, terutama pada siang hari. Kondisi itu membuat suhu udara terasa lebih panas dan gerah dibandingkan saat tutupan awan lebih tebal.
1. Posisi Semu Matahari
September hingga Oktober, posisi semu Matahari dapat berada tepat di atas atau dekat wilayah Pulau Jawa, sehingga radiasi Matahari yang mencapai titik maksimal.
2. Awan minim di Astmosfer
Faktor afmosfer minimnya pertumbuhan awan konvektif pada siang hari membuat sinar Matahari dapat mencapai permukaan bumi tanpa banyak penghalang, sehingga paparan sinar ultraviolet terasa lebih menyengat.
3. Kelembapan Udara Imbas Kemarau Panjang
Saat ini masih terjadi musim kemarau panjang, sehingga memicu temperatur udara yang tinggi dan kelembapan yang bervariasi membuat udara terasa lebih gerah dan sumuk.
4. Tren Kenaikan Suhu Permukaan Bumi
Dinamika iklim global serta perkembangan kawasan perkotaan, termasuk permukiman dan emisi kendaraan, menjadi faktor pemicu adanya kenaikan suhu permukaan bumi.
Baca juga:
Kemarau Panjang, Danau Cinere Berubah Menjadi Hamparan Tanah Kering
Dampak El Niño Kuat
Dalam periode prakiraan cuaca 16–22 Oktober 2026, BMKG mencatat kondisi atmosfer yang cenderung kering diakibatkan oleh pengaruh fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
BMKG juga mencatat suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius pada 12–13 Oktober 2026. Namun, angka tersebut merupakan angka tertinggi bukan merata di seluruh Pulau Jawa.
Untuk mengantisipasi dampak buruk cuaca panas ekstrem, masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih, mengoleskan tabir surya (sunscreen), serta membatasi aktivitas fisik berlebih di bawah terik Matahari. (*)