Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Kuliner

Starbucks China Terapkan Kebijakan Baru, Pesanan Dulu Baru Dapat Tempat Duduk

Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM — TAK ada lagi bangku gratis di gerai Starbucks China. Pelanggan di China yang ingin duduk di kursi kafe Starbucks wajib memesan minimal satu minuman. Kebijakan baru itu resmi diumum Strabucks China pada Kamis (22/10) dan berlaku di 8.000 gerai mereka.

Starbucks China menyatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan pengalaman di dalam toko bagi para pelanggan. Perusahaan tersebut tengah menghadapi persaingan ketat dari merek-merek lokal seperti Luckin Coffee. Toko-toko Starbucks di seluruh dunia juga telah berjuang menghadapi pengunjung yang menguasai tempat duduk tanpa membeli produk (seat-hoggers) serta perilaku tidak menyenangkan lainnya dari pelanggan.

Di Korea Selatan, Starbucks telah meminta pelanggan untuk berhenti membawa barang-barang berukuran besar ke dalam toko mereka. Kebijakan itu ditetapkan setelah beberapa pengunjung dilaporkan menguasai tempat duduk sambil membawa printer dan komputer desktop.

Di Amerika Utara, Starbucks membatalkan kebijakan pintu terbukanya (open-door policy) yang selama bertahun-tahun mengizinkan orang menggunakan tempat duduk dan toilet tanpa membeli apa pun dengan alasan ingin memprioritaskan pelanggan yang membayar.

Kini, Starbucks China mengikuti langkah tersebut.

Baca juga:

2 Korea Memanas, Starbucks Malah Buka Kafe dengan Pemandangan Wilayah Korut



Disambut Baik Warganet China



Sebelum pengumuman resmi pada Rabu, laporan mengenai kebijakan tempat duduk baru di ribuan gerai Starbucks China telah beredar minggu ini. Laporan itu disertai video di media sosial yang memperlihatkan tanda ‘wajib membeli untuk duduk’ di toko-toko Starbucks.

Banyak pengguna media sosial Tiongkok menyambut baik kebijakan baru ini.

"Akhirnya, tidak ada lagi jam-jam sibuk di mana orang-orang hanya duduk di sana tanpa memesan apa pun, meminum kopi Luckin, bermain gim, dan berteriak-teriak di telepon. Setiap kali saya datang, tidak ada tempat untuk duduk,” ujar seorang warganet di Weibo.

Pengguna lain Weibo membela kebijakan tersebut. “Tidak ada yang salah dengan kebijakan ini. Saya sendiri akan merasa canggung duduk di sana jika tidak membeli. Lebih baik memberikan tempat duduk itu kepada mereka yang telah membeli dan membutuhkan tempat," ujarnya.

Bulan lalu, sebuah toko Starbucks di Provinsi Sichuan memicu perdebatan setelah video yang memperlihatkan kursi dan meja luar ruangan mereka dirantai beredar di media sosial. Hal tersebut tampaknya dilakukan sebagai upaya untuk mencegah orang duduk di sana tanpa membayar.

Sejak Starbucks membuka toko pertama di China pada 1999, wilayah itu telah menjadi pasar terbesar kedua bagi perusahaan. Namun, perusahaan tersebut menghadapi persaingan ketat dalam beberapa tahun terakhir dari Luckin dan merek-merek lokal lainnya yang menawarkan produk lebih murah.

Luckin juga menawarkan sistem pemesanan berbasis aplikasi yang andal dengan memprioritaskan transaksi grab-and-go. Model itu menantang model Starbucks yang menawarkan pengalaman kafe penuh dengan orang dapat duduk dan menikmati makanan serta minuman mereka.

Pada 2023, Luckin menyalip Starbucks sebagai jaringan kedai kopi terbesar di China. Starbucks menyatakan tahun lalu bahwa mereka akan menjual 60 persen saham bisnis mereka di China sebagai bagian dari kesepakatan senilai USD 4 miliar dengan perusahaan investasi Boyu Capital.

Dalam pernyataan lain pada Rabu, Starbucks China mengatakan mereka berencana meningkatkan jumlah staf dan memperbaiki sistem digital di toko-toko mereka, di antara investasi lainnya untuk memastikan pelanggan menerima layanan yang tepat waktu dan ramah bahkan selama jam-jam sibuk.(dwi)

Baca juga:

Putri Zulhas Zita Anjani Ingin Tutup Starbucks Se-Indonesia

Baca Artikel Asli