MerahPutih.com - Spotify memperketat pengawasan terhadap musik yang dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan konten lagu yang dikategorikan sebagai spam. Sepanjang 2026, platform streaming musik tersebut mengklaim telah menyingkirkan lebih dari 50 juta lagu yang tergolong AI slop dan spam dari sistem rekomendasinya.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas pengalaman mendengarkan musik sekaligus memperbesar peluang karya musisi manusia ditemukan oleh pendengar. Selain membatasi kemunculan lagu-lagu tersebut dalam rekomendasi, Spotify juga menyatakan telah menghapus secara permanen lebih dari 75 juta lagu bermuatan spam dari platformnya.
Penghapusan permanen itu ditujukan kepada konten yang dinilai melakukan pelanggaran berat atau berulang terhadap ketentuan layanan Spotify.
"Konten musik buatan AI yang asal-asalan (AI-generated slop) dan spam tidak seharusnya muncul dalam rekomendasi kami," ungkap pihak Spotify, dikutip dari laman resminya.
Baca juga:
Spotify Umumkan 10 Artis RADAR Indonesia, Gelombang Baru Musik Tanah Air
Spotify Perketat Sistem Rekomendasi Musik
Spotify menjelaskan bahwa puluhan juta lagu yang disingkirkan dari sistem rekomendasi merupakan bagian dari upaya mengurangi peredaran konten berkualitas rendah yang berpotensi mengganggu pengalaman pengguna.
Platform tersebut membedakan penyaringan dari rekomendasi dengan penghapusan permanen. Lagu yang tidak lagi ditampilkan dalam rekomendasi belum tentu dihapus dari platform, sedangkan konten yang dihapus sepenuhnya dinilai telah melakukan pelanggaran serius atau berulang.
"Sepanjang tahun 2026, kami telah menghapus lebih dari 50 juta lagu yang tergolong slop dan spam dari rekomendasi. Jumlah ini belum termasuk lebih dari 75 juta lagu bermuatan spam yang telah kami hapus sepenuhnya dari platform karena melakukan pelanggaran berat atau berulang terhadap aturan kami," lanjut pernyataan tersebut.
Dalam enam bulan terakhir, Spotify juga memperbarui sistem rekomendasinya untuk mengidentifikasi dan menyaring lagu yang masuk kategori slop maupun spam. Pembaruan tersebut sekaligus ditujukan untuk meningkatkan visibilitas musik yang dibuat oleh musisi manusia.
Perubahan serupa diterapkan dalam kurasi editorial. Spotify menegaskan bahwa tim editornya tidak akan memasukkan konten yang teridentifikasi sebagai slop atau spam ke dalam daftar pilihan musik yang mereka susun.
Selama enam bulan terakhir, kami telah melakukan berbagai pembaruan pada sistem rekomendasi untuk menyingkirkan konten slop dan spam, sekaligus lebih banyak menampilkan musik yang dibuat oleh musisi manusia sungguhan. Tim editor kami juga menerapkan standar yang sama dan tidak memasukkan konten yang teridentifikasi sebagai slop atau spam ke dalam kurasi mereka,
Spotify.
Deteksi Spam Hadapi Lonjakan Musik Berbasis AI
Untuk mengidentifikasi konten spam, Spotify mengandalkan kombinasi berbagai metode deteksi. Pendekatan ini dikembangkan untuk menghadapi meningkatnya produksi musik berbasis AI, termasuk konten yang diunggah bukan semata-mata untuk didengarkan, melainkan untuk mengeksploitasi sistem dan mekanisme layanan streaming.
Istilah AI slop dalam kebijakan tersebut merujuk pada konten buatan AI berkualitas rendah yang dinilai tidak layak muncul dalam rekomendasi. Sementara itu, kategori spam berkaitan dengan konten yang melanggar ketentuan platform, termasuk melalui pelanggaran berat atau berulang.
Melalui penyaringan tersebut, Spotify berupaya mengurangi kemunculan konten yang dianggap mengganggu sekaligus menjaga agar sistem rekomendasi tetap relevan bagi pengguna.
Baca juga:
Spotify 20: Cara Cek Lagu Pertama yang Diputar dan Playlist Favorit Sepanjang Masa
Spotify Kembangkan Fitur Transparansi Penggunaan AI
Selain memperketat penyaringan, Spotify mengambil langkah untuk meningkatkan transparansi mengenai keterlibatan AI dalam proses produksi musik. Inisiatif ini mencakup AI Credits dan AI Persona badges, yang dirancang untuk memberikan informasi lebih jelas kepada pendengar tentang penggunaan teknologi AI dalam sebuah karya.
Langkah tersebut dilakukan di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin memengaruhi industri musik. Platform streaming kini menghadapi tantangan untuk membedakan penggunaan AI dalam proses kreatif dengan produksi konten yang ditujukan untuk mengeksploitasi sistem layanan.
Sejumlah platform juga mulai menerapkan kebijakan masing-masing dalam merespons perkembangan tersebut. Tidal, misalnya, sebelumnya mengambil langkah terkait pembatasan royalti terhadap lagu-lagu buatan AI.
Melalui pembaruan sistem rekomendasi, penguatan kebijakan penyaringan, dan pengembangan fitur transparansi, Spotify berupaya menekan peredaran lagu spam serta konten AI berkualitas rendah. Pada saat yang sama, platform tersebut berusaha memperbesar peluang musisi manusia untuk menjangkau pendengar di tengah semakin mudahnya musik diproduksi dengan bantuan teknologi. (Far)