Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rupiah Hari Ini Lesu ke Rp17.903, Investor Tahan Napas Tunggu Data Inflasi AS!

Angga Yudha Pratama - 2 jam, 19 menit lalu

Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (14/10) terpantau sedikit loyo dan bertengger di level Rp17.903.

Pelemahan tipis kurs rupiah terhadap dolar AS ini utamanya dipicu oleh sikap wait and see para investor yang menantikan rilis data inflasi AS pada malam harinya.

Buat kamu yang terus memantau pergerakan rupiah hari ini, pasar memang sedang terbilang cukup datar dan berhati-hati.

Baca juga:

Rupiah Hari Ini Tancap Gas Libas Dolar AS, Suku Bunga The Fed Batal Naik?

Kondisi prediksi kurs rupiah yang tertahan ini sangat dipengaruhi oleh antisipasi global terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed ke depannya.

Selain faktor eksternal tersebut, dinamika imbal hasil dari pasar obligasi domestik juga ikut menyumbang tekanan, meski tidak sampai membuat mata uang garuda anjlok drastis.


Efek Menunggu Rilis CPI Amerika dan Manuver The Fed

Ilustrasi

Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, menyebutkan bahwa pergerakan mata uang garuda yang cenderung sideways ini memang sudah masuk dalam hitungan pasar.

Para pemodal sedang mengkalkulasi dampak dari rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat, yang diproyeksikan melonjak akibat naiknya biaya energi.

Rupiah hari ini yang datar-datar saja dipengaruhi oleh global antisipasi data inflasi CPI AS nanti malam (Rabu, 14/10), dan sikap dovish dari pejabat The Fed terkait kenaikan suku bunga tahun depan,

kata Rully.

Berdasarkan laporan pasar, saat ini ada probabilitas sebesar 78 persen bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mengerem dan mempertahankan tingkat suku bunga pada bulan ini.

Presiden The Fed New York, John Williams, juga sempat memberikan sinyal bahwa pihaknya mungkin hanya perlu menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini.

Setelah itu, langkah pengetatan bisa dihentikan karena inflasi diproyeksikan bakal melandai secara signifikan pada tahun depan.


Tarik Ulur Obligasi Domestik dan Angka JISDOR

Dari dalam negeri, sentimen pasar sebenarnya tidak terlalu buruk. Menguatnya obligasi pemerintah Indonesia bertenor pendek sukses menjaga stabilitas rupiah agar tidak terperosok lebih dalam.

Sayangnya, yield obligasi tenor panjang terutama yang menjadi patokan (benchmark) 10 tahun, masih merangkak naik sehingga terus membayangi pergerakan nilai tukar.

Baca juga:

Prediksi IHSG Hari Ini: Menguat Tipis, Waspada Sentimen Global & Perang AI!

"Yield obligasi tenor pendek 2 tahun terpangkas 8,4 bps (basis points) jadi 6,7 persen, tenor 3 tahun 5,7 bps jadi 6,86 persen, dan 1 tahun 3,2 bps ke 6,65 persen. Tenor panjang 10 tahun naik 0,4 bps ke 7,19 persen, 40 tahun naik 4,9 bps ke 7,26 persen," jelas Rully dinukil Antara.

Meski di pasar spot mata uang kita tampak melemah 3 poin (0,02 persen) dari penutupan sebelumnya di Rp17.900, ada angin segar dari pencatatan Bank Indonesia.

Mengacu pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini, nilai rupiah justru terapresiasi dan bergerak menguat ke level Rp17.898 per dolar AS, membaik dari posisi sebelumnya di angka Rp17.930.

Baca Artikel Asli