Merahputih.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi manuver tekanan dari penyedia indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait dinamika pasar investasi domestik.
Sikap berani ini diambil pemerintah untuk merespons langsung teguran tajam dari lembaga asing tersebut mengenai isu integritas pasar modal kita yang dinilai masih berlubang.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Ngegas ke 5.328, Jurus BI dan Regulator Sukses Bikin Pasar Saham Bergairah
Menghadapi tantangan pasar modal Indonesia yang terus mendapat sorotan tajam secara global, pemerintah rupanya sudah pasang badan untuk menjaga arus investasi asing agar tidak goyah.
Macam-macam ya kan (tantangan). Dia (MSCI) mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapapun dan tidak akan gentar,
ujar Presiden Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Rabu (21/10).
Prabowo meyakinkan publik bahwa negara memiliki ketahanan mental dan ekonomi yang solid untuk menghadapi gertakan pihak luar yang mencoba mempermainkan persepsi pasar.
Alih-alih panik, Prabowo justru mengajak seluruh elemen untuk membuktikan bahwa kedaulatan finansial Indonesia tidak bisa didikte begitu saja demi memuaskan standar sepihak.
Opsi Penghematan Anggaran Ekstrem sebagai Senjata

Dalam arahannya, Prabowo menyoroti pentingnya mental baja dan kerja keras untuk melewati fase ekonomi yang penuh intrik ini.
Jika tekanan dari luar berlanjut, pemerintah sama sekali tidak segan untuk melakukan rasionalisasi keuangan secara radikal demi menjaga daya tahan kas negara.
Langkah penghematan anggaran pemerintah ini bukan sekadar wacana kosong, melainkan strategi konkret agar kabinet tetap leluasa bermanuver di tengah himpitan tantangan global.
"Kita punya keberanian, dan kita rela berkorban, dan kita tidak mengenal menyerah. Saudara-saudara sekalian, kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti," jelas Prabowo.
3 Alasan Mengejutkan MSCI 'Sentil' Pasar Modal RI
Untuk diketahui, manuver dan kekhawatiran yang dilontarkan oleh MSCI sebenarnya bukan tanpa dasar yang jelas.
Sejak proses evaluasi bergulir pada bulan Juni lalu, lembaga acuan investor ini sudah membunyikan alarm peringatan keras bagi otoritas bursa kita.
Baca juga:
Arti Standalone Market: Mengapa MSCI Menyoroti Indonesia dan Apa Dampaknya?
Berikut adalah tiga akar permasalahan utama mengapa indeks MSCI menempatkan Indonesia dalam radar pengawasan ketat mereka:
-
Struktur Kepemilikan yang Berkabut: Para investor asing mengeluhkan sulitnya melacak beneficial owner (pemilik manfaat asli) di balik sejumlah emiten raksasa. Kurangnya transparansi ini membuat iklim investasi terkesan tertutup dan berisiko tinggi.
-
Dugaan Manipulasi Pasar Terkoordinasi: MSCI mencium adanya gelagat transaksi saham yang tidak wajar. Praktik yang sering dilabeli publik sebagai fenomena "goreng saham" ini dinilai merusak ekosistem pembentukan harga pasar yang adil dan sehat.
-
Lambatnya Eksekusi Reformasi: Kendati otoritas bursa sudah berulang kali berjanji akan membenahi integritas bursa saham, MSCI menilai realisasi di lapangan masih jauh dari kata memuaskan. Belum ada langkah taktis yang dinilai ampuh untuk menebas tuntas dua masalah kronis di atas.