MERAHPUTIH.COM — PAUS Leo XIV menyerukan regulasi ketat terhadap akal imitasi (AI). Paus menuntut perlambatan pengembangan AI dalam ensikliknya yang berjudul Magnificent Humanity. Ia bahkan terus mengikuti perkembangan terkini di bidang tersebut.
Meskipun baru saja menyelesaikan kunjungan kerja empat hari di Prancis, Paus Leo mencermati laporan berita pada Senin sore mengenai Nvidia yang mulai menerapkan batasan pengaman (guardrails) pada AI. Ia juga mencatat bahwa perusahaan tersebut sebelumnya sempat menolak regulasi eksternal terkait dengan pengembangan AI.
Paus telah mengidentifikasi AI sebagai salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia hanya dalam kurun waktu beberapa hari setelah terpilih. Ia juga mengambil langkah yang tidak biasa dengan meluncurkan ensikliknya secara pribadi bersama pendiri Anthropic, Christopher Olah, dalam sebuah acara di Vatikan pada Mei lalu. Inisiatif itu merupakan bagian dari upaya Vatikan untuk merangkul Silicon Valley terkait dengan dampak kemanusiaan AI.
"Kita perlu terus mengundang para pemimpin politik, pemimpin industri AI, organisasi sosial, dan asosiasi untuk berkumpul bersama dan melihat apa yang sedang terjadi saat ini serta apa yang bisa terjadi di masa depan," tegasnya, Senin (28/9).
Menurut Paus, berdiam diri dan berpura-pura ancaman itu tak ada merupakan tindakan tak bertanggung jawab. ”Hanya dengan mengatakan 'Oh, itu tidak akan terjadi' dan memejamkan mata terhadap hal tersebut, menurut saya bukanlah cara yang paling bertanggung jawab," tambahnya.
Baca juga:
Bantah Donald Trump, Paus Leo Tegaskan Kekhawatiran AI bukan 'Berita Bohong'
Optimistis Solusi akan Ditemukan
Kekhawatiran tentang AI terus meningkat baik di dalam maupun di luar industri. Laporan-laporan terus bermunculan mengenai sistem yang makin canggih yang dapat memecahkan masalah di luar kapasitas manusia, tetapi juga berpotensi lepas kendali dan menjalankan tugas-tugas lain yang berbahaya.
Kekhawatiran ini kian memuncak sehingga CEO OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Fortune bahwa perusahaannya akan menunda penjualan saham kepada investor di Wall Street hingga tahun depan karena ingin berfokus pada keselamatan.
Paus mencatat, sejak ia menerbitkan ensikliknya pada Mei, Vatikan telah menerima banyak masukan dari orang-orang yang tertarik untuk menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas tentang AI. Sebuah komisi Vatikan sedang bekerja untuk mempromosikan dialog, studi, dan penelitian. “Ini guna memastikan AI tidak mencapai titik yang merusak kemanusiaan atau menyingkirkan peran manusia dari peradaban," ungkapnya.
Paus menyatakan ia cukup optimistis bahwa solusi dapat ditemukan.
"Saya pikir ada cukup banyak orang yang benar-benar tertarik dan bersedia melihat masalah ini di luar kepentingan kekuasaan atau siapa yang sampai di garis akhir terlebih dahulu," pungkasnya.(dwi)
Baca juga: