ANAK-anak di usia pertumbuhan membutuhkan asupan gizi yang seimbang juga istirahat yang cukup untuk bisa berkembang secara optimal. Tidur juga jadi salah satu faktor penunjang perkembangan anak, terutama kecerdasan mereka. Saat tidur, otak diistirahatkan dan hormon pertumbuhan mulai bekerja.
Namun, gangguan tidur seperti sleep apnea pada anak bisa menjadi ancaman serius untuk perkembangan kecerdasan mereka. Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan berhentinya napas sesaat, mungkin terjadi beberapa kali di sepanjang waktu tidur. Mengenali sleep apnea amatlah mudah, yakni dari suara ngorok yang terdengar sangat keras. Hal itu terjadi karena adanya penyumbatan di saluran pernapasan sehingga aliran udara yang masuk dan keluar tidak lancar selama tidur.
Sleep apnea memang umumnya terjadi pada orang dewasa, tapi anak-anak juga bisa mengalaminya. Bahkan berdasarkan penelitian, sleep apnea pada anak bisa mengganggu perkembangan otak anak yang mungkin berakibat buruk pada IQ dan kemampuan berpikirnya di masa depan. Pada anak, sleep apnea disebabkan adanya penyumbatan di saluran napas. Hal itu bisa disebabkan adanya pembengkakan amandel, obesitas, sindrom genetik; seperti down syndrome, masalah otak yang memengaruhi kendali pernapasan, riwayat keluarga dengan sleep apnea, dan masalah dengan otot tenggorok.
Saat anak mengalami sleep apnea, organ-organ dalam tubuh tidak akan mendapatkan asupan oksigen yang cukup agar bisa bekerja optimal. Asupan oksigen yang stabil, termasuk selama tidur, terutama sangat penting bagi kelangsungan kerja otak. Minimnya asupan oksigen ke otak diterjemahkan sebagai tanda bahaya, sehingga otak mengirimkan pesan untuk tubuh agar segera terbangun untuk membuka kembali saluran napasnya. Ketika terbangun, anak akan merasa sesak napas dan mengalami kesulitan untuk kembali tertidur. Parahnya, sleep apnea bisa terjadi 5 hingga 30 kali setiap jam sepanjang malam.
Menurut penelitian yang dikutip dari WebMD, sleep apnea dapat menyebabkan kerusakan sel otak anak yang notabene belum berkembang matang. Hasil tes pencitraan dari penelitian yang dikepalai Dr Leila Kheirandish-Gozal, direktur departemen gangguan tidur klinis pediatrik di Chicago University, melaporkan bahwa sleep apnea pada anak yang terus dibiarkan tanpa penanganan medis mengakibatkan penurunan volume korteks serebri (area grey matter) yang terkait dengan lima bagian penting dalam proses pemprosesan informasi dan tumbuh kembang anak.
Cedera otak akibat sleep apnea yang parah terlihat di bagian otak yang bertanggung jawab untuk belajar, memori, dan pemikiran yang kompleks seperti pemecahan masalah. Selain itu, anak-anak ini juga memiliki IQ yang lebih rendah dan mendapatkan nilai yang lebih rendah di sekolah jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami gangguan tidur.
Skor IQ rata-rata di antara anak-anak dengan sleep apnea berada di kisaran normal-rendah dan 16 poin lebih rendah daripada anak-anak tanpa gangguan pernapasan tidur, yaitu 85 berbanding 101.
Namun, penelitian belum bisa membuktikan apakah cedera ini bersifat permanen atau sementara dan akan hilang jika sleep apnea sudah diobati. Pasalnya, gangguan tidur ini sebenarnya sangat mungkin untuk diobati agar tidak menimbulkan keparahan yang dapat menganggu perkembangan otak pada anak di kemudian hari.(*)