MERAHPUTIH.COM — BAGI warga Singapura, mengecek kadar polusi dan polutan PM2.5 menjadi hal wajib belakangan ini. Sejak kabut asap melanda negara itu akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, para warga ‘Negeri Singa’ mesti lebih waspada akan kualitas udara luar. Namun, bagi seorang mahasiswa di negeri itu, tantangan itu mendatangkan ide yang berbuah situs web yang pemantau asap.
Zi Heng, 21, seorang mahasiswa data science and artificial intelligence di Nanyang Technological University (NTU), baru-baru ini membuat situs web bernama How Much Haze Have You Smoked Today? (Berapa Banyak Kabut Asap yang Sudah Anda Isap Hari Ini?). Situs web ini memperkirakan berapa batang rokok yang setara dengan paparan polusi partikel halus (PM2.5) yang dihirup seseorang berdasarkan data bacaan kabut asap di Singapura.
Jika biasanya tingkat kabut asap diukur dengan kadar polutan PM2.5, Zi menggunakan tolok ukur rokok untuk membantu masyarakat memahami tingkat keparahan kabut asap.
"Saya ialah orang yang sangat tidak mendukung kebiasaan merokok. Memang terasa ironis menyamakan kabut asap dengan rokok, tetapi mungkin kita harus memandang kabut asap sama berbahayanya dengan rokok, karena saya merasa beberapa anak muda mungkin meremehkan bahaya yang dibawa kabut asap,” kata Zi dalam wawancara dengan 8days.sg.
Pengukuran situs web ini didasarkan pada metrik dari organisasi penelitian lingkungan Berkeley Earth, yang memperkirakan bahwa menghirup udara dengan kandungan PM2.5 sebesar 22 mikrogram per meter kubik selama 24 jam secara kasar sebanding dengan mengisap satu batang rokok. Perhitungan ini mengasumsikan seseorang menghirup udara luar ruangan secara terus-menerus dengan laju pernapasan rata-rata. Angka-angka itu merupakan perbandingan kasar berdasarkan tingkat polusi udara luar ruangan, bukan jumlah rokok sebenarnya yang diisap atau penilaian medis atas dampak kesehatan.
Baca juga:
Memudahkan Pembacaan Data Kabut Asap
Ide di balik pembuatan situs web ini cukup sederhana: Zi hanya ingin membuat bacaan data kabut asap lebih mudah dipahami.
"Saya hanya ingin membuat situs web yang tampak sederhana karena beberapa anggota keluarga dan teman saya sering merasa bingung dengan banyaknya angka yang berbeda. Jadi saya hanya ingin membuat situs web sederhana yang bisa mereka gunakan," tambahnya.
Ia hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk membangun situs web tersebut sendirian lalu memutuskan untuk membagikannya secara daring setelah menerima tanggapan positif dari keluarga dan teman-temannya. "Saya merasa PSI 24 jam itu sedikit seperti mencoba menyetir mobil sambil melihat ke kaca spion belakang dan tidak membantu saya memutuskan apakah saya harus pergi berlari sekarang atau tidak. Bacaan PM2.5 satu jam juga cukup bagus, tetapi membingungkan karena skalanya berbeda dari PSI 24 jam,” jelasnya.
Situs webnya menampilkan perkiraan PSI satu jam dan tiga jam yang dihitung dari konsentrasi PM2.5, bersanding dengan bacaan PSI 24 jam resmi dari National Environment Agency (NEA).
Situs ini juga merincikan tingkat polusi udara di seluruh wilayah Singapura bagian utara, selatan, timur, barat, dan tengah.
Namun, Zi menegaskan angka PSI satu jam dan tiga jam tersebut merupakan hasil perhitungannya sendiri, bukan bacaan resmi dari NEA. "Saya mencantumkan cukup banyak peringatan di dekat semua angka bacaan saya. Hal terakhir yang ingin saya hindari yakni menyesatkan siapa pun," katanya.
Situs web ini menarik data langsung dari API milik NEA. Menurut Zi, data umumnya diperbarui dalam waktu satu hingga dua menit setelah awal setiap jam, sedangkan ia mengamati situs web kabut asap publik milik NEA terkadang membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk diperbarui.
Baca juga:
Singapura Lakukan Penyelidikan dan Tindakan Hukum terhadap Penyebab Karhutla di Indonesia
Menyebarkan Kesadaran akan Bahaya Kabut Asap
Meski memberi perbadingan kondisi kabut asap dan jumlah rokok yang diisap, Zi menekankan pengukuran ini tidak boleh dijadikan sebagai nasihat medis. Zi berharap situs yang ia buat ini dapat membantu meyakinkan orang-orang yang rentan untuk tetap berada di rumah selama kabut asap, sebagaimana mereka akan menghindari kawasan area merokok.
Saya benar-benar terkejut melihat betapa buruknya kabut asap ketika diubah ke metrik yang konvensionalnya sudah kita ketahui buruk (rokok).
Zi Heng, mahasiswa Singapura
Proyek yang berawal dari inisiatif pribadi ini telah menarik perhatian warga Singapura lainnya setelah ia membagikannya di Reddit. Situs buatan Zi berhasil menarik sekitar 2.000 kunjungan setiap hari per 14 Oktober. Untuk saat ini, ia berniat untuk terus menjalankan situs web tersebut untuk waktu yang tidak ditentukan, bahkan setelah kabut asap mereda.
"Fitur itu pada dasarnya muncul karena seorang teman berceletuk bahwa kabut asap membuat merokok secara teknis tidak terlalu berbahaya, karena perbedaan antara asap yang dihirup dan udara di sekitarnya telah berkurang," tambahnya.
Meskipun kalkulator rokok ini mungkin terdengar mengkhawatirkan, Zi Heng mengatakan proyek ini pada akhirnya bertujuan untuk memberikan perspektif yang berbeda kepada warga Singapura mengenai polusi udara. Dengan tegas ia menyatakan kabut asap yang melanda negeri itu bukanlah alasan untuk mempertahankan kebiasaan merokok atau bahkan mulai mengisapnya.
“Saya hanya ingin memberikan cara pandang yang berbeda dalam melihat masalah yang sama yang sedang dihadapi kita semua warga Singapura," ujarnya.
Andai saja kabut asap bisa selesai secepat Zi merampungkan situs buatannya.(dwi)
Baca juga:
Sugiono Tanggapi Kritik Malaysia soal Kabut Asap, Sebut Indonesia Terdampak Langsung