Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Ledakan Visual Dome Stage dan Konsep 360 derajat Manjakan Penonton Konser 'Ye' Kanye West

Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 25 Oktober 2026

MerahPutih.com - Dome Stage akhirnya hadir di hadapan penggemar Ye, yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West, dalam konsernya di Jakarta.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) dibuat terpukau oleh kemunculan panggung berbentuk bola dunia raksasa yang menjadi pusat perhatian sepanjang pertunjukan.

Sejak Dome Stage terlihat di tengah stadion, suasana konser bertajuk Ye Live in Jakarta terasa berbeda. Struktur berbentuk bulat tersebut bukan sekadar panggung untuk Ye membawakan lagu-lagunya, melainkan juga ruang bagi sang rapper untuk menghadirkan pertunjukan visual yang megah.

Dengan konsep 360 derajat, penonton dari berbagai penjuru stadion memiliki kesempatan untuk menyaksikan aksi Ye dari sudut pandang yang berbeda.

Baca juga:

Parkir GBK saat Konser Kanye West dan Jakarta Running Festival 2026, ini Lokasinya

Konsep panggung ini sebelumnya telah digunakan dalam penampilan Ye di SoFi Stadium, Los Angeles. Kini, instalasi serupa hadir di Jakarta, membawa pengalaman visual yang menjadi salah satu ciri khas pertunjukannya.

Namun, kemegahan Dome Stage tidak hanya terlihat dari bentuknya. Sepanjang konser, berbagai elemen visual dan efek panggung turut menghidupkan suasana.

Ye seolah tidak kehabisan cara untuk memberikan kejutan kepada para penggemarnya. Dentuman musik berpadu dengan letupan kembang api yang menghiasi sejumlah lagu, di antaranya "Carnival," "Power," "Highs and Lows," "Jesus Walks," dan "Gold Digger". Percikan cahaya yang menyala di sekitar panggung menambah intensitas pertunjukan, membuat suasana stadion semakin meriah.

Permainan visual kemudian berlanjut melalui kepulan asap yang menyelimuti area panggung. Asap tersebut bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan bagian dari komposisi visual yang dirancang untuk memperkuat atmosfer pertunjukan. K

Ketika sorot laser menembus kepulan asap, cahaya itu membentuk siluet menyerupai awan yang menggantung di atas Dome Stage.

Pemandangan tersebut menciptakan ilusi seolah-olah Ye sedang berpijak di atas permukaan bumi, sementara awan bergerak di sekelilingnya. Dengan bentuk panggung yang menyerupai bola dunia, permainan cahaya dan asap itu membuat keseluruhan instalasi terasa semakin hidup.

Dome Stage pun seakan berubah menjadi lanskap tersendiri, menyatukan musik, cahaya, dan ruang dalam satu pertunjukan.

Setelah membawa penonton melewati rangkaian penampilan yang megah, Ye akhirnya menutup konser dengan "Runaway". Denting piano yang mengawali lagu tersebut langsung disambut teriakan dari berbagai penjuru GBK. Momen itu menjadi penutup yang emosional, ketika ribuan penonton menyambut salah satu lagu ikonis dalam perjalanan musik Ye.

Di antara kemegahan Dome Stage, kembang api, dan permainan cahaya, "Runaway" menghadirkan suasana yang berbeda. Konser yang sebelumnya dipenuhi ledakan visual itu berakhir dengan melodi piano yang begitu lekat di telinga penggemar, meninggalkan kesan tersendiri dari malam ketika Ye akhirnya tampil di Jakarta. (Far)

Baca Artikel Asli