Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit

Dwi Astarini - 2 jam, 27 menit lalu

MERAHPUTIH.COM — PIT crew McLaren melakukan pengisian bahan bakar, mengganti ban, dan menyampaikan informasi kepada pembalap mereka dalam waktu kurang dari tujuh detik di Grand Prix Spanyol pada 2001. Bagi mereka, itu hanya tugas biasa.

Namun, sekitar 1.100 kilometer dari sana, di ruang istirahat Rumah Sakit Great Ormond Street (GOSH), Dr Martin Elliott dan rekan-rekannya sedang menyaksikan tayangan tersebut. Ia baru saja menyelesaikan operasi penyelamatan nyawa seorang anak kecil.

Meskipun singkat, tayangan singkat itu mengubah cara para dokter dalam menangani perawatan pasien. Mulai dari penyerahan pasien (handover) dari ruang operasi ke ICU, perawatan neonatal, hingga waktu tanggap ambulans udara, inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.


Baca juga:

Drama Evakuasi Turis Malaysia Cedera di Rinjani, Heli Bolak-balik ke Bali hingga Pit Stop Kurangi Beban


Memindahkan Cara Kerja Pit Stop ke Rumah Sakit




Di pabrik Ferrari di Maranello, tim medis GOSH mempelajari bagaimana pit crew mengorganisasi peran, komunikasi, serta proses serah terima tugas. Para dokter dan perawat mulai mengawali setiap prosedur dengan daftar periksa (checklist), menetapkan peran dan tugas secara spesifik.

Hal itu mengurangi kesalahan manusia (human error) dan membantu memastikan tugas-tugas krusial terselesaikan. Semua data pasien juga dibagikan langsung dari ruang operasi ke unit perawatan intensif.

Celah atau kekurangan dalam kinerja diidentifikasi kemudian diatasi. Gladi bersih dilakukan berulang kali demi membantu menyempurnakan proses tersebut.

Hasilnya, proses dari ruang operasi menuju perawatan intensif menjadi lebih terstruktur. Sebuah studi pada 2007 oleh para peneliti di GOSH dan Universitas Oxford menemukan proses serah terima yang terinspirasi dari F1 ini berhasil mengurangi kesalahan teknis, hilangnya informasi, serta memangkas waktu serah terima.

"Lingkungan tempat kami bekerja saat itu, dan dalam banyak hal masih hingga kini, pada dasarnya sangat berpotensi bahaya di setiap langkahnya,” kata Elliott, yang saat itu menjabat konsultan bedah kardiotorasik anak di GOSH, dikutip BBC.

Ia menjelaskan, pada dasarnya, cara pit stop F1 bekerja dengan sistematis menghindari kesalahan. “Mereka telah menciptakan lingkungan dengan presisi mutlak, tidak hanya dalam bidang keteknikan, tetapi juga dalam proses, karena mereka tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun, baik dari segi finansial maupun dari perspektif balapan,” jelasnya.

Menurut Elliott, hal nyaris serupa terjadi pula di rumah sakit. 'Paket berharga' di atas troli pasien itu sama nilainya dengan 'paket berharga' di dalam mobil balap. “Anda harus menjalankan semua langkah itu dengan benar,” tegasnya.

Model ini di kemudian hari diadopsi berbagai tim medis lainnya.



Dari Lintasan Balap ke Sisi Ranjang Pasien



Lima belas tahun lalu, tim Williams bekerja sama dengan University Hospital of Wales untuk meningkatkan penanganan resusitasi neonatal (bayi baru lahir). Mantan spesialis performa manusia di Williams, Gemma Fisher, menyadari pengorganisasian peralatan pit crew untuk mencegah penundaan dapat diterapkan juga di lingkungan rumah sakit.

Analisis video mengungkap kenyataan situasi darurat medis yang kerap kacau, diiringi suara yang saling tumpang-tindih dan peralatan yang lupa menaruh. Standardisasi peran, menentukan siapa berdiri di mana, siapa yang perlu didengar pada momen apa, dan di mana peralatan diletakkan, memungkinkan adanya respons yang lebih cepat dan efisien.

Sesi evaluasi (debriefing) memungkinkan staf medis meninjau kembali apa yang telah terjadi dan mengidentifikasi apa yang dapat ditingkatkan untuk situasi darurat di masa mendatang.

Perubahan ini juga mendorong para dokter junior untuk menyuarakan kekhawatiran atau kendala tanpa rasa takut disalahkan.

Kolaborasi ini meluas melampaui praktik kerja hingga ke bidang rekayasa teknik. Advanced Healthcare Technology dan Williams sejak saat itu mengembangkan Babypod: sebuah inkubator/alat transport dari serat karbon yang dirancang untuk menahan benturan hingga 20G, yang membantu mencegah cedera saat memindahkan bayi dari ambulans ke rumah sakit.



Setiap Detik Sangat Berharga




Pada balapan di Silverstone tahun ini, kolaborasi dengan Air Ambulance Cornwall menunjukkan bagaimana waktu tanggap dapat ditingkatkan. Waktu lepas landas berhasil dipangkas dari lima menit menjadi hanya tiga setengah menit.

Hal ini dicapai dengan menggunakan banyak metode serupa, termasuk persiapan awal yang cepat dan terorganisasi, menyediakan peralatan yang siap pakai, serta komunikasi yang jelas di seluruh anggota tim.

Beginilah F1 terus menemukan cara-cara baru untuk menerapkan keahliannya dalam kedokteran darurat.

"Anda mungkin menganggap selisih satu setengah menit itu tidak berarti dalam gambaran besar, tetapi satu setengah menit saat Anda terbaring di tepi jalan, terjatuh dari kuda, atau jatuh dari jurang dan mengalami cedera, menit-menit itu terasa seperti bertahun-tahun bagi orang yang terluka,“ kata David Richards, Ketua Motorsport UK sekaligus mantan kepala tim BAR dan Benetton.

Richards menyatakan kemitraan ini akan terus mencari cara untuk memangkas waktu tanggap lebih jauh lagi.

Kini, dua puluh lima tahun setelah Elliott pertama kali melihat pit stop yang menginspirasi cara berpikir baru, pelajaran dari dunia olahraga balap ini terus memberikan pengaruh besar pada dunia pelayanan kesehatan, mulai dari perawatan bayi baru lahir hingga penanganan tanggap darurat.(dwi)

Baca juga:

Tercepat, Tim Formula 1 Red Bull Pecahkan Rekor Pit Stop

Baca Artikel Asli