Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Industri Padat Karya Hadapi Tantangan Biaya Produksi, Ekspor Tetap Tumbuh

Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 01 Oktober 2026

MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan nonmigas Indonesia. Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD 28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 21,29 miliar.

Nilai ekspor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai USD 193,64 miliar meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 5,48 persen menjadi 185,63 miliar dolar AS

Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, yakni 159,55 miliar dolar AS atau meningkat 7,87 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin menilai ekspor Indonesia masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun 2026.

Baca juga:

Dolar AS Keok! Cek Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini Usai Arab Saudi Buka Kran Ekspor Minyak

Kadin melihat ekspor masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun, terutama didukung industri pengolahan yang menjadi backbone ekspor,

ujar Saleh Husin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/10).

Namun, impor kemungkinan tetap tumbuh tinggi seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan impor tersebut dikonversikan menjadi peningkatan produksi dan ekspor, sehingga surplus perdagangan tetap terjaga. Pada Januari–Juli, ekspor tumbuh 4,43 persen, sementara impor tumbuh jauh lebih tinggi 19,94 persen.

Untuk saat ini, kenaikan impor lebih banyak menunjukkan penguatan aktivitas produksi dan investasi, karena 91,33 persen impor Januari–Juli terdiri dari bahan baku/penolong dan barang modal. Namun, pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor tetap perlu diwaspadai,

katanya.

Saleh Husin mengatakan bagi Kadin, indikator pentingnya bukan sekadar kenaikan impor, tetapi apakah impor tersebut menghasilkan peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, dan ekspor industri.

Terkait sektor-sektor usaha yang berpotensi meningkatkan ekspor, dirinya menjelaskan peluang terbesar berada pada industri pengolahan bernilai tambah, khususnya makanan-minuman dan agroindustri, logam dan hilirisasi mineral, elektronika/mesin, serta otomotif dan komponennya.

Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan furnitur masih menghadapi tantangan biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan persaingan global.

Fokusnya perlu bergeser dari ekspor berbasis komoditas menuju produk manufaktur dengan nilai tambah dan kandungan domestik yang lebih tinggi,

katanya.

Baca Artikel Asli