Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Dibuat pada 1970-an, Musik Guruh Gipsy Justru Menemukan Kehidupan Kedua Hampir 50 Tahun Kemudian

Ananda Dimas Prasetya - Senin, 28 September 2026

MerahPutih.com - Ada musik yang selesai ketika rekamannya berhenti berputar. Ada pula musik yang justru menemukan kehidupan keduanya bertahun-tahun setelah pertama kali dibuat. Guruh Gipsy berada di antara jenis yang kedua.

Ketika album itu lahir pada dekade 1970-an, tidak ada yang bisa memastikan sejauh apa perjalanan musik tersebut. Guruh Soekarnoputra membawa gagasan tentang kebudayaan Indonesia, sementara Gipsy datang dengan pengalaman sebagai salah satu kelompok musik yang dekat dengan progresif rock.

Pertemuan keduanya kemudian melahirkan sebuah eksperimen yang tidak sederhana: mempertemukan musik modern dengan berbagai bunyi tradisional Nusantara.

Baca juga:

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, ini Profil dan Jejak Kariernya

Berawal dari Eksperimen Guruh

Guruh Gipsy tidak lahir dari keinginan membuat album pop biasa.

Setelah kembali dari Belanda pada 1975, Guruh mengembangkan eksperimen yang mempertemukan gamelan Bali dengan musik Barat. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa eksperimen tersebut kemudian melahirkan proyek album Guruh Gipsy.

Dalam proyek tersebut, Guruh memainkan piano dan gamelan. Keenan Nasution berada di drum dan vokal, Chrisye pada vokal dan bass, Roni Harahap pada piano dan keyboard, Oding Nasution pada gitar, serta Abadi Soesman pada synthesizer.

Chrisye bukan sekadar nama yang hadir dalam barisan personel. Suaranya menjadi salah satu pintu yang membuat gagasan musikal Guruh dapat berkomunikasi dengan pendengar.

Bersama Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman, Chrisye menjadi bagian dari kelompok yang mengubah gagasan besar Guruh menjadi bunyi.

Direkam Bertahap hingga Dirilis pada 1977

Proses pengerjaan album berlangsung panjang. Materinya direkam dalam beberapa tahap sejak 1975 hingga 1976, sebelum akhirnya Guruh Gipsy dirilis pada 1977.

Album tersebut berisi sejumlah komposisi, yakni Geger Gelgel, Barong Gundah, Smaradhana, Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka, dan Chopin Larung.

Yang membuat karya tersebut menarik adalah cara Guruh dan Gipsy memperlakukan tradisi.

Gamelan dan unsur musikal Nusantara tidak ditempatkan sekadar sebagai hiasan di antara permainan rock. Keduanya dirangkai menjadi bagian dari komposisi, berdiri bersama gitar elektrik, drum, keyboard, bass, dan synthesizer.

Dengan demikian, musik yang lahir bukan sekadar pertemuan dua zaman. Ia seperti percakapan antara dua cara melihat dunia.

Guruh membawa ingatan tentang Indonesia, sementara Gipsy membawa energi musik modern yang sedang berkembang. Dari pertemuan itu lahir bunyi yang pada zamannya terasa berani, bahkan eksperimental.

Puluhan tahun kemudian, rekaman tersebut justru terus menemukan pendengar baru.

Bukan Hanya Gamelan Bali

Menariknya, Guruh kemudian menegaskan bahwa musik dalam album tersebut tidak semata-mata merepresentasikan gamelan Bali.

Dalam perbincangan pada 2025, ia menyebut unsur musikal yang digunakan berasal dari berbagai wilayah Nusantara.

Mungkin di situlah salah satu kunci untuk memahami musik Guruh.

Ia tidak sedang berusaha membekukan kebudayaan dalam sebuah bentuk lama. Sebaliknya, ia mencoba membuat tradisi bergerak.

Musik Indonesia baginya bisa terdengar melalui suara gamelan, tetapi pada saat yang sama dapat berjalan bersama gitar listrik, drum, piano, atau synthesizer.

Dan musik yang lahir dari eksperimen panjang tersebut ternyata tidak pernah benar-benar berhenti.

Baca juga:

Mengenang Kepergian Guruh Soekarnoputra, Seniman Legendaris yang Dibalut Kain Favorit Fatmawati

Hampir 50 Tahun Kemudian Kembali ke Panggung

Hampir setengah abad setelah Guruh Gipsy dirilis, karya tersebut akhirnya kembali bertemu dengan bentuk pertunjukan langsung. Momen itu hadir di Synchronize Fest 2025.

Pada Sabtu malam, 4 Oktober 2025, di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Guruh Gipsy tampil untuk pertama kalinya secara langsung membawakan materi dari album yang dirilis pada 1977.

Di atas panggung, tiga nama dari formasi asli yang masih ada—Guruh Soekarnoputra, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman—membawa kembali musik yang selama puluhan tahun lebih banyak hidup melalui rekaman.

Chrisye, Oding Nasution, dan Roni Harahap telah lebih dulu berpulang. Karena itu, pertunjukan tersebut bukan sekadar reuni, melainkan juga pertemuan dengan masa lalu.

Ketika Generasi Berbeda Bertemu

Panggung malam itu tidak berusaha mengulang masa lalu secara harfiah.

Sejumlah musisi lintas generasi turut hadir. Ada Andy /Rif, Irang Arkad, Karisk, Daryl Nasution, Biko Nasution, Kompiang Raka, hingga Gamelan Saraswati.

Tari Barong dan Tari Legong turut hadir, membuat pertunjukan tersebut terasa seperti pertemuan berbagai bentuk seni yang selama ini memang menjadi bagian dari gagasan Guruh.

Smaradhana kembali terdengar. Begitu pula Janger 1897 Saka, Barong Gundah, hingga Indonesia Maharddhika.

Keenan Nasution menjadi salah satu suara yang membawa Indonesia Maharddhika pada malam itu, sementara Janger 1897 Saka dibawakan Andy/Rif.

Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus indah dari peristiwa tersebut.

Musik yang direkam hampir 50 tahun sebelumnya akhirnya mendapatkan tubuh. Apa yang selama ini hanya terdengar dari speaker berubah menjadi pertunjukan yang bisa disaksikan langsung.

Generasi yang bahkan belum lahir ketika album itu dibuat berdiri di hadapan Guruh, Keenan, dan Abadi, sementara musik yang mereka dengarkan berasal dari sebuah eksperimen yang dikerjakan pada dekade 1970-an.

Pada malam itu, waktu seperti tidak berjalan lurus. Masa lalu datang ke panggung masa kini.

Baca juga:

Guruh Soekarnoputra dan Perjalanan Panjang Mencari Wajah Modern Musik Indonesia

Karya yang Tetap Hidup Setelah Pembuatnya Pergi

Orang-orang yang sudah tiada tetap hadir melalui nada, suara, komposisi, serta ingatan yang ditinggalkan.

Guruh sendiri menyampaikan bahwa pertunjukan tersebut juga dipersembahkan untuk rekan-rekannya yang telah berpulang, termasuk Chrisye, Oding, dan Roni Harahap.

Barangkali itulah salah satu cara paling sederhana untuk memahami keabadian dalam musik.

Bukan tentang seorang musisi yang hidup selamanya, melainkan tentang karya yang terus menemukan tubuh baru setelah penciptanya menua, setelah zamannya berubah, bahkan setelah orang-orang yang membuatnya tidak lagi ada.

Guruh Soekarnoputra telah meninggalkan banyak karya. Namun Guruh Gipsy menjadi salah satu bukti tentang bagaimana gagasan musikal dapat melampaui usia pembuatnya.

Album itu dibuat ketika musik Indonesia sedang mencari bentuknya sendiri. Kini, ia masih dapat diperdengarkan kepada telinga yang sama sekali berbeda.

Gamelan yang dahulu berdampingan dengan progresif rock kini dapat terdengar di tengah generasi yang tumbuh bersama streaming, festival musik, dan algoritma. (Far)

Baca Artikel Asli