Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Olahraga

Era Madam Pang Runtuh? Menguak Fakta Kemerosotan Prestasi Sepak Bola Thailand di Asia Tenggara

Angga Yudha Pratama - Rabu, 07 Oktober 2026

Merahputih.com - Banyak penggemar mempertanyakan alasan prestasi sepak bola Thailand terus mengalami kemerosotan tajam sejak Madam Pang memimpin Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) pada awal 2024.

Faktanya, dominasi tim berjuluk Gajah Perang ini perlahan runtuh dan makin tertinggal dari rival utamanya, seperti Vietnam dan Timnas Indonesia, di berbagai kompetisi elit Asia Tenggara.

Di bawah komando pengusaha wanita bernama asli Nualphan Lamsam ini, Timnas Thailand seolah kehilangan taringnya, baik di level senior maupun kelompok umur U-23.

Baca juga:

Thailand Gagal 2 Turnamen Beruntun Usai Dikalahkan Timnas Indonesia, King's Cup Jadi Pelipur Lara

Bayangkan saja, alih-alih menyapu bersih empat medali emas yang ditargetkan pada ajang SEA Games 2025, skuad negeri Gajah Putih malah terpaksa pulang dengan tangan kosong, sebuah realita pahit yang membuat sang presiden federasi merasa sangat dipermalukan.

Ironisnya, krisis kemerosotan sepak bola Thailand ini juga menimpa timnas putri mereka yang kini kualitasnya tertinggal cukup jauh di belakang Vietnam dan Filipina.

Daftar Panjang Kegagalan Timnas Thailand

Sejak pergantian kepemimpinan ke tangan Ibu Pang, nyaris tidak ada medali bergengsi yang berhasil dibawa pulang dari turnamen Asia Tenggara.

Satu-satunya hiburan bagi penggemar hanyalah trofi Piala Raja 2025. Selebihnya, catatan mereka di lapangan hijau dipenuhi hasil minor:

  • Piala AFF ASEAN 2024 & 2026: Tumbang di partai final oleh Vietnam pada dua edisi berturut-turut.

  • Piala ASEAN FIFA 2026: Gagal mengamankan gelar juara setelah dikalahkan oleh Timnas Indonesia di laga puncak.

  • SEA Games 2025: Timnas U-23 takluk di final melawan Vietnam.

  • Piala Asia AFC U-23 2026: Skuad muda Thailand tampil mengecewakan dan gagal lolos dari babak penyisihan grup.

Catatan suram ini membuat status raja sepak bola Asia Tenggara yang selama ini dipegang erat oleh Thailand perlahan luntur.

Baik dari segi pencapaian regional maupun kontinental, posisi mereka kini sudah resmi disalip oleh Vietnam dan Indonesia.

Badai Kritik dan Tuntutan Mundur di Media Sosial

Timnas

Merosotnya kualitas permainan di lapangan langsung memicu reaksi keras dari para suporter. Mayoritas penggemar menuding bobroknya manajemen FAT era Madam Pang sebagai biang keladi utama di balik runtuhnya mental juara tim. Halaman Facebook pribadi milik sang presiden pun langsung dibanjiri cibiran tajam.

Kekecewaan memuncak saat final Piala ASEAN FIFA 2026. Di tengah ketegangan turnamen, Madam Pang sempat mengunggah video perayaan para pemain saat unggul 2-1 dengan takarir yang dinilai terlalu cepat berpuas diri.

Saya tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Ini adalah hal terbaik. Saya tidak akan menyesali hasil apa pun,

tulis Madam Pang di akun Facebook-nya.

Unggahan tersebut langsung memanen ribuan komentar pedas, terlebih setelah Thailand pada akhirnya harus menelan kekalahan.

Kelompok suporter garis keras bahkan mulai menyuarakan kampanye agar sang presiden segera meletakkan jabatannya karena dianggap bertanggung jawab penuh atas rentetan kegagalan tersebut.

Warisan Utang dan Dominasi Klub: Apakah Sepenuhnya Salah Madam Pang?

Meski performa timnas sedang terjun bebas, media lokal Thailand menilai tidak adil jika semua beban kesalahan dijatuhkan ke pundak Madam Pang.

Bibit-bibit kemunduran ini sebenarnya sudah mulai terlihat jelas sejak masa akhir jabatan presiden sebelumnya, Somyot Poompanmoung.

Saat pertama kali duduk di kursi panas FAT, Madam Pang tidak langsung mengurus taktik di lapangan, melainkan harus membereskan setumpuk "warisan buruk".

Federasi saat itu tengah terjerat krisis utang yang parah dan diwarnai berbagai intrik internal yang rumit. Menstabilkan keuangan dan mengembalikan federasi ke jalur yang benar tentu menyita banyak fokus dan tenaga.

Baca juga:

Borneo FC Bawa Keberanian dan Ambisi Hadapi Raksasa Thailand Buriram United

Tantangan lainnya datang dari kompetisi domestik. Seiring pesatnya perkembangan Liga Thailand, kekuatan finansial dan pengaruh para pemilik klub ikut melonjak drastis.

Laporan dari surat kabar Thairath bahkan menyoroti fenomena di mana beberapa bos klub memiliki kekuasaan de facto yang lebih kuat ketimbang federasi itu sendiri. Menyelaraskan ego klub demi kepentingan tim nasional jelas bukan perkara sepele.

Di tengah situasi karut-marut ini, menuntut kesuksesan instan dari kepemimpinan baru mungkin terasa kurang realistis. Masa jabatan Madam Pang masih akan berlangsung hingga tahun 2028 mendatang, memberikannya cukup waktu untuk memutarbalikkan keadaan.

Untungnya, di balik riuhnya gelombang protes, masih ada barisan pendukung setia yang percaya bahwa sang pengusaha wanita mampu membawa sepak bola Thailand kembali berjaya.

Baca Artikel Asli