Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Biksu 'G-DRAGON di Dunia Buddha', Sebarkan Ajaran Buddha lewat Tari

Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026

MERAHPUTIH.COM — DALAM balutan jubah abu-abu sederhana, Biksu Deoksan dengan luwes melakukan chest popping ala koreografi lagu BAD dari ATEEZ. Biksu Deoksan mungkin bukan seorang idol, tapi ia telah dijuluki ‘G-DRAGON di Dunia Buddha’.

Biksu Deoksan terkenal setelah menari diiringi lagu Good Boy milik G-DRAGON dan Taeyang pada ajang Buddhist Expo di April. Ia juga pernah tampil membawakan koreograf Billie Jean milik Michael Jackson pada Festival Lentera Teratai di Mei.

Di usianya yang menginjak 60-an, gerakan tari tidak biasa Biksu Deoksan telah membuatnya mendapatkan berbagai julukan unik, seperti ‘G-DRAGON di Dunia Buddha’, ‘Deoksan Daegong’, dan ‘Michael Jack-sunim’, sebuah permainan kata dari Michael Jackson dan kata Korea untuk biksu, ‘sunim’.

Baca juga:

Menangi Turnamen, 3 Biksu Muda Bikin Heboh Dunia Esports



Menari sebagai Bagian Praktik Spiritual




Meski terlihat lihai menari di panggung, nyatanya Biksu Deoksan mengku buta nada. Ia mengaku bukan orang yang tumbuh di dunia musik.

“Saya buta nada, tidak memiliki rasa irama, dan pemalu, sehingga saya selalu merasa canggung dengan hal-hal yang berbau hiburan. Bahkan ketika masih hidup di dunia sekuler, saya sangat pemalu hingga tidak akan pernah berani naik ke atas panggung,” tuturnya, dikutip The Korea Times.

Berbeda dengan penampilannya yang bebas dan lepas di atas panggung, biksu ini sosok yang tenang dan pendiam dalam kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang sebenarnya jauh dari dunia tari. Namun, ada alasan khusus ia akhirnya belajar menari.

“Sebagai seorang praktisi spiritual, saya berharap ini dapat membantu saya menyampaikan ajaran Buddha dengan cara yang lebih mudah diakses,” ujarnya.

Lebih jauh, ia memandang menari sebagai salah satu bentuk praktik keagamaan Buddha. “Praktik spiritual berarti melakukan hal-hal yang tidak ingin Anda lakukan. Karena saya tidak ingin menari, saya berpikir, ‘Kalau begitu saya harus menantang diri saya untuk melakukannya’,” katanya.

Demi belajar menari, Biksu Deoksan harus menempuh perjalanan pulang pergi selama empat jam dari kuil ke akademi tari. Baginya, itu juga bagian dari praktik spiritual sekaligus cara berkomunikasi dengan generasi muda.

“Sebagian besar orang di kuil sudah berusia lanjut, jadi pikiran pertama saya yakni ‘Bagaimana saya bisa membagikan ajaran Buddha yang luar biasa ini kepada anak-anak muda?’,” ungkapnya.

Ketika pertama kali mulai menari, ia tidak pernah membayangkan respons yang diterimanya saat ini. Ia bahkan sempat khawatir ordo keagamaan Buddha akan melarangnya melanjutkan hidup sebagai biksu. Namun, bertolak belakang dengan kekhawatirannya, tanggapannya justru positif.

“Mengejutkannya, sebagian besar biksu menyukainya,” katanya. Hampir 90 persen komentar pada videonya, menurutnya, bernada positif, sedangkan sekitar 10 persen berupa komentar jahat.

Biksu Deoksan percaya bahwa tari dapat melampaui daripada sekadar hiburan sederhana dan mengarahkan masyarakat untuk menaruh minat yang serius pada ajaran Buddha. “Jika orang-orang menemukan sesuatu yang menyenangkan melalui penglihatan dan pendengaran, lalu hal itu menjadi familier dan mudah dijangkau. Itu bisa menjadi langkah pertama menuju tumbuhnya minat terhadap ajaran Sang Buddha,” jelasnya.

Baca juga:

Biksu Asal Thailand Meditasi di Minyak Mendidih



Mengembangkan Cara Baru Menyampaikan Pesan Sang Buddha


Saat pertama kali memulai perjalanannya sebagai biksu, Biksu Deoksan berusia 40 tahun. Itu termasuk terlambat. Sebelum masuk ke ordo keagamaan Buddha, ia lulus dari Universitas Kepolisian Nasional Korea dan bekerja sebagai perwira polisi selama 16 tahun.

Ia bukan seorang umat Buddha pada saat itu. Namun, saat menghabiskan liburan selama seminggu di Jajaeam, ia mengenal ajaran Buddha untuk pertama kalinya dan memutuskan untuk menjadi biksu. Air mata yang menetes saat mendengarkan khotbah terus mengalir bahkan setelah ia kembali bekerja.

Ia menyadari bahwa waktunya dengan pekerjaan tersebut telah berakhir, mengundurkan diri dari kepolisian, dan memberi tahu keluarganya bahwa ia berniat menjadi biksu. Bagi orangtuanya yang sudah lanjut usia dan menaruh harapan besar kepadanya, tindakan itu pada dasarnya merupakan bentuk ketidakberbaktian anak. Namu, ia begitu yakin dengan keputusannya hingga kini menyebut langkah menjadi biksu sebagai ‘hal terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup saya’.



Mencintai Diri Sendiri, Lewat Tari bahkan Rap



Setelah lebih dari 20 tahun menjadi praktisi Buddha, pesan yang ingin disampaikan Biksu Deoksan melalui tarian yakni ‘mencintai diri sendiri’. Ia percaya bahwa hanya dengan mencintai diri sendiri, seseorang dapat mencintai orang lain, dan pada akhirnya juga masyarakat.

“Jika kita melihat kapan kita mencintai diri sendiri, itu saat kita mengambil sesuatu yang sulit dan menantang lalu berhasil menyelesaikannya. Dengan menetapkan tujuan hidup yang ambisius dan terus-menerus menantang bagian dari diri kita yang ingin menjadi malas atau puas dengan kenyamanan, kita akan belajar untuk mencintai diri sendiri,” katanya.

Tantangan dan praktik Biksu Deoksan tidak berhenti pada seni tari. Target berikutnya yakni musik rap.

Bagi seorang biksu yang asing dengan musik hip-hop, ini menjadi tantangan baru lainnya. Meyakini bahwa tarian saja memiliki keterbatasan sebagai media komunikasi, ia berencana menulis liriknya sendiri dan menggunakan rap untuk menyebarkan ajaran Buddha.(dwi)

Baca juga:

Video Biksu Diusir dan Dilarang Beribadah Viral, Warganet Geram

Baca Artikel Asli