RAMADAN merupakan bulan ibadah yang dirayakan muslim di sleuruh dunia, baik di belahan utara bumi maupun di selatan. Umat muslim menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Durasi berpuasa di setiap negara berbeda-beda. Hal itu bergantung dari terbit dan terbenamnya Matahari.
Beberapa negara, terutama di bagian selatan Bumi, menikmati waktu puasa yang lebih singkat. Sementara itu, di negara-negara yang ada di utara, waktu puasa bisa teramat panjang. Selain itu, ada juga yang disebut dengan polar day. Istilah itu merujuk pada keadaan saat Matahari tidak terbenam di ufuk barat. Bahkan, di sejumlah lokasi yang ekstrem, Matahari tak terbenam selama 60 hari. Negara-negara yang mengalami polar day, yakni Kanada, Greenland, Islandia, Finlandia, Norwegia, Rusia, Swedia, dan Amerika Serikat.
Di Finlandia misalnya. Seperti dikutip dari The Sun, tahun lalu, Matahari hanya terbenam hanya 55 menit.
Tak hanya Finlandia, negara-negara yang berada di lingkaran Artik memang menghadapi situasi puasa Ramadan yang menantang. Wilayah seperti di Lapland, Finlandia, dan Swedia bahkan tidak mengalami Matahari terbenam sepanjang musim panas.
Lalu bagaimana para muslim di belahan utara Bumi berpuasa dalam waktu yang teramat panjang?
Mohammed, seorang muslim yang tinggal di bagian utara Finlandia, mengatakan kepada AJ+ bahwa ia dan keluarganya mulai berpuasa pada pukul 01.35 dan baru berbuka puasa pada pukul 12.48. Jadi secara total, ia berpuasa sepanjang 23 jam 5 menit. Banyak kerabatnya di Bangladesh yang tak menyangka ia mampu berpuasa lebih dari 20 jam. Namun, ia mengaku mampu mengatur kegiatan ibadahnya di Ramadan.
Meskpiun Mohammed dan keluarganya mampu berpuasa hingga 23 jam, beberapa muslim lain yang tinggal di negara sekitarnya memilih untuk menerapkan 'jalan tengah'. Mereka berbuka mengikuti waktu Mekah atau negara muslim terdekat, yakni Turki.
Juru bicara asosiasi muslim di Swedia, Mahmoud Khalfi, mengatakan kepada Express bahwa para ahli telah memberikan solusi tentang hal tersebut. Badan Fatwa dan Riset Eropa memberikan 'penyesuaian' waktu berpuasa agar muslim di sana tidak mennjalankan puasa dengan rentang waktu yang amat panjang. Mereka dianjurkan untuk berpuasa mengikuti waktu terbenam Matahari yang proper terakhir kali.
Fatwa lain menyarankan umat muslim yang tinggal di negara dengan waktu berpuasa yang ekstrem untuk menyesuaikan waktu puasa mereka dengan mengikuti waktu negara muslim terdekat.
Kisah lain tentang berpuasa di negeri jauh di utara diceritakan Wassam Azaqeer. Pada 2013 lalu, ia merupakan satu-satunya muslim yang tinggal dan berpuasa di Greenland. Seperti dilaporkan Arab TV, Wassam yang membuka restoran di Nuuk, ibu kota Greenland, mengaku berpuasa dengan penuh ketaatan selama 21 jam.
Di negara yang sebagian besar wilayahnya tertutup es tersebut, Wassam menjalankan bisnis restoran yang cukup sukses. Setiap hari, ia melayani 200 pelanggan di restoran miliknya. Dengan waktu berpuasa yang panjang, ia hanya punya waktu 2 jam untuk berbuka puasa, salat magrib, tarawih, lalu sahur lagi.
Meskipun berat, Wassam mengaku bangga menjadi satu-satunya muslim di negara tersebut. Terkadang ia berpikir untuk kembali ke nagara asalnya, Lebanon, sepanjang Ramadan. "Namun, jika aku ke Lebanon, berati tidak ada yang berdoa dan berpuasa atas nama Allah di negeri ini," ujarnya.(dwi)