MerahPutih.com - Beabadoobee akhirnya merilis album terbaru yang telah lama dinantikan, Pylon. Album ini mendapat berbagai respons positif dan kini tersedia untuk didengarkan melalui layanan streaming maupun dimiliki dalam format digital, CD, dan vinyl melalui Dirty Hit/Interscope Records.
Pylon menjadi kelanjutan dari album Beabadoobee sebelumnya, This Is How Tomorrow Moves, yang berhasil menempati posisi nomor satu di tangga album Inggris.
Namun, Beabadoobee tidak sekadar mengulang formula dari karya sebelumnya. Album terbaru ini justru memperlihatkan eksplorasi yang lebih luas dengan lapisan musik yang semakin kompleks.
Baca juga:
beabadoobee Rilis 'Sun Has Set', Curahkan Emosi yang tak Pernah Terucap
Membawa Beragam Emosi
Pylon bergerak dalam spektrum emosi yang beragam. Kekuatan rock menjadi fondasi utama, tetapi di dalamnya terdapat kemarahan, kesepian, kegembiraan, tekanan, hingga perasaan jatuh cinta yang begitu intens.
Berbagai emosi tersebut hadir dengan cara yang terasa personal dan dekat dengan perjalanan Beabadoobee.
Aku harus menulis lagu-lagu ini saat tur atau di sela-sela tur karena aku perlu memahami apa yang terjadi di kepalaku,
Beabadoobee.
“Ini tentang melepaskan dan menerima perubahan. Saat aku sedang tur, aku merindukan sesuatu, dan hal itu membuatku berpikir: Bagaimana caranya agar aku merasa nyaman? Apa artinya tumbuh dewasa? Aku hanya merindukan keadaan seperti dulu,” imbuhnya
Baca juga:
beabadoobee Rilis Single 'Switchblade', Angkat Pergulatan Batin tentang Keberanian dan Bertahan Diri
Kembali ke Sisi Mentah Beabadoobee
Sejumlah lagu seperti Memories, Switchblade, dan Sun Has Set memperlihatkan sisi Beabadoobee yang lebih mentah.
Pada beberapa bagian, penyanyi tersebut terdengar begitu terbuka dan apa adanya. Pergulatan emosional yang dibawa lagu-lagu tersebut bahkan terasa cukup dekat sehingga pendengar seolah diajak masuk lebih jauh ke dalam pengalaman personal sang musisi.
Nuansa itu kembali mengingatkan pada fase awal karier Laus, ketika ia masih remaja dan menjadikan musik sebagai ruang untuk menuangkan berbagai hal yang ingin disampaikannya kepada dunia.
Menurut Beabadoobee, atmosfer dalam album ini tidak terlepas dari kebiasaannya menulis lagu seorang diri ketika berada di kamar hotel.
Ia mengatakan proses tersebut “sangat mengingatkanku pada cara aku menulis lagu saat berusia 17 tahun, sendirian di kamar tidurku, merasa sedih sekali.”
Dikelilingi Kolaborator yang Dulu Hanya Dibayangkan
Di sisi lain, “Pylon” juga memperlihatkan sejauh mana perjalanan Beabadoobee membawanya bekerja bersama sejumlah musisi yang dahulu mungkin hanya bisa ia bayangkan.
Kini, nama-nama tersebut hadir sebagai rekan kolaborasi dalam album terbarunya. Mereka antara lain Hayley Williams, vokalis Turnstile Brendan Yates, Evan Stephens Hall dari Pinegrove, Chino Moreno dari Deftones, serta Shane Moran dari Title Fight.
Kehadiran para musisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Beabadoobee dalam mengembangkan warna musiknya di Pylon.
Baca juga:
Makna di Balik Lirik Memories, Lagu Favorit Beabadoobee di Album Terbarunya
Menerima Ketidakpastian
Meski membawa banyak pengalaman dan emosi personal, Pylon tidak berusaha memberikan jawaban atas setiap kegelisahan yang muncul di dalamnya.
Justru, ketidakpastian menjadi salah satu bagian penting dari album tersebut.
Beabadoobee seperti telah meninggalkan fase ketika dirinya merasa harus memahami segala sesuatu. Alih-alih terus mencari kepastian, Pylon membuka ruang untuk menerima bahwa perubahan, kebingungan, dan ketidaktahuan merupakan bagian dari perjalanan hidup.
Di tengah emosi yang bergejolak, album ini pada akhirnya menemukan kekuatannya dari keberanian untuk tidak selalu memiliki jawaban.
Pylon menunjukkan bahwa menerima ketidakpastian pun dapat menjadi awal dari sesuatu yang indah. (Far)