Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Kritik Arie Kriting soal FFI: Ketika Film Diapresiasi, Pemainnya Tak Masuk Nominasi

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Oktober 2026

MerahPutih.com - Aktor sekaligus komika Indonesia, Arie Kriting, menyoroti absennya aktris Irma Rihi dari nominasi Festival Film Indonesia (FFI).

Ia mempertanyakan standar penilaian juri setelah Irma tidak masuk nominasi melalui film Women From Rote Island dan Na Willa, meski kedua film tersebut mendapat perhatian di ajang perfilman nasional.

Melalui unggahan di Threads, Arie membahas penampilan Irma dalam kedua film tersebut. Ia menilai ada hal yang perlu dipertanyakan ketika sebuah film mendapat apresiasi dalam sejumlah kategori, tetapi penampilan pemain yang menghidupkan cerita di layar justru tidak memperoleh pengakuan serupa.

Menurut Arie, absennya Irma dari nominasi pemeran melalui Women From Rote Island menjadi salah satu hal yang paling sulit ia pahami. Film tersebut mendapat apresiasi dalam sejumlah kategori utama, termasuk sutradara terbaik, penulisan naskah terbaik, film cerita panjang terbaik, dan pengarah sinematografi terbaik.

“Menurutku paling aneh itu pas Women From Rote Island. Empat elemen utama dapat apresiasi. Sutradara terbaik, penulisan naskah terbaik, film cerita panjang terbaik, pengarah sinematografi terbaik. Yang menghidupkan di layar? Tidak dianggap,” kata dia, dikutip dari unggahannya di Threads, Kamis (15/10).

Baca juga:

Baru Debut, Bernadus Raka Masuk Nominasi Sutradara Terbaik FFI 2026

Arie Kriting Pertanyakan Apresiasi untuk Pemain Women From Rote Island

Arie kemudian mempertanyakan bagaimana seorang pemain yang menerjemahkan arahan sutradara dan menyampaikan naskah dengan baik justru tidak masuk nominasi.

“Secara keseluruhan bisa membawa film itu dipahami oleh penontonnya, sehingga diapresiasi sebagai film terbaik. Tapi kok bisa manusia yang menyampaikan kisah dan perasaannya tidak dilirik,” kata dia.

Bagi Arie, situasi tersebut menghadirkan ironi karena Women From Rote Island mengangkat persoalan suara perempuan di Indonesia Timur yang kerap tidak didengar.

Ia menilai ada pertentangan ketika isu mengenai suara perempuan yang terpinggirkan diangkat melalui sebuah film, tetapi kehadiran perempuan yang membawakan kisah tersebut justru tidak memperoleh pengakuan yang menurutnya layak.

Absurd sekali melihat isu yang berangkat dari fakta bahwa suara perempuan timur tidak dianggap, lalu di saat yang sama juga meminggirkan suara dan kehadiran perempuan itu sendiri. Terkesan seperti isu dan tempatnya dipakai tapi manusianya dibuang begitu saja,

Arie Kriting.

Irma Rihi Kembali Tak Masuk Nominasi Lewat Na Willa

Arie mengaku sempat menganggap absennya Irma dari nominasi Women From Rote Island sebagai kemungkinan kebetulan. Ia bahkan sempat berpikir bahwa penampilan Irma dalam film tersebut mungkin hanya kebetulan bagus.

Namun, penampilan Irma dalam Na Willa kembali memunculkan pertanyaan serupa. Arie menilai aktris tersebut menunjukkan konsistensi dalam berakting, tetapi kembali tidak masuk nominasi FFI.

“Irma Rihi kemudian menunjukkan konsistensi di film Na Willa. Buatku sih tidak mudah bisa bermain dengan porsi segitu di level tersebut. Menurutku begitu, tapi ternyata tidak menurut para juri FFI. Akhirnya Irma Rihi dikesampingkan lagi,” katanya.

Arie juga menyinggung penampilan pemeran Na Willa yang mendapat apresiasi. Menurutnya, keberhasilan seorang aktor cilik dalam membangun karakter di layar juga dapat dipengaruhi oleh dukungan dan interaksi dengan pemain lain.

“Yang jadi Na Willa mainnya bagus sekali dan dapat apresiasi. Tapi kan bisa jadi itu termasuk ada andil dan support dari karakter Mak yang dibawakan Irma Rihi juga. Kurang support apa lagi itu sampai bisa bangun chemistry yang membawa seorang anak menjadi nomine termuda,” kata dia.

Baca juga:

Daftar Lengkap Nominasi Piala Citra FFI 2026, dari Film hingga Skenario Terbaik

Arie Pertanyakan Standar Penilaian Juri FFI

Melalui unggahannya, Arie mempertanyakan kriteria yang digunakan juri FFI dalam menilai penampilan para pemain. Ia ingin memahami alasan dua penampilan Irma dalam film Indonesia tersebut belum cukup untuk membawanya masuk nominasi.

“Apa ya yang menjadi standar dan kriteria penilaian yang bikin dua kali kehadiran Irma Rihi di film Indonesia ini tidak dianggap cukup dibanding permainan pemeran lainnya,” kata dia.

Arie juga mengungkapkan dugaan bahwa latar belakang seorang aktris dapat memengaruhi besarnya perhatian yang diterima. Ia membayangkan kemungkinan respons publik dan industri perfilman apabila pemeran utama Women From Rote Island berasal dari ibu kota.

Meskipun sempat terpikir di benakku, mungkin ceritanya akan berbeda kalau pemeran utama di film Women From Rote Island itu aktris dari Ibukota. Sepertinya dia akan bermandi puja puji dan penghargaan sana-sini,

Arie Kriting.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kegelisahan Arie mengenai apresiasi terhadap aktris dari Indonesia Timur. Meski demikian, kritik yang disampaikannya merupakan pandangan pribadi terhadap proses penilaian dan pengakuan di ajang perfilman nasional.

Arie menutup unggahannya dengan nada reflektif. Ia menyebut pernyataannya sebagai suara dari kelompok minoritas yang ingin menyampaikan keresahan, meski merasa terbiasa berada di pinggir perhatian.

“Tapi ya ini kita cerita-cerita saja. Suara-suara minor yang diperdengarkan. Sudah terbiasa juga dipinggirkan. Sekadar menyampaikan gelisah saja. Hormat,” tutupnya. (Tka)

Baca Artikel Asli