MERAHPUTIH.COM - SETELAH melewati perjalanan selama lima tahun, Temarram akhirnya membuka babak baru lewat album penuh perdana, Antara Angkara, yang dirilis pada 11 September 2026.
Bagi unit synthwave/darkwave/post-punk yang diperkuat Regga Prakarso (gitar dan programmed synthesizer), Sherina Redjo (vokal), serta Tanthowi (bass) ini, album tersebut bukan sekadar kelanjutan dari dua EP yang telah mereka lewati, melainkan penanda perubahan cara mereka mengenali dan mengeksplorasi identitas musikal Temarram.
Perjalanan menuju Antara Angkara sebenarnya tidak diawali dengan sebuah keputusan besar bahwa album harus lahir pada tahun tertentu. Setelah merilis dua EP, gagasan untuk membuat album penuh muncul secara perlahan sebagai langkah berikutnya.
Regga menjelaskan keputusan tersebut lebih terasa seperti dorongan untuk membawa Temarram memasuki proses yang lebih dalam.
“Terasa tepat rasanya bukan suatu yang sangat ‘Ini saat yang tepat atau kita harus keluarin tahun ini!’ mungkin lebih ke ‘next, album kali yaa’,” ujarnya.
Baca juga:
“TIAMUT”, Wujud Eksplorasi Baru Temaram Setelah Hampir Satu Dekade
Dari gagasan sederhana tersebut, proses kreatif Temarram kemudian berkembang menjadi lebih serius. Mereka mulai memberikan ruang yang lebih luas untuk eksplorasi, baik dalam musik maupun proses pengerjaannya.
“Dari situ membuat kita jadi ingin melakukan atau membuat sesuatu yang lebih dalam lagi, terbentuklah proses-proses yang mungkin dibilang sedikit agak serius, lebih eksplor dan jadi lebih pengen ini-itunya,” lanjut Regga.
Bagi Owi, album penuh ini bahkan dipandang sebagai pelengkap dari satu periode perjalanan Temarram. Ia menyebut Antara Angkara sebagai 'fase 1' dari proses pendekatan dan eksplorasi yang telah mereka jalani sejak awal terbentuk.
Pandangan tersebut sejalan dengan Sherina. Menurutnya, dua EP sebelumnya memberikan Temarram kesempatan untuk mengenali karakter mereka sendiri sebelum akhirnya berani mengambil langkah lebih jauh.
“Album ini terasa seperti titik saat kami sudah cukup mengenal Temarram untuk kemudian berani mengeksplorasi lebih jauh,” kata Sherina.
Setelah dua EP, mereka mulai memiliki gambaran mengenai arah yang ingin dibawa. Namun, proses tersebut justru membuka lebih banyak kemungkinan baru. Karena itu, Antara Angkara bagi Sherina bukan semata-mata tentang pencapaian membuat album penuh, melainkan menjadi dokumentasi dari proses pertumbuhan Temarram.
“Jadi Antara Angkara bukan cuma soal ‘akhirnya bikin album’, melainkan lebih seperti dokumentasi dari proses kami bertumbuh dan menemukan bentuk Temarram yang baru,” ujarnya.
Baca juga:
Temarram Menyusuri Keruntuhan Diri dalam Album Debut 'Antara Angkara'
Menemukan Ruang di 'Antara Angkara'
Secara tematik, Antara Angkara membawa pendengar ke ruang yang penuh keruntuhan, kemurkaan, kehilangan, harapan, hingga penyesalan. Album yang berisi delapan lagu ini menggambarkan manusia ketika berhadapan dengan serpihan kehidupan dan berbagai bentuk kehancuran yang menyertainya.
Konsep tersebut tecermin dari pemilihan judul Antara Angkara. Bagi Owi, kata 'angkara' berkaitan dengan kemurkaan dan kehancuran hidup. Namun, kata 'antara' menjadi bagian penting karena Temarram tidak ingin menempatkan album ini pada satu bentuk kehancuran tertentu.
“Angkara di sini sebenarnya tentang kemurkaan dan kehancuran hidup. Kata ‘antara’ di sini sebenarnya jadi penting dan kesatuan, karena kami menempatkan diri bukan di satu kehancuran/kemurkaan tertentu,” jelas Owi.
Alih-alih menunjuk satu sumber kehancuran, Temarram menjadikan Antara Angkara sebagai sebuah ruang. Tempat manusia berhenti sejenak, bersimpuh, dan melihat kembali berbagai kemurkaan yang hadir dalam kehidupan.
“Antara Angkara seakan ruang tempat kita bersimpuh dan meratapi kemurkaan-kemurkaan hidup,” lanjutnya.
Bagi Sherina, makna 'angkara' juga dapat ditarik lebih dekat ke sisi manusia. Angkara tidak selalu harus hadir dalam bentuk kehancuran besar di luar diri, tetapi dapat muncul dari sesuatu yang sangat personal, seperti ego, keinginan, maupun amarah. "Kalau buat aku, ‘angkara’ lebih menarik ketika dilihat bukan hanya sebagai sesuatu yang destruktif, melainkan sebagai sesuatu yang bisa muncul dari dalam diri manusia,” tuturnya.
Pemaknaan tersebut kemudian membuat album ini tidak hanya berbicara mengenai kehancuran, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berhadapan dengan sisi-sisi dirinya sendiri. Ada proses mengenali, menerima, sekaligus meratapi hal-hal yang mungkin selama ini tidak disadari.
Eksplorasi yang Membuka Kemungkinan
Salah satu hal yang membuat Antara Angkara berkembang lebih jauh yakni keputusan Temarram untuk melibatkan sejumlah musisi lain. Album ini mempertemukan karakter Temarram dengan perspektif dari Gerry Lainil Fauzi, Otong Koil, dan Pandu Fuzztoni.
Pemilihan mereka bukan semata berdasarkan nama, melainkan kebutuhan musikal yang muncul selama proses pengerjaan.
Regga menjelaskan setiap kolaborator dipilih berdasarkan kecocokan dengan musik dan lirik yang sudah mereka bangun. “Pemilihan ini sebenarnya lebih ke penyesuaian terhadap musik dan lirik yang kita bikin, maupun tambahan perspektif kreatif untuk memperluwes eksplorasi,” jelas Regga.
Salah satu contohnya terjadi dalam proses pengerjaan Aksioma. Ketika menjalani workshop, Pandu Fuzztoni sempat memberikan referensi Fontaines D.C. kepada mereka. Referensi tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk menghadirkan bagian vokal yang dinyanyikan dengan lebih lantang, penuh amarah, dan cepat mengikuti karakter lirik.
Dari sana, muncul bayangan Gerry sebagai sosok yang tepat untuk mengisi bagian tersebut.
Sementara itu, keterlibatan Otong Koil dalam Afeksi dan Mati lahir dari kebutuhan yang berbeda. Temarram merasa lagu tersebut membutuhkan vokal laki-laki dengan karakter mencekam yang dapat berdampingan dengan vokal Sherina.
“Kita merasa perlu ada vokal laki-laki yang mencekam yang dampingi vokal Sherina, terus iseng aja kepikiran Otong berdasarkan vokal mencekam penuh layer dia di lagu-lagu Koil,” kata Regga.
Kolaborasi dengan Pandu kemudian kembali muncul dalam Pengakhiran Permulaan. Kali ini, Temarram membutuhkan tambahan kebisingan sebagai klimaks di bagian akhir lagu. Setelah mencoba beberapa pilihan, Pandu akhirnya memberikan kontribusi secara langsung.
“Di detik-detik akhir Pandu coba tambahin sendiri pakai gitarnya dan akhirnya sesuai dari yang kita mau,” ujar Regga.
Ketiga kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana proses kreatif Antara Angkara tidak berhenti pada gagasan yang telah dimiliki Temarram sejak awal. Kehadiran perspektif dari luar justru menjadi bagian dari cara mereka memperluas kemungkinan suara album.
'Afeksi dan Mati' sebagai Representasi
Dari delapan lagu yang terdapat di Antara Angkara, Afeksi dan Mati menjadi salah satu karya yang dianggap paling mewakili identitas album. Pilihan tersebut muncul karena lagu ini dinilai mampu mempertemukan tiga elemen penting yang ingin dihadirkan Temarram: musik, tema, dan narasi. “Afeksi dan Mati karena secara musik, tema, dan narasi cukup mewakili apa yang ingin Temarram hadirkan di album ini,” kata Owi.
Pada akhirnya, Antara Angkara menjadi dokumentasi dari satu fase perjalanan Temarram. Lima tahun setelah berdiri dan melewati dua EP, mereka tidak buru-buru menjadikan album penuh sebagai sebuah pencapaian yang harus segera diraih. Album ini justru lahir ketika mereka merasa telah cukup mengenali fondasi Temarram dan siap membongkarnya kembali.
Setelah dibuka lewat Pusara pada 2025, perjalanan menuju Antara Angkara akhirnya menemukan bentuknya pada delapan lagu yang berbicara tentang kehancuran, kehidupan, ketiadaan, harapan, dan penyesalan. Namun, seperti makna antara yang menjadi bagian penting dari judulnya, Temarram tampaknya tidak sedang menawarkan satu kesimpulan.
Mereka justru mengajak pendengar untuk berada di ruang yang sama—di antara kemurkaan, keruntuhan, dan kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang baru setelah semuanya runtuh.(Far)
Baca juga:
Charlie Lim Bawa Album 'DAYDREAM' ke Jakarta, Gelar Listening Party Eksklusif 29 Oktober 2026