Kulat Pelawan, Berlian Dapur dari Bangka

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 20 November 2019
Kulat Pelawan, Berlian Dapur dari Bangka

Jamur pelawan yang bernilai tinggi. (foto: belitong island geopark)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ILMU kuliner Prancis amat menghargai jamur truffle. Bahkan saking tingginya nilai truffle, ahli kuliner menyebutnya sebagai berlian dapur. Namun, enggak cuma Prancis yang punya jamur bernilai tinggi, Indonesia juga punya 'berlian dapur'. Namanya jamur pelawan.

Jamur pelawan berasal dari Bangka. Jamur ini biasanya tumbuh di sekitar pohon pelawan. Dari sanalah namanya berasal. Penduduk asli Bangka menyebutnya sebagai kulat pelawan. Dalam bahasa Bangka, kulat berarti jamur.

BACA JUGA: Yuk, Kenalan dengan Andaliman, si Jeruk Pedas Khas Batak

Bagaimana jamur ini bernilai tinggi ya?

Dalam setahun, kulat pelawan hanya tumbuh dua kali dan hanya bisa tumbuh dalam kondisi khusus. Untuk menumbuhkan jamur pelawan, harus ada musim kemarau selama 3 bulan dan hujan selama seminggu. Yang unik, masyarakat percaya bahwa perlu ada petir agar jamur pelawan bisa tumbuh. Unsur pada petir yang turun bersama hujan kabarnya bisa membuat kulat pelawan muncul pada pohon-pohon di hutan Bangka.

kulat pelawan
Jamur pelawan dijual dalam keadaan kering agar tahan lama. (foto: Instagram @tina_komara)

Tidak mengherankan jika harga kulat pelawan amatlah mahal. Saat ini, sekilo kulat pelawan dihargai Rp 2 juta-Rp 3 juta. Wow!

Dalam kondisi segar, kulat pelawan berwarna merah muda dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Jamur ini punya tekstur kenyal, dengan aroma khas tanpa bau langu yang biasa dimiliki jamur lain.

Sayangnya, jamur pelawan tidak tahan lama. Setelah dipanen, jamur hanya mampu bertahan tiga hari. Itulah sebabnya, kulat pelawan selalu dijual dalam kondisi sudah dikeringkan.

kulat pelawan
Kulat pelawan dimasak jadi hidangan gulai yang disajikan saat Imlek. (foto: Instagram @jessiadri1207)

Masyarakat Bangka mengeringkan jamur pelawan selama 15 jam. Setelah itu, barulah jamur diolah. Untuk mengonsumsinya, jamur yang sudah kering direndam dalam air selama 12 jam. Setelah itu, batang jamur yang kecil haruslah dibilas untuk menghilangkan pasir yang terdapat di dalamnya.

Masyarakat Bangka biasa mengolah jamur pelawan menjadi gulai ayam atau udang. Gulai dibuat kental seperti kari dan dihidangkan pada acara-acara besar, seperti pernikahan atau Hari Raya Imlek.(*)

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan